AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Manzilah Berlari [by Dr Kholid Al-Walid]

image

Pembahasan sekarang adalah Manzilah Al-Firar (Berlari). Allah Ta’ala berfirman: “Berlarilah kamu menuju Allah” (QS 51:50). Berlari adalah berpindah dengan cepat dari sesuatu yang nisbi menuju Yang Abadi. Manzilah Berlari ini adalah mengangkat kesadaran dari kesadaran pada tingkat makhluk yang bersifat nisbi menuju al-Haqq yang bersifat hakiki dan Abadi. 

Manzilah Berlari yang pertama adalah Berlari dari kebodohan menuju pengetahuan dalam keyakinan dan tindakan. Dari kemalasan kepada kesungguhan dalam tekad dan upaya menghindarkan diri (dari keburukan). Dari kesempitan menuju keluasan jiwa dalam keteguhan dan harapan. Yaitu upaya meninggalkan mengikuti tindakan kebodohan dan orang-orang bodoh dengan mengikuti ulama yang betul-betul.memiliki pengetahuan Zahir dan Bathin serta memiliki kesesuaian antara ilmu mereka dengan perilaku mereka. Antara ilmu dan akhlaknya berada dalam kemuliaan. Mengikuti Ulama yang telah lepas dari kelalaian, kemewahan duniawi dan kemalasan beribadah. Dan mencontoh mereka dan dalam kesungguhan mereka. Berusaha melepaskan diri dari sempitnya dada karena persoalan kehidupan duniawi yg dihadapi dengan kelapangan dada karena prasangka baik kepada Allah SWT dan keteguhan keyakinan kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman: “Barangsiapa bertakwa Kami berikan baginya jalan keluar dan rezeki dari tempat yang tidak di duga-duga” (QS 65:2-3). 

Manzilah kedua adalah Berlari dari al-Khabar menuju Penyaksian Ruhaniah, dari Kebiasaan menuju Prinsip, dari Keterliputan diri menuju Keterlepasan. Yaitu seorang Salik berusaha untuk naik ke tingkat kesadaran qalbiyyah yang lebih tinggi dari sekedar berita dan pengetahuan tentang alam ghaib yang selama ini didapat melalui nash menuju penyaksian ruhaniah langsung atas Tajaliyyat Ilahiah yang terjadi dan menerima bisikan ruhaniah yang masuk kepada dirinya. Salik juga berusaha dari sekedar taat berdasar ketentuan syariah terhadap hukum, ilmu dan amal meningkat pada hakikat kesadaran Bathin dan makna dari setiap ketentuan syariat. Ibn Abbas menafsirkan, “Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah” (QS 51:56) maksud dari beribadah adalah Mengenal. Pada hadis Qudsi Allah SWT berfirman: "Aku adalah permata yang tersembunyi dan Aku mencintai untuk dikenal maka Aku ciptakan makhluk dan Aku limpahi mereka dengan kenikmatan hingga mereka mengenal-Ku." Tidaklah amal dan ibadah diterima kecuali dilakukan berkesesuaian dengan Tajalli ilahi. Kemudian Berlari dari keburukan dan keterliputan diri dari kesadaran terhadap hakikat Ilahi dari pengetahuan dan Ma'rifat diri tentang-Nya menuju Ma'rifat diri-Nya menurut-Nya. Yaitu melepaskan kesadaran diri dari diri Salik kesadaran Ilahi. Inilah manzilah Berlari pada tingkat Khusus. 

Manzilah ketiga (Sangat Khusus) dari Berlari adalah Berlari dari selain al-Haqq menuju al-Haqq, dari Penyaksian berlari menuju al-Haqq kemudian dari berlari dari berlari menuju al-Haqq. Manzilah ini tentu untuk Salik yang sudah sampai pada tingkat Khas al-Khas, sebagian menyebutkan sudah berada pada tingkat Hakikat. Berlari dalam Manzilah ini adalah melepaskan kesadaran kepada selain al-Haqq termasuk tajalli-Nya. Bagi Zulaikha ketika sudah mengenal kekasih hakikinya maka Yusuf tdk lebih dari bayang-bayang-Nya. Segala penyaksian yang selama ini terjadi bukanlah Dia dan Salik berusaha untuk tidak berhenti atas segala keindahan yang ia saksikan. Atthar menggambarkan betapa banyak burung-burung tak sampai pada Simurgh sang burung hakiki karena terpesona oleh pesona lembah yang mereka lintasi. Seluruhnya bukanlah dia dan harus ditinggalkan seindah apapun selain-Nya. Puncaknya berlari adalah berlari dari kesadaran tentang keadaan dirinya yang sedang berlari. Selama masih ada kesadaran bahwa dirinya sedang berlari menunuju-Nya maka dia tidak akan pernah sampai kepada-Nya. Karena masih dualitas yang terjadi dan dia tidak akan pernah sadar tentang Dia. Seperti orang yang tidur tidak akan pernah tidur ketika dia masih sadar bahwa dirinya sedang tidur.[] 

Dr Kholid Al-Walid adalah dosen STFI Sadra


Sun, 28 Jan 2018 @11:04

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved