AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Manazil al-Sairin: Manzilah Pelatihan Diri (Riyadhah)

image

"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut..."(QS 23:60). Syaikh menggunakan ayat ini sebagai dasar bahwa upaya yang dilakukan seorang Salik dan ketaatan yang dilakukan didasarkan pada rasa takut dan khawatir bahwa seluruh amal dan ketaatannya tidak akan diterima Allah SWT. Bahwa kekhawatiran dan ketakutan ini untuk sampai pada kebenaran atau Yaqin. Bahwa kebenaran adalah kondisi dimana apa yang dilakukan sesuai dengan apa yang diinginkan Allah SWT. Salik berusaha melatih dirinya untuk terlepas dari keraguan sehingga terhasilkan padanya prasangka yang baik kepada Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah SWT: "Dan Dia yang menerima taubat dari hamba-Nya dan memberikan maaf atas keburukan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan dan menerima orang-orang yang beriman dan beramal Shaleh dan menambahkan kebaikan bagi mereka dengan kemuliaan-Nya" (QS 42: 25-26).

Pelatihan Diri adalah upaya melatih diri hingga dapat menerima kebenaran. Yaitu Salik melatih dirinya baik pada tingkat niat, amal dan ketaatannya untuk semata dilakukan karena Allah dan menjauhkan diri atas hal-hal yang mengganggu upayanya. Ada tiga manzilah pada pelatihan diri:

Manzilah pertama untuk Awwam, yaitu mendidik perilaku dengan ilmu, membersihkan amal dengan keikhlasan dan memenuhi hak orang lain dalam hubungan dengan mereka. Yaitu mengatur perilaku untuk berkesesuaian dengan perintah dan keinginan Allah SWT melalui ilmu terhadap ketentuan Syariah dan Akhlak. Membersihkan perbuatannya dari sifat riya' kemunafikan, ujub, ambisi kekuasaan, dan menyembunyikan ketaatannya dari pandangan manusia. Memenuhi hak-hak orang yang berhubungan dengannya sehingga tidak tersisa tuntutan atas dirinya dari seorang pun kepadanya. Baik dalam hutang-piutang maupun dendam atas perbuatan buruknya kepada mereka.

Manzilah kedua dari Pelatihan Diri, yaitu pada tingkat Khusus adalah menjaga keterpilihan, memutuskan keterikatan dengan kedudukan yang ada pada dirinya dan Membiarkan ilmu berada pada tempatnya. Bahwa seorang Salik pada tingkat ini harus menjaga dirinya terpisah dari beragam kebersamaan dan keterikatan secara material kepada apa pun selain dari Allah. Menjaga hati tetap terpisah dari apa pun disekitarnya sekalipun terhadap orang yang selama ini dicintainya. Tidak menjadikan kedudukan ruhaniah yang didapatnya sebagai hal yang menyita perhatiannya karena hal tersebut akan merusak hati dan pikirannya. Sehingga akhirnya akan memalingkan hatinya kepada Allah. Menjaga ilmu tetap pada tempatnya sebagai hal yang rahasia antara dirinya dengan Allah SWT dan tidak menyampaikan apa yang dia ketahui secara ruhaniah kepada hamba yang lain. Menceritakan rahasia adalah sikap tidak sopan kepada Allah SWT. Menjaga rahasia yang dimilikinya tetap sebagai rahasia. Imam Ali as berkata: "Penutup tidak diperlukan dalam keterjagaan rahasia."

Manzilah ketiga adalah Pelatihan Diri yang paling khusus. Pelepasan diri dari Penyaksian ruhaniah, naik pada tingkat penyatuan (al-Jam'), menolak hal yang bertentangan dan memutuskan prngganti-Nya. Yang dimaksud Syaikh pada tingkat ini yaitu pelepasan diri Salik dari kesadaran yang plural menuju yang Tunggal, dari Katsrah menuju Wahdah. Karena pluralitas hanyalah bayang-Nya semata; sedangkan Dia tetap dalam.ketunggalan-Nya. Pluralitas baik dalam Nama, Sifat karena semua itu tidak lain hanya Tajjali-Nya semata dan bukan Zat-Nya. Sehingga Salik Fana' dalam Zat-Nya dan bersama dengan-Nya dalam ketunggalan (al-Jam'). Melepaskan dari yang bertentangan adalah naik melewati nama-nama-Nya yang berpasang-pasangan. Seperti al-Mun'im dan al-Muntaqim, al-Qabd dan al-Basth, dan lainnya. Memutuskan pengganti-Nya sekali pun merupakan gambaran tentang Dia, tapi bukanlah Dia. "Segala sesuatu sirna kecuali wajah-Nya" (QS 28:88) segala sesuatu fana' ketika memandang dan berhadapan dengan wajah-Nya, tetapi wajah-Nya bukanlah Zat-Nya. Kondisi ini adalah tingkat paling khusus yang terjadi pada Salik bukan atas usahanya akan tetapi ketika al-Haqq mengambil alih dirinya dan kesadarannya.[]

Dr Kholid Al-Walid adalah Dosen STFI Sadra, Jakarta

 

Fri, 2 Feb 2018 @11:20

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved