AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Manazil al-Sairin: Manzilah Mendengar

image

Manzilah ke-10 dari Manzilah Bidayat dalam kitab Manazil al-Sairin, yaitu manzilah mendengar (al-sima’). “Sekiranya Allah mengetahui pada mereka ada kebaikan niscaya Allah jadikan mereka mendengar” (QS 8:23).

Mendengar adalah pintu dari hakikat kesadaran. Sekiranya seorang hamba mau mendengarkan seruan kebaikan kepadanya maka dia akan dapat merubah keadaannya menjadi lebih baik. Mendengar bagi tingkatan umum, menjawab panggilan dengan ketaatan. Menjawab panggilan dengan kesungguhan dan sampainya penyaksian pada cahaya mata Bathin. Bahwa Salik melakukan perintah dan larangan dari Allah SWT bukan karena takutnya akan azab yang akan diterima, tapi karena pengetahuannya tentang keharusan dan mentaati Allah SWT.

Setiap ibadah dan amal yang dilakukan dengan seluruh kesungguhan dirinya dan kehadiran hatinya. Ia melepaskan seluruh hal yang mengganggu dirinya kecuali semata menjawab panggilan ilahi. Hingga sampai penyaksian bahwa segala sesuatu yang terjadi baik kenikmatan, penderitaan, kesulitan, kesusahan semua semata kebaikan dari Allah SWT.

Pada tingkat Khusus ada tiga tingkatan. Penyaksian tujuan melalui setiap rumus, Berdiam pada tujuan melalui setiap bisikan dan melepaskan setiap kenikmatan melalui keterpisahan. Menyaksikan setiap isyarat yang membimbing menuju al-Haqq melalui rumus-rumus yang tersembunyi baik melalui pendengarannya atau apa yang disaksikannya. Bahwa menyadari bahwa al-Haqq tujuan dari setiap maksud dan akhir dari apa yang ingin dicapai setiap pejalan. Hendaknyalah berhenti untuk mendengarkan setiap kelembutan dan kehalusan pesan yang disampaikan kepadanya. Bahwa dengan keterpisahan segala sesuatu akan sampai pada maqam penyatuan (al-Jam') yang tidak ada keterpisahan padanya. Karena pada al-Jam' apa yang didengarkannya berasal dari al-Haqq pada al-Haqq bersama al-Haqq. Penyaksian meninggalkan segala sesuatu yang menjadi penghalang. Tidak ada padaku maupun bagi dua alam semesta kecuali Pencipta semuanya.

Pendengaaran yang paling khusus, yaitu membersihkan sebab dari penyaksian, meninggalkan keabadian menuju ketidak bermulaan (azali) dan melepaskan akhir kembali ke awal. Bahwa yang dimaksud pada tingkat ini adalah meninggalkan seluruh sebab yang mengantarkan Salik pada fana fi al-Haqq. Segala yang mengantarkan baik dalil aqliyah atau tanda semuanya sirna sehingga sempurna penyaksian. Dengan tampilnya al-Haqq sirna selain-Nya. Ketika tersingkap hijab kegelapan maka keabadian adalah ketakbermulaan, akhir adalah awal. Dialah Awal Dialah Akhir, Dialah Zhahir Dialah Yang Bathin.[]

Dr Kholid Al-Walid adalah Dosen STFI Sadra, Jakarta

Fri, 2 Feb 2018 @11:38

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved