CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Manazil al-Sairin, Manzilah Harapan

image

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah (QS 33:21). Syaikh menyandarkan Manzilah Harapan pada ayat ini menunjukkan bahwa melalui Rasulullah Saw seorang mukmin dapat berharap kepada Allah SWT. Selanjutnya Syaikh menyatakan:

Manzilah Harapan adalah Manzilah terlemah bagi Murid karena padanya ada pertentangan dan ada penentangan. Mengapa Manzilah Harapan di anggap Manzilah paling lemah bagi seorang Murid? Karena seakan padanya ada ketidak ridhoan terhadap apa yang ditetapkan al-Haqq pada dirinya. Di satu sisi ada pertentangan karena al-Haqq adalah penguasa mutlak yang berhak melakukan apapun padanya, jika dirinya menyadari hal ini maka tidak layak baginya untuk menginginkan agar al-Haqq berlaku sesuai keinginannya. Dan penentangan karena seakan dia menginginkan hal lain dari yang ditetapkan al-Haqq atas dirinya.

Harapan adalah diamnya Salik pada dorongan keinginan yang ada pada dirinya. Padanya hanya terdapat satu manfaat, yaitu berbicara dengan yang atas nama Wahyu yang diturunkan (al-Tanzil), Sunnah dan memasukkannya pada jalan pencari kebenaran. Bahwa Harapan adalah keinginan akan kenikmatan, kelezatan dan keterlepasan dari kesulitan padahal hal ini bertentangan dengan upaya Salik melepaskan diri dari dorongan dirinya. Namun demikian manfaat yang ada pada Harapan adalah kesesuaian dengan apa yang Al-Haqq beritakan pada kitabnya dan juga yang disampaikan Nabi-Nya. Manfaat mendasar dari Harapan adalah mendinginkan panasnya ketakutan dan rasa putus asa dengan adanya harapan. Berbahayanya harapan sekiranya melebihi batasnya dia akan menimbulkan rasa aman sebelum waktunya dan ini berbahaya karena al-Quran menyatakan: "Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi" (QS 7:99).

Dalam manzilah harapan, ada tiga manzilah. Manzilah Pertama yaitu Menumbuhkan kesungguhan dalam melakukan amal kebaikan, menerbitkan rasa nikmat dalam pelayanan, menghidupkan tabiat yang baik dan kemampuan meninggalkan hal yang dilarang. Pada Manzilah yang pertama ini harapan merupakan hal yang akan berefek  tumbuhnya keinginan untuk mencapai kedudukan mulia sehingga muncuk usaha yang sungguh-sungguh pada diri Salik untuk melakukan beragam kebaikan, baik dalam ibadah maupun muamalah.

Dari hal ini kemudian muncul rasa nikmat dalam melakukan kebaikan tersebut karena membayangkan hasil yang akan didapat dari tindakan kebaikan yang dia lakukan. Sehingga perbuatan baik tersebut pada akhirnya menjadi tabiat alamiah pada diri Salik dan kemudian mudah baginya untuk menghindar dari maksiat.

Manzilah Kedua yaitu Merupakan Harapan para pelaku pelatihan jiwa (Arbab al-Riyadhah) yang telah sampai pada Maqom, padanya tersifati dorongan yang kuat melepaskan kenikmatan, keharusan pemilikan pengetahuan dan terjauhkan dari batas-batas keterpisahan. Yang dimaksud Syaikh pada Manzilah Harapan untuk para pelaku Riyadhah adalah keinginan untuk melakukan perjalanan ruhaniah yang jauh dan mereka telah meninggalkan daya tarik dan kelezatan duniawi. Sekali pun mereka melepaskan kehidupan duniawi namun mereka mengetahui seluruh ketentuan syariat dan menjaganya dengan ketat yang dengan itu semua karena perpaduan antara keinginan melakukan perjalanan ruhaniah yang jauh, keketatan dalam meninggalkan kelezatan duniawi dan ketaatan pada ketentuan syariat akan menjaga dirinya dari hal-hal yang menjerumuskan dirinya terpisah dari Maqom Kebersamaan (al-Jam').

Manzilah Ketiga yaitu Merupakan Manzilah Pemilik Hati (al-Arbab al-Qulub) yang memiliki Harapan Perjumpaan dengan al-Haqq, bersumber dari kerinduan kebersatuan (al-Isytiyaq), kekecewaan mendalam dan keterlepasan ikatan dengan makhluk. Karena telah terlepas dari upaya mengatasi beragam keburukan sifati maka cahaya hatinya mulai memancar bersinar Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang menjaga keikhlasan selama empat puluh hari akan memancar hikmah melalui hati menuju lisannya". Ketika sampai kedudukan ini mereka menjadi pemilik hati (Arbab al-Qulub). Harapan yang muncul tidak lain adalah perjumpaan dengan kekasih. Kerinduannya bukan hanya sekedar berjumpa (al-Syauq) akan tetapi penyatuan mutlak (al-Isytiyaq). Hatinya dipenuhi gelora yang merona, deritanya bukanlah kehilangan kelezatan dan kenikmatan dunia tapi deritanya adalah menanggung kerinduan yang menyayat hatinya. Keindahan matanya memandang setiap bentuk Tajjali al-Haqq. Bukan sekadar harapan untuk memiliki tetapi yang ada adalah harapan untuk bersatu 'Fana Fillah. Tak ada lagi yang dapat menentramkan hatinya dan tak ada yang mampu menghilangkan dahaganya sehingga semua selain-Nya hanyalah perangkat kekecewaan. Hatinya sudah dimiliki sehingga tak ada lagi ruang baginya untuk diisi oleh malhluk-Nya. "Tidaklah Allah jadikan dua hati pada satu rongga dada" (QS 33:4).[] 

Dr Kholid Al-Walid adalah Dosen Filsafat STFI Sadra Jakarta

Tue, 6 Mar 2018 @13:10

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved