Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Orang Islam yang Bekerja di Bidang Seni & Berperan sebagai Nabi dan Para Imam dalam Teater

image

Soal: Dalam keadaan apa media (televisi, stasiun radio, dan bioskop) dinilai sah atau tidak sah dalam ajaran Islam?

Jawab: Penerapan media yang bervariasi sesuai dengan kondisi. Apabila bermanfaat bagi Islam dan objektif serta meningkatkan kemanusiaan, memperluas pengetahuan, meningkatkan moral, maka tentu tidak hanya dinilai sah, tetapi juga dinilai sebagai suatu keharusan. Namun, bila media tersebut segala jenis keasusilaan dan aktivitas yang jangak (mengandung unsur cabul) yang mengotori ruh manusia, merendahkan kemanusiaan, memfasilitasi maksud para tiran dan para penindas serta menyokong arogansi internasional, maka secara otomatis diharamkan. Sungguh tidak ada penolakan absolut pada media-media semacam itu dalam Islam. Tidak ada juga penerimaan absolut. Sarana-sarana tersebut harus memiliki fungsi dan aplikasi yang sesuai dengan Islam. ***

Soal: Apakah seorang mukmin boleh bekerja di bidang seni yang terkenal dengan kehingar-bingarannya, tetapi moral dan nilai-nilai keagamaannya tidak terpengaruh?

Jawab: Ada dua hal (yang perlu diperhatikan) dalam hal ini. Yang pertama bergantung pada orang itu sendiri dan kemampuannya dalam mengatasi godaan. Orang ini harus benar-benar mengetahui dirinya sendiri, apabila pekerjaan ini akan berpengaruh secara negatif pada nilai-nilainya dan menyebabkan dia tersesat maka diharamkan. Hal yang lain berkaitan dengan perannya yang dia jalankan, baik dalam film atau dalam sandiwara. Kalau peran ini menguntungkan pada keislaman maka tidak ada masalah. Namun, kalau mendukung kebiasaan dan nafsu yang tidak bermoral yang tidak sesuai dengan keislaman secara fisik, spiritual, dan realistis maka diharamkan. ***

Soal: Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, apakah saya memiliki hak memainkan peran dalam sebuah sandiwara yang tidak sesuai dengan ajaran Islam?

Jawab: Apabila perannya menunjukan citra Islam yang sebenarnya dan berfungsi sebagai pelengkap peranan yang Islami, misalnya peran Abu Lahab (paman Nabi, salah seorang pemimpin kaum kafir) dalam memerangi Islam, maka tidak masalah. Apabila peran ini mendukung kaum kufur dan mengkonsolidasikan keberhalaan maka diharamkan.***

Soal: Apakah kita boleh memainkan peranan Nabi dan para Imam as dalam sebuah teater atau film, khususnya apabila peran ini menguntungkan Islam dan membantu dalam penyebarannya secara universal?

Jawab: Pada tingkat pertama, tidak ada penolakan total pada perkara ini karena tidak ada bukti, baik dalam Al-Qur'an ataupun dalam Sunah yang melarang penggambaran para Nabi dan para Imam oleh sang aktor dalam suatu sandiwara atau film. Namun, menurut tingkat pemikiran yang kedua yang berkaitan dengan peran seorang aktor bahwa sang aktor mesti yakin bahwa perannya tidak akan melemahkan kepribadian dan keagungan manusia-manusia suci ini atau itu, atau merusak mereka. Singkatnya, aksinya tidak dilarang. Hal yang menjadi perrnasalahan apakah perannya mengubah citra Nabi atau tidak. ***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Tue, 13 Mar 2018 @09:33

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved