Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Pertunjukan Tragedi Asyura di Teater dan Televisi

image

Soal: Akhir-akhir ini Anda mendukung penyelenggaraan pertunjukan tragedi kesyahidan al-Husain di teater dan televisi. Apakah menurut Anda tidak akan ada penolakan dari para fukaha karena apa-apa yang Anda minta tersebut merupakan sesuatu yang tidak dikenal oleh masyarakat dan para ahli fikih?

Jawab: Saya kira para ulama dan para fukaha yang benar-benar mengetahui teknologi modern dan pengaruhnya pada manusia modern tidak akan bersikap cukup irasional. Sesungguhnya saya dan para ahli fikih benar-benar menyadari bahwa manusia modem mampu menggunakan peralatan-peralatan teknis semacam itu sebagai cara mengungkapkan pesan-pesannya.

Demikian juga, Islam memerlukan sarana teknis semacam itu agar dapat tersiar dengan luas dan dipahami secara universal. Saya mafhum bahwa ada berbagai jenis manusia yang biasanya takut pada hal yang baru mereka bingung akan pemikiran baru apa saja dan berpendapat bahwa hal-hal yang baru akan merusak tradisi mereka. Namun, saya percaya bahwa berenang melawan arus adalah usaha yang berisiko dan memerlukan kesabaran. Oleh karena itu, saya menyarankan agar orang yang kreatif dan selalu mencari yang terbaik mesti berperilaku tegar akan segala kesulitan yang menghadang mereka.

Kita semua setuju bahwa kebiasaan (konvensi) sebenarnya tidak berarti akhir dunia, juga tidak memiliki makna kesucian. Berkaitan dengan ini, Allah Swt berfirman dalam kitab suci-Nya (Al-Qur'an): Dia memerintahkan kepada kita untuk membebaskan diri sendiri dari hijab tradisi buta. Allah menyuruh kita meneliti, merenungkan, dan memikirkan kebiasaan-kebiasaan semacam itu dengan suatu cara yang dapat menjadikan kita menerima apa-apa yang sesuai dengan konsep-konsep Islam dan menolak yang tidak sesuai. Firman-Nya: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami mengikuti suatu agama dan sesungguhnya kami hanya berjalan di atas jejak kaki-kakinya."

Rasulullah saw bersabda, "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa-apa yang kamu dapati bapak-bapakmu melakukannya. Tetapi mereka menjawab, "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya" (QS Fushshilat: 24). ***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Wed, 11 Apr 2018 @13:32

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved