Matinya Kesucian [by Dr Muhammad Ashar]

image

Nietzsche dalam sakaratul mautnya, mendadak berujar "Jangan Biarkan Pendongeng itu mendatangi pemakamanku...  Bila Ia ada biar aku saja yang menghadapiNya". Siapa pendongeng yg dimaksudkannya? Anda Benar! Pendeta. Bacaan dongeng apa yg dimaksudkannya? Anda Benar! Injil. Kitab suci itu dimata Nietzsce adalah fiksi.

Kant berbeda.  Ia membangun distingsi akal teoritis versus akal praktis. Dimana posisi Tuhan dan Ruh (Jiwa)? Anda benar lagi! Akal Praktis. Apa artinya? Tuhan dan ruh tidaklah ilmiah dan rasional. Ia dibutuhkan demi kepentingan praktis. Sekali lagi, Tuhan disisihkan.

Lewis Wolpert, seorang biolog dengan lantang mengatakan : "religion is one of those impossible things". Mark Twain dengan tegas menyatakan injil adalah fiksi: "The Bible has noble poetry in it... and some good morals and a wealth of obscenity, and upwards of a thousand lies".

Bentangan sejarah "dihiasi" oleh pemikir revolusioner, secara substansial, berpandangan sama: agama dengan kitab sucinya berisi obyek-obyek fiktif. Buku berisi subyek fiktif kita sebut buku fiksi. Apa yang membedakannya dengan buku fiksi (saintifik) yang berpeluang menjadi kenyataan? Anda benar lagi! Penegasan ketidakberadaan obyek yang dikabarkannya. Fiksi sains berbeda. Ia membuka ruang kemungkinan

Kekuatan fiksi terletak pada kemampuannya mentransformasi imajinasi. Imajinasi memiliki peran dalam pengetahuan bahkan perilaku. Imajinasi kreatif terbukti menjadi instrumen aktif temuan ilmiah. Tulisan ini tidaklah berupaya mendedah fungsi fiksi bagi pengembangan imajinasi. Tulisan ini berupaya menguak secara sederhana problematika filosofis yang membayangi pernyataan "kitab suci itu fiksi".

Problematika ontologis adalah determinan klaim fiksi obyek fiksi. Bagi para ateis dan agnostik, obyek fiksi yang metafisis terbukti secara sah tidak ilmiah. Problematika epistemogis obyek fiksi, mendaras kesimpulan bahwa kitab suci itu fiksi. Obyek yang tidak terbukti ada berarti obyeknya fiktif dan obyek fiktif tidaklah mencerminkan realitas. Fiksi adalah lawan realitas. Meski memiliki fungsi.

Aneh? Bagi saya tidak! Azas fungsional tidak memperdulikan keberadaan obyek. Tuhan ada atau tidak, tidak penting. Yang dipentingkan fungsi Tuhan untuk mengembangkan imajinasi. Anda pasti bertanya: Koq rada mirip Kant? Anda benar! Mirip!.Tuhan diterima hanya karena ide tentang Tuhan memiliki fungsi. Apakah Tuhan ada eksistensinya? I DON'T CARE!!!.

Bila Anda berpikir pernyataan "kitab suci itu fiksi" bisa diterima. Dengan tegas saya menyatakan: Kali ini anda keliru! Mendedah kitab suci adalah fiksi secara parsial adalah kesalahan fatal. Mau tahu apa yg terjadi? Anda telah membunuh KESUCIAN! []

Dr Muhammad Ashar adalah Ketua Departemen Kaderisasi PP IJABI

Sat, 14 Apr 2018 @19:33

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved