AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Manazil al-Sairin: Manzilah al-Akhlak dan As-Sabr

image

Manzilah ini adalah Manzilah turunan dari Manzilah al-Muamalat. Manzilah akhlak adalah malakah jiwa yang darinya muncul perbuatan yang terpuji. Sekiranya berulang hubungan (muamalah) hati bersama Allah dengan niat yang benar maka muncullah bentuk yang merasuk di dalam jiwa yang membersihkan jiwa dan mencahayai hati sebagai hasil dari keberkahan Muamalah dan mudahkan kemudian muncul padanya kemuliaan, kebaikan dan perjalanan Ruhaniah. "Dan adapun orang yang memberikan dan bertakwa, membenarkan atas ganjaran yang baik maka kami mudahkan dirinya dalam perjalanannya" (QS 92: 5-7).

Pada Manzilah al-Akhlak ini ada sepuluh Manzilah. Manzilah Pertama adalah Manzilah Sabar (al-Sabr). Allah SWT berfirman: "Bersabarlah tiadakan kesabaranmu kecuali dengan pertolongan Allah" (QS 16:127) bahwa Sabar dengan pertolongan Allah karena kesabaran memerlukan kekuatan dan "Sesungguhnya kekuatan itu milik Allah seluruhnya" (QS 2:165). Barangsiapa yang tidak diberikan Allah kekuatan maka dia tidak akan mampu bersabar. Sabar adalah tangguhan jiwa terhadap penderitaan dengan menyembunyikan segala bentuk keluhan. Mengapa menyembunyikan keluhan? Karena kalau menerima tanpa ada goresan keluhan di hati bukanlah sabar akan tetapi ridha.

Yang dimaksud keluhan disini adalah keluhan kepada selain Allah sedangkan keluhan kepada Allah SWT justru adalah hal yang terpuji. Seperti halnya pada Nabi Ayub as. yang mengeluh kepada Tuhannya "Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan" (QS 38:41). Allah SWT memujinya: "Sesungguhnya kami dapat dia sebagai orang yang sabar. Sesungguhnya dia sebaik-baik hamba dan sesungguhnya dia sangat taat" (QS 38:44). Demikian juga Nabi Ya'qub as: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya" (QS 16:87). Karenanya bagaimana mungkin meninggalkan keluhan padahal keluhan kepada Allah SWT adalah kebaikan dan kemuliaan.

Manzilah Kesabaran (al-Sabr) yang kedua adalah Manzilah paling sulit bagi Awwam, mengerikan bagi para pecinta dan diingkari di jalan Tauhid. Paling sulit karena Awwam belum menjalani pelatihan jiwa sehingga menderita dalam menanggung bala'. Ketika Allah menguji nya dengan Bala' maka hanya derita yang dia rasakan dan menampilkan deritanya karena tidak sanggup untuk menyembunyikannya karena kelemahan jiwanya.

Mengerikan bagi para pecinta karena cinta melazimkan kenikmatan sekalipun terhadap Bala' karena pada Bala' ada diri-Nya; sedangkan sabar menghasilkan ketidaknyamanan (karahah) pada Bala' dan ketidaknyamanan bertentangan dengan kemesraan (al-Uns) sehingga Manzilah ini menjadi mengerikan bagi para pecinta karena Sabar dan Cinta dua hal yang bertolak belakang. Diingkari pada jalan Tauhid karena Sabar mengindikasikan adanya ketahanan diri sedangkan pada tingkat ini Salik sudah menghilangkan dirinya. Kesadaran akan dirinya merusak perjalanannya.

Manzilah Kesabaran (al-Shabr)

Manzilah Pertama adalah Sabar dari maksiat, dengan kesadaran atas ancaman, berdiam dalam keimanan, menghindari balasan, dan sebaik-baiknya dari sabar adalah sabar dari maksiat karena malu. Kesabaran dari maksiat yakni upaya untuk meninggalkan dan menjauhkan diri dari hal yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah. Dibutuhkan daya untuk menolak maksiat dan menjauhinya sekalipun larangan tersebut menggiurkan karena keimanan bahwa Allah akan menurunkan bala dan bencananya bagi pelaku maksiat.Berdiam dalam Iman bahwa kesabaran menjauhi maksiat karena yakin akan janji dan ancaman Allah. Khawatir bahwa dibalik maksiat akan ada azab yang pedih dan karenanya berusaha dengan kesungguhan untuk menghindarinya. Alasan kesabaran dalam hal diatas berada pada tingkat yang rendah karena tujuannya adalah dirinya sendiri sedangkan yang terbaik pada tingkat ini adalah kesabaran yang disebabkan rasa malu kepada Allah SWT karena rasa malu muncul karena kesadaran akan kemuliaan Allah SWT dan dari Maqom al-Ihsan sebagaimana pertanyaan pada Rasulullah Saw: "Apa itu Ihsan? Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau menyaksikan-Nya dan sekiranya engkau tidak menyaksikan-Nya maka sesungguhnya Dia menyaksikanmu".

Manzilah Kedua adalah Sabar dalam ketaatan dan menjaga kontinuitasnya, memelihara keikhlasan padanya dan menghiasinya dengan ilmu. Sabar dalam ketaatan lebih tinggi dari Sabar terhadap maksiat karena kesabaran pada tingkat ini sudah pasti telah melepaskan diri dari kemaksiatan: "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" (QS 29:45) khususnya Salik menjaga dirinya dalam melaksanakan ketaatan tersebut, menjaga waktunya, hukum-hukum yang terkait dengannya, syarat-syarat dalam melaksanakannya, adab-adab Zhahir dan bathinnya.

Menjaga kehadiran hati dan keikhlasan dalam melaksanakannya sehingga terlepas dari riya', ujub. Ini merupakan sifat hati pada saat yang sama keikhlasan akan menerbitkan cahaya khusyu' dan perlindungan Allah SWT. Dihiasi dengan ilmu bahwa Salik melaksanakannya dengan pemahaman dan pengetahuan sempurna dalam ketentuan syar'i dari setiap ketaatan dan ibadah yang dikerjakan juga makna dari setiap ibadah sehingga setiap gerakan ibadah yang dikerjakan bukan sekedar pelaksanaan kewajiban tetapi dipahami dalam hakikat Zahir dan bathinnya. Jika Sabar dalam ketaatan hati seorang hamba terikat dengan Allah sedangkan sabar dari kemaksiatan hatinya disibukkan dengan kekhawatiran terhadap nasib yang akan menimpanya dan menimbulkan rasa Was-was dan ketakutan sehingga perbedaan keduanya menjadi hal yang sangat jelas.

Derajat Ketiga adalah Sabar di dalam Bala' dengan membayangkan kebaikan balasan, penantian jalan keluar, meringankan beragam derita atas beragam pemberian dan mengingat beragam nikmat sebelumnya. Dengan membayangkan balasan yang baik yang digambarkan al-Quran tentang balasan kebaikan bagi orang-orang yang sabar, kemuliaan mereka disisi Allah pujian atas mereka sehingga meringankan beban atas derita yang dirasakan. Bersabar terhadap jalan keluar bagi derita yang dialami melalui beragam ibadah. Melihat kembali bahwa kesulitan yang di alami tidaklah berarti dibandingkan kebaikan Allah terhadap dirinya dan beragam nikmat-nikmat yang telah Allah curahkan sebelumnya.

Ada seseorang yang berkata kepada Nabi Ayyub as: "Berdoalah kepada Allah agar Allah menyingkirkan darimu derita." Nabi Ayyub aS menjawab: "Berapa banyak hari-harimu dalam kenyamanan? Apakah dia lebih banyak atau hari-hari deritamu?" Orang itu berkata: "Hari-hari kenyamanan yang lebih banyak." Nabi Ayyub as berkata: "Malulah kepada Allah atas keluhan kepada-Nya."[]

Dr Kholid Al-Walid adalah dosen filsafat STFI Sadra, Jakarta

 

Thu, 19 Apr 2018 @14:37

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved