Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Prinsip Hadiah dan Hukuman dalam Pendidikan Anak

image

Tanya: Terdapat perbedaan dalam metode pendidikan, tetapi kebanyakan berdiri di atas prinsip pahala dan hukuman. Apa nilai penting prinsip tersebut dalam proses pendidikan?

Jawab: Sebenarnya, prinsip hadiah dan hukuman berhubungan dengan sisi kejiwaan manusia, yang dapat mendorong terjadinya prilaku positif dan mencegah prilaku sebaliknya (negatif). Ketika manusia merasa bahwa dirinya beroleh janji berupa upah tertentu dalam melakukan suatu perbuatan, maka dia akan segera melakukannya dengan sepenuh hati demi meraih upah tersebut. Ini sama persis dengan orang yang menempuh perjalanan jauh dan bersusah payah memperoleh keberhasilan dan keuntungan besar. Di sini, upah memainkan peran penting dalam mendorong prilaku positif. Sebaliknya, kita biasanya berusaha jauh dari siksa dan khawatir akan dampak-dampak negatifnya, baik dampak-dampak itu merupakan bagian dari pekerjaan atau ditimbulkan orang lain.

Persoalan imbalan dan hukuman berkait dengan rasa ingin dan rasa takut dalam diri manusia. Keduanya merupakan perasaan penting dalam menjamin perlindungan manusia atas dirinya dan dalam mewujudkan segala kebutuhannya, yang positif maupun negatif. Dalam bidang pendidikan, kita harus memilih jenis hadiah dan hukuman tertentu setelah sebelumnya kita mengkaji potensi orang yang hendak kita berikan hadiah dan hukuman kepadanya. Kita tak boleh memanfaatkan pahala dalam apa yang hendak kita arahkan padanya atau menggunakan siksa dalam apa yang hendak kita jauhkan darinya, kecuali setelah terlebih dulu mempelajari kondisi seseorang dan metode penanganannya dari segala sisi. Sebab, ada kalanya kita justru dapat memberatkan beban seseorang, karena menjanjikan pahala yang lebih ringan dan memberikan ancaman siksa yang lebih berat baginya.

Adapun sehubungan dengan anak-anak, maka tujuan penggunaan prinsip hadiah dan hukuman adalah untuk menumbuhkan kepribadian, nilai kemanusiaan, dan (kekuatan) akalnya, yang menuntut kita menemukan jalan terdekat untuk mencapai (kekuatan maksimal) akalnya itu. Dengan kata lain, proses pendidikan secara umum berhubungan dengan diri manusia. Melalui pendidikan, dengan berbagai metodenya, kita hendak menjadikan anak menyimpan konsep-konsep tertentu dalam akalnya dan perasaan-perasaan tertentu dalam hatinya.

Pergaulan dengan anak kecil menuntut penyelaman atas kedalaman batinnya, dikarenakan batin anak mengandungi wilayah-wilayah yang tertutup di hadapan orang lain. Kita mesti (kalau dianggap perlu), mengganti banyak metode sebelum kita temukan kunci-kunci yang sesuai. Oleh karena itu, prinsip pahala dan hukuman dalam pendidikan merupakan proses penggerak. Atas dasar ini, dapat saya katakan bahwa prinsip tersebut harus dikaji terlebih dulu sebelum digunakan. Mungkin saja, jika kita membiasakan anak kita selalu mendapatkan upah sebagai balasan atas tugas yang dilakukannya, ini akan berakibat dia tak bersedia menjalankan perintah kita kecuali bila mendapatkan imbalan materi yang diinginkannya.

Benar, semua itu tak dapat diartikan bahwa kita perlu menggunakan prinsip memberikan imbalan dalam mendidik anak yang suka membangkang; yang tidak mau belajar, atau melakukan tugas lain. Begitulah yang sering kita saksikan pada sebagian anak yang enggan belajar. Jika ayah atau ibunya tak memberi mereka uang, mainan, atau kesenangan tertentu, mereka takkan bersedia belajar sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan bila ayah atau ibunya tidak memberikan hadiah, mereka akan menentang keduanya. Sebenarnya, prinsip imbalan dan hukuman serupa dengan obat. Keduanya harus diberikan sesuai dengan dosis yang tepat. Prinsip pahala dan siksaan merupakan prinsip al-Quran yang sesuai dengan tabiat manusia. ***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)

Sun, 22 Apr 2018 @13:35

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved