CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Manazil al-Sairin: Manzilah Ketundukkan Diri (al-Taslim)

image

Allah SWT berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya" (QS 4:65).

Sumpah hanya dimiliki Nabi Saw pd derajatnya, belum dapat beriman kecuali menempatkan Nabi Saw sebagai hakim yang memutus perkara yang diperselisihkan dan menerima seluruh keputusan tanpa penentangan bahkan tanpa goresan dihatinya rasa keberatan sedikitpun dan dengan penuh rasa senang.

Pada ketundukkan diri, penyerahan, kepercayaan kecuali pada tawakal yang padanya ada penghalang (al-I'tilal). Bahwa pada Ketundukkan diri adalah Manzilah tertinggi dari Manzilah Awwam. Penghalang yang dimaksud bahwa pada empat Manzilah ini terdapat penisbahan kepada selain al-Haqq kecuali Tawakal. Karenanya Ketundukkan diri adalah Manzilah tertinggi diantara Manzilah Awwam. Manzilah Ketundukkan adalah Manzilah yang membuka jalan bagi Salik untuk sampai pada Fana'.

Manzilah Pertama adalah Tunduk dari hal-hal yang mengganggu akal  dan bertentangan atas wahm dari berita ghaib, yang bertentangan dengan Qiyas dari rahasia negeri dan bagian-bagian serta keharusan menerima dari hal yang ditakutkan seorang murid akan terjadi peristiwa yang buruk. Ketundukkan Diri pada tingkat ini Salik berusaha untuk tunduk akan berita ghaib yang datang kepadanya dan meninggalkan Qiyas Rasional yang selalu mencari sebab dibalik akibat dan membangun proposisi-proposisi. Berita ghaib hadir tanpa hal tersebut dan peristiwa yang terjadi tidak semata sesuai dengan analisa aqal dan juga keinginan wahm. Termasuk beragam berita yang menakutkan bagi Salik seperti akan terjadinya musibah, bencana, gempa bumi dan kejadian buruk lainnya yang dengan itu kebanyakan manusia mencoba untuk menghalaunya dari kehadiran di benaknya. Sedangkan Salik harus meyakini bahwa hak pengendalian dan pengelolaan segala sesuatu sepenuhnya ditangan al-Haqq. Ketidak berdayaan dalam hal ini berbeda dengan ketidak berdayaan teologis bahwa dalam hal ini kesadaran Salik sepenuhnya dalam hubungan dengan al-Haqq dan tunduk sepenuhnya pad Kia berita-berita ghaib tanpa ada keraguan atasnya. Salik menerima sepenuhnya atas semua berita ghaib dan bisikan ruhaniah yang datang kepadanya dan menerimanya dengan pandangan yang baik atas ketetapan Allah karena apa yang datang dari Allah SWT semata kebaikan.

Manzilah Kedua adalah Ketundukkan Ilmu dihadapan Kondisi (Al-Hal). Ketundukkan maksud dihadapan Penyaksian Ruhani (al-Kasyf) dan Ketundukkan Tradisi dihadapan Hakikat. Ketundukkan Ilmu dihadapan kondisi bahwa Kondisi adalah pemberian Allah dari alam Bathin menuju alam Zahir dari A'yan Tsabitah menuju Alam penyaksian. Sehingga ketika hukum Bathin bertolak belakang dengan hukum Bathin maka Salik melepaskan hukum Zahir dan tunduk pada hukum Bathin. Maksud adalah tujuan yang didasarkan pada ilmu sedangkan penyaksian ruhaniah adalah terbukanya hijab yang menyingkap realitas sesungguhnya sehingga Salik haruslah tunduk pada penyaksian bathinnya sekalipun hal itu bertentangan dengan yang dia kehendaki. Kesadaran diri adalah tradisi yang mengikat diri Salik dan tidak ada lagi diri ketika fana dalam hakikat sehingga Salik sepenuhnya berada dalam kesadaran hakikat yang disaksikannya dan bukan kesadaran dirinya.[] 

Dr Kholid Al-Walid adalah Dosen STFI Sadra

 

 

Tue, 24 Apr 2018 @12:30

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved