AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

OBITUARI Mas Hernowo

image

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad

 

Ingatan saya yang paling awal tentang almarhum Mas Hernowo adalah posisi duduknya di kursi teras rumah ayah saya, berpuluh tahun yang lalu. Mas Her kerap datang mengunjungi kami. Sebagai editor Penerbit beliau sangat gigih. Tidak jarang menunggui ayah saya beberapa jam. Buku tidak pernah lepas dari tangannya ketika menunggu itu. Baginya, di antara tugas seorang editor adalah mendampingi proses jadi sebuah buku sejak awal hingga akhirnya. Kadang-kadang pula, setelah beberapa saat itu, ia pulang untuk datang kembali keesokan harinya. Sambil menunggu, sesekali saya berbincang dengannya. Sedang Bapak menyelesaikan apa yang karenanya Mas Her datang ke rumah kami. Bisa buku, bisa kata pengantar untuk sebuah buku.

Saya bisa katakan, setiap kami yang beroleh manfaat dari buku-buku Bapak, berutang juga pada Mas Her untuk itu. Booming generasi intelektual Islam di negeri ini tak luput dari kepiawaian tangan dan pikirannya. Bersama Habib Haidar, sahabat karibnya, seri buku cendekiawan muslim mewarnai negeri ini, memberikan kontribusi besar bagi diskursus intelektual di dalamnya. Mas Her bagian dari sejarahnya. Saya kira almarhum sama gigihnya mendampingi proses penerbitan buku penulis lainnya. Dengan Bapak mungkin berbeda, karena kami tinggal satu kota. Sore hari, usai jam kerja, Mas Her datang ke rumah kami. Penggunaan jam kerja mungkin kurang tepat. Mas Her tak mengenal itu.

Dari hubungannya dengan berbagai penulis itulah, Mas Her menemukan passion dan gaya tersendiri dalam tulisannya. Almarhum sering berkata, ia banyak terilhami oleh tiga tokoh yang buku mereka dibantu diterbitkan olehnya. Ustadz Quraish Shihab, Bapak, dan Emha Ainun Nadjib. Menurut Mas Her, ketiga penulis ini punya gaya tersendiri. Tak banyak yang diedit. Bahasa tulisan mereka sudah sangat indah. Hanya tinggal menyesuaikan saja dengan gaya selingkung dan baku yang ada. Bagi Mas Her, tiga orang itulah guru menulis dan membacanya. Betapa beruntungnya beliau.

Kepiawaian Mas Her berikutnya adalah ‘mengemas’ buku. Istilah baru yang menurut saya identik dengan Mas Her. Pada zamannya, penerbit pernah berusaha bagaimana menerbitkan buku semurah mungkin dengan hasil sebesar mungkin. Tidak jarang, kenikmatan pembaca untuk itu dikorbankan. Spasi yang kecil, layout yang sempit, buku yang tipis. Mas Her mendobrak itu semua. Ibarat seorang koki, ia meramu naskah di tangannya menjadi menu yang istimewa. Teramat istimewa. Sejak karyanya banyak diminati, banyak penerbit mengikuti jejaknya.

Yang saya herankan adalah, upaya besarnya ini luput dari apresiasi lembaga resmi perbukuan. Ya, Mas Her memperoleh penghargaan dari komunitas penggiat literasi, tetapi kiprah beliau secara resmi belum diakui. Tulisan ini ingin mengingatkan kita semua untuk itu. Beliau berjasa dalam tumbuh kembang karya intelektual muslim. Beliau pionir yang memperkenalkan teori mengemas buku di dunia penerbitan. Beliau juga mencatat sejarah sebagai penulis 38 buku dalam 4 tahun. Rekor yang sulit ditandingi oleh siapa pun. Mungkin lembaga resmi belum punya arsip catatan khusus untuk itu. Seperti juga Mas Her, tiga tokoh rujukannya tak beroleh apresiasi itu. Ustadz Quraish sebagai penulis khusus kajian Qur’ani, Cak Nun dengan karya-karyanya yang lintas dimensi, atau Bapak, ayah saya, dengan tulisan kata pengantarnya yang terbanyak di seluruh negeri. Mengikut bahasa Dee Lestari, tanpa apresiasi pun, malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya.

Dan betapa saya disadarkan, selama ini pun saya kurang mengapresiasi kehadiran Mas Her itu. Saya kurang silaturahmi. Kekurangan saya pada almarhum banyak, terlalu banyak. Saya tak dapat memenuhi hak persaudaraan yang semestinya. Padahal saya punya hubungan khusus dengan beliau. Beliau pernah menawarkan saya bekerja di tempatnya, tapi saya memilih tempat yang lain. Saya menulis surat. Saya sampaikan, supaya Penerbit Mas punya kompetitor untuk kebaikan bersama dunia buku di tanah air. Biarlah saya jadi tokoh di dunia persilatan yang ‘mencuri’ ilmu Shaolin dengan mengintip dari cabang-cabang pepohonan. Agar Shaolin tetap waspada dan mengembangkan ilmunya lebih jauh lagi. Mas Her mengerti itu. Ia tersenyum. Dan betapa ia selalu tersenyum. Itu ingatan saya paling kuat tentangnya. Dan masih terdengar renyahnya tawa suara khasnya itu.

Dan ketika tadi malam, saya melepas almarhum dengan doa, “Kami bersaksi bahwa almarhum min ahlil khair…” Sungguh, benar-benar saya tak dapat menemukan kekurangan almarhum. Tak muncul dalam benak saya sedikit pun. Almarhum orang baik. Selalu siap dimintai bantuan. Tepat waktu memenuhi janji pertemuan. Selalu tersenyum pada siapa saja, kapan saja.

Ya, kami kehilangan. Kehilangan seorang guru yang sangat baik hati. Almarhum all out, dengan penuh totalitas membimbing murid-muridnya. Targetnya selalu sama: karya yang dihasilkan. Sejak membimbing anak-anak SMA Plus Muthahhari dan membantu mereka menerbitkan buku. Anak-anak senang sekali karya mereka diterbitkan. Terakhir, almarhum memberikan buku hasil kelas menulis ibu-ibu yang dibimbingnya. Saya masih ingat tandatangan dan pesannya. Hampir setiap buku baru beliau berikan pada saya dengan tandatangan khasnya itu. Pulpen yang ukurannya sedikit tebal. Ah, saya tidak dapat membalas kebaikan almarhum dengan semestinya. Tidak akan pernah.

Dan betapa kehilangan itu bukan milik kami saja. Tapi negeri ini. Satu di antara pencapaian almarhum menurut saya adalah aktivitasnya dalam giat literasi di negeri ini, tepat di saat menghadapi serangan era digital dan berbagai problematikanya. Seperti seorang wali yang tahu masa depan, kegiatan almarhum di tahun-tahun terakhir adalah serangkaian perangkat yang ia siapkan untuk menghadapi generasi serba instan di era digital. Kemampuan baca tulis dan daya kritis. Tanpa keduanya, anak-anak muda akan rentan terpapar berita hoax, provokatif, dan adu domba komoditas kepentingan kelompok tertentu. Peran Mas Her teramat besar untuk itu. Seakan disiapkan Tuhan, sebelum memasuki era digital, Mas Her keliling Nusantara mempersiapkan generasi masa depan untuk menghadapi itu semua. Ribuan orang terinspirasi oleh perkhidmatannya. Saya masih ingat di antara safarinya itu, ia ditanya seorang peserta: mengapa Bapak mengajak kami membaca dan menulis, bukankah Nabi kita tak bisa membaca dan menulis?

Kini, di saat bangsa ini sedang membutuhkan penopang untuk membimbing baca tulis dan daya kritis itu, Allah Ta’ala memanggil guru ini ke haribaanNya. Pada hari yang baik di bulan yang baik. Saya bayangkan ribuan muridnya mengantarkan almarhum dengan doa.

Namamu abadi Mas. Engkau min ahlil khair. Aku yakin, teladan kekasih hati, kerinduanmu yang sejati menunggu nun jauh di seberang itu. Kami mungkin kehilangan dirimu. Tapi dalam setiap lembar buku, kau akan hadir di situ. Itu warisanmu Mas. Selamat jalan, Guru.

 

@miftahrakhmat

Mas Her mendampingi banyak karya pendidikan. Sekolah-sekolah Muthahhari, murid-muridnya, guru-gurunya, training-training yang kami selenggarakan. Kiprahnya terlalu banyak untuk sebuah tulisan singkat. Doa dan belasungkawa kami.

 

 

Fri, 25 May 2018 @14:03

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved