AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Ketentuan Safar untuk Tidak Berpuasa dan Shalat Qashar menurut Lima Mazhab

image

Al-Baqarah ayat 185: Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. 

An-Nisa ayat 101: Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. 

Agama Islam sangat memahami kondisi umat manusia dan tidak memaksakan pelaksanaan syariat di luar batas kemampuan manusia atau saat kondisi tidak memungkinkan dilakukan dengan lengkap atau sempurna. Salah satunya terkait dengan ibadah shalat wajib di perjalanan dan ibadah shaum Ramadhan bagi orang Islam yang berada dalam perjalanan, ada ketentuan yang memberikan kelonggaran atau kemudahan untuk meringkas rakaat shalat wajib yang empat rakaat (qashar menjadi dua rakaat) dan tidak puasa (ifthar) selama dalam perjalanan (safar). Tentu safar seorang Muslim/Muslimah tidak dalam rangka aktivitas mungkar, tetapi bertujuan yang positif seperti silaturahmi lebaran (mudik) atau kunjungan luar kota dan lainnya. 

Berikut ini ketentuan ifthar (sehingga tidak puasa selama dalam perjalanan atau saat berada ditempat tujuan) dan shalat wajib dengan qashar, yaitu: 

Jika perjalanan sekira 24 farsakh (133 km) menurut Mazhab Hanafi; 16 farsakh (88 km) menurut Mazhab Syafi'i, Hambali, dan Maliki; dan 8 farsakh (45 km) menurut Mazhab Jafari (Syiah Imamiyah atau Ahlulbait). Maka dengan mengikuti salah satunya seorang Muslim/Muslimah bisa ifthar dan shalat dengan cara qashar (untuk shalat wajib yang empat rakaat). Ada pengecualian dalam fikih Syiah bahwa untuk yang pergi ke wathan (tempat lahir, tempat tinggal, atau perjalanan sebagai bentuk pekerjaannya) maka tidak kena hukum safar. 

Kedua adalah jika muqim (berniat menetap) di lokasi tujuan safar maka shalat wajib dengan cara tamam (tidak qashar) dan wajib puasa. Dengan ketentuan: (1) Muqim 15 hari menurut Mazhab Hanafi; (2) Muqim 4 hari menurut Mazhab Syafi'i dan Mazhab Maliki, dan ukuran 20 kali shalat wajib menurut Mazhab Hambali; (3) Muqim kurang dari 10 hari menurut Mazhab Jafari (Syiah Imamiyah atau Ahlulbait). 

Demikian yang kami sajikan berdasarkan dari buku Fikih Lima Mazhab karya Muhammad Jawad Mughniyah. Ketentuan lainnya, seperti ukuran batas kota atau tempat tujuan dan lainnya bisa dikaji kembali pada buku-buku fikih lainnya. Semoga bermanfaat dan untuk tambahan silakan kirim melalui kontak. Terima kasih.***

[Redaksi Misykat]

Mon, 11 Jun 2018 @12:06

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved