AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Mengubah Jenis Kelamin

image

Soal: Kabarnya Anda membolehkan perubahan jenis kelamin. Apakah kami boleh tahu lebih lanjut mengenai detil-detil pendapat Anda? Hukum dan fondasi fikih apa yang menjadi fatwa Anda? 

Jawab: Terdapat banyak kasus yang berkaitan dengan persoalan ini. Kasus pertama, yang baru-baru ini telah menjadi hal umum di masyarakat Barat, meliputi pembedahan dengan cara mengangkat testis penis dan skrotum secara total. Kemudian dibuat sebuah lubang agar mirip kemaluan wanita, lalu pengaturan hormon estrogen agar menghasilkan perubahan badan, sehingga tubuhnya lebih mirip jenis kelamin lain. Dalam kasus seperti itu, anatomi laki-laki tetap terpelihara; dengan diiringi penyesuaian berupa sifat mirip wanita, seperti suara yang lembut, payudara yang menonjol, dan tidak berjenggot. Pembedahan semacam ini tidak menghasilkan suatu yang baru karena tidak memberi kemampuan sang pelaku transeksual (waria) untuk berhubungan seksual seperti layaknya wanita dengan laki-laki. Jadi kalaupun sampai berhubungan, maka hubungannya adalah hubungan laki-laki dengan laki-laki. 

Selain itu, operasi semacam ini tidak menjadikan dia berstatus wanita menurut pandangan syariah. Operasi ini hanyalah akal-akalan saja dalam rangka menjustifikasi homoseksual yang masih ditolak dan dihinakan mayoritas besar masyarakat. Melarang operasi semacam ini sangat logis lantaran operasi ini menyiksa badan, yaitu dengan mengangkat kemaluan; sementara tidak ada keuntungan yang seimbang dengan kerusakan yang ditimbulkan. 

Beberapa kasus lainnya yang berkaitan dengan penggantian jenis kelamin yang umum seperti mengubah seorang banci menjadi perempuan. Operasi seperti ini memungkinkan perubahan dari perempuan ke laki-laki dengan semua karakteristiknya, misalnya memiliki penis, bisa bersenggama seperti layaknya seorang lelaki, berpenampilan maskulin. 

Selain itu, bisa juga mengubah laki-laki menjadi perempuan dengan cara transplantasi kemaluan perempuan sehingga sang pelaku transeksual (orang yang berganti jenis kelamin) akan seperti perempuan, baik secara anatomi ataupun medis. Dia memiliki vagina nomal yang dapat dipakai untuk bersenggama; dia bergairah pada hubungan seks dan dapat mengalami sekresi. 

Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara sang pelaku transeksual dengan wanita lainnya kecuali dalam karakter yang sederhana karena ia tidak memiliki rahim, tidak melahirkan. Oleh karena itu, sang transeksual akan menjadi mirip perempuan dari segi luarnya dan dari karakter seksnya.

Dalam kasus yang terakhir ini, kita tidak memiliki bukti atau teks hukum yang dapat mengharamkannya. Jika kita tidak memiliki hukum untuk mengharamkan perubahan (jenis) kelamin, maka secara prinsipil perubahan kelamin dan operasi semacam ini dibolehkan. Apabila operasi-operasi semacam itu dilakukan, maka konsekuensinya sang pelaku transeksual dianggap sebagai wanita pada umumnya yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Dia mesti menikah, melahirkan, dan mewarisi karena ia akan menjadi wanita yang sebenamya.

Ada pun alasan di balik pembolehan pembedahan ini berdasarkan perundangan. Apabila kita tidak memiliki dalil yang mengharamkannya dan dalam keadaan ragu serta curiga apakah sesuatu itu boleh dilakukan ataukah tidak, maka dianggap boleh dilakukan.

Patut saya sebutkan di sini bahwa saya bukan satu-satunya orang yang berpendapat demikian. Karena Imam al-Khu'i sendiri pun dalam kitabnya Munyat as-Sail (Keinginan Orang yang Bertanya) membolehkan perubahan jenis kelamin. Apabila sebagian fukaha menetapkan keharaman berganti jenis kelamin berdasarkan Al-Quran: dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka mengubahnya (QS an-Nisa: 1 19), seraya menganggapnya sebagai suatu penghapusan ciptaan Allah, kami berpendapat bahwa yang dimaksud dengan "ciptaan Allah" di sini bukanlah manusia, karena "ciptaan Allah" merupakan istilah umum yang mencakup segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt. Dan apabila kita berketetapan hati akan ketidakbolehan mengubah ciptaan Allah seperti yang dipahami dan ditafsirkan oleh para ulama tersebut, maka kita mesti mencegah pohon, tanaman, tanah, gunung, dan sungai dari perubahan walaupun tak seorang pun akan menyetujuinya, karena tertolak oleh orang yang rasional. Mayoritas ahli fikih membolehkan perubahan kelamin selain perubahan ketampanan seseorang.*** 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Fri, 29 Jun 2018 @09:07

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved