Mutah dan Perzinahan yang Disahkan

image

Mut'ah dan Perzinahan yang Disahkan

Soal: Sebab perzinahan, khususnya di negara-negara Barat, selalu berdasarkan persetujuan bersama atau dilakukan demi materi, lantas apa perbedaan antara perzinahan dan mut'ah dan mengapa melarang perzinahan dan menghalalkan mut'ah?

Jawab: Perbedaan antara perzinahan konsensus dan pernikahan baik permanen ataupun temporer adalah perjanjian yang menunjukkan kehendak menikah antara dua sejoli, baik secara verbal ataupun secara tertulis. Hal seperti ini dapat ditemukan dalam pernikahan, tapi tidak dalam perzinahan. Melalui pernikahan, baik permanen ataupun temporer, Islam membolehkan hubungan keluarga dan hubungan seks. Jadi, pernikahan menambah keabsahan hubungan-hubungan tersebut. Namun, perjanjian antara lelaki dan wanita tidak cukup untuk memperoleh keabsahan karena semua perjanjian, baik yang dibolehkan ataupun yang dilarang, berdasarkan perjanjian dua pihak. Misalnya, riba berdasarkan perjanjian dua pihak walaupun perjanjiannya adalah perjanjian yang tidak sah. 

Perzinahan khususnya di Barat berdasarkan perjanjian antara dua pihak, tetapi tidak berdasarkan keinginan menikah atau berkeluarga. Dengan kata lain, dua sejoli memulai pertemuannya sebagai teman, kemudian sebagai pacar, setelah itu mereka berzinah, dan akhirnya menikah.

Perlu disebutkan di sini bahwa perzinahan tidak diizinkan di berbagai tempat di dunia dan dianggap sebagai hubungan yang ilegal dan ditolak oleh undang-undang karena tidak disahkan oleh sebuah kontrak. Karena itu, Barat tidak mengabsahkan perzinahan, tetapi mengesahkan hukum yang melindungi hak-hak pezinah perempuan dan hak "anak haram" dalam hubungannya dengan orang tuanya. Jadi, bayi hasil dari hubungan tersebut disebut anak haram dari laki-laki ini dan wanita ini, sehingga orang-orang akan mengetahui orang tuanya.

Selain itu, Barat mengharamkan hubungan seks di luar nikah dan perbuatan tersebut dianggap sebagai kekafiran, dan sang suami atau sang istri memiliki hak menyampaikan gugatan kepadanya (suami/istri—penerj).***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

 

Mon, 2 Jul 2018 @16:55

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved