Membaca Al-Sirah Al-Nabawiyah dari Husein Munis

image

Prof Dr Husein Mu'nis menulis buku Dirasat fi Al-Sirah Al-Nabawiyah. Buku ini diterjemahkan oleh Muhammad Nursamad Kamba dan terbit tahun 1999 dengan tebal buku sekira 256 halaman. 

Sesuai dengan judulnya, buku Al-Sirah An-Nabawiyah ini menguraikan sejarah Rasulullah saw dalam pembacaan kritis. Sehingga dalam kajiannya tidak menyajikan kronologi historis dan tidak bercorak riwayah dalam penulisannya, tetapi tematis dan dirayah.

Sajiannya berupa kajian akademik dan metodologis sehingga untuk pembaca pemula dalam studi sirah pasti akan sedikit kerut kening. Mulai aspek historiografis kitab-kitab klasik sirah, maghazi, sampai pemuatan peristiwa dalam buku-buku sejarah modern diulas secara kritis. Sejarahwan Ibnu Hisyam dan Muhammad Husein Haikal pun termasuk yang "babak belur" dalam kupasan Husein Mu'nis.

Mu'nis pun memuji kehebatan strategi Nabi Muhammad saw dalam membangun kekuasaan di Madinah. Daerah yang berdekatan ditaklukan dahulu yang diawali dengan seruan dakwah Islam kemudian dengan jalan perang bagi yang menentang; sedangkan kaum yang tunduk meski tetap ikut agama terdahulu dijadikan sekutu Madinah. 

Yang menarik bahwa daerah Tsaqif, Hawazin, Hijaz, Tihama, dan Makkah serta daerah lainnya di Jazirah Arabia satu sama lain saling terjalin koneksi dan terikat dalam perjanjian untuk mendukung Makkah. Karena itu, sebelum menaklukan Makkah yang ditundukkan dahulu oleh Nabi adalah daerah-daerah pendukung Makkah. Sehingga saat menyerang Makkah yang disebut Futuh Makkah tanpa perlawanan berdarah-darah maupun konflik fisik yang menelan banyak korban.

Terkait dengan subjek peristiwa yang dikupas terfokus pada wahyu pertama dan ihwal respons alam sekitar atas sosok Nabi. Kemudian awal perang Badar dan ekspedisi militer lainnya yang diulas dengan memperlihatkan kecakapan Nabi dalam mengatur strategi, memilih komandan, dan menentukan kapan waktu tepat berangkat ke medan laga. Peristiwa masa sakit Nabi dan pascawafat pun disentuh, terutama tentang perdebatan antar sahabat terkait pemimpin setelah Rasulullah saw di Saqifah. 

Kemudian pada sumber klasik untuk studi Sirah Nabawiyah, Husein Munis lebih percaya dengan kumpulan riwayat pada al-maghazi karya Ibnu Saad dan Al-Waqidi. Sedangkan Ibnu Hisyam dengan sirah-nya dinilai telah ada kepentingan dalam kitabnya sehingga karya Ibnu Ishaq pun "diperkosa" dan menjadi karya Ibnu Hisyam. Beruntung ada manuskrip Ibnu Ishaq sehingga diketahui bagian mana saja yang dipenggal dan diperkecil riwayat-riwayat terkait dengan kehidupan Rasulullah Saw dan umat Islam masa awal. Maka untuk riset sejarah awal umat Islam, Husein Munis menyarankan tidak memakai Ibnu Hisyam. Tetapi cukup merujuk pada Al-Waqidi, Ibnu Sa'ad, Ibnu Ishaq, dan Thabari.

Untuk bacaan sejarah Nabi Muhammad Saw yang modern seperti karya Muhammad Husein Haekal pun dinilai oleh Husein Munis tidak originalitas dalam menyajikan data dan terlalu bermain dengan interpretasi.  

Tentang Haekal, saya kira memang wajar. Sebab untuk akses pada sumber klasik amat sulit untuk sampai telaah manuskrip. Banyak sentuhan dari masa ke masa sehingga mencari otentisitas menjadi hal yang perlu ditafsirkan ulang tentang sumber. Memang itu paradigma historisme bahwa menyajikan sejarah harus masuk pada teks asli yang paling awal (manuskrip) dan memahami teks berdasarkan pada konteks sosial budaya saat teks tersebut muncul. Di sini kajian historis memerlukan studi filologi dan hermeneutika. Nah, ngan sakitu.

(ahmad sahidin, alumni uin sgd bandung)

Mon, 2 Jul 2018 @17:06

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved