AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Problema Keluarga dan Para Pendidik dalam Pendidikan Anak

image

 Tanya: Di masa sekarang, pengaruh unsur-unsur lingkungan mampu mengalahkan pengaruh keluarga sehingga mereka merasa gagal dan lemah dalam menangani proses pendidikan, padahal merekalah yang päling bertanggung jawab atasnya. Apakah hal ini menuntut mundurnya keluarga demi lingkungan?

Jawab: Radio, televisi, koran, sekolah, dan buku, merupakan sarana-sarana lingkungan yang membuat manusia terpengaruh ketika dia menyaksikan dan memikirkannya. Sangat sulit sekali di masa sekarang untuk melarang anak menonton televisi, mendengarkan radio, atau menggunakan internet. Melarang anak dari semua itu akan meninggalkan dampak negatif pada dirinya. Dia akan merasa terkekang sehingga akan merusak apa yang ingin kita lakukan terhadapnya. Di sisi lain, dia akan merasa mendapatkan tekanan dan paksaan.

Kenyataan ini menuntut kita untuk memberikan sebagian kebebasan kepada anak, dengan melakukan kajian akan pengaruh-pengaruh negatifnya dan mencegahnya dengan cara tertentu. Kita harus memperbaharui metode yang kita gunakan sebagai sandaran dalam proses pendidikan. Problema para pengajar di kalängan kita, baik tokoh agama, pengajar, atau keluarga adalah masih digunakannya metode pendidikan konvensional. Sementara kita temukan bahwa suasana anak telah mengalami perkembangan yang jauh berbeda dengan suasana di masa silam.

Dengan begitu, kita harus mengikuti segenap perubahan dengan segala problema baru yang dibawanya dan kita usahakan jalan keluarnya. Ini sama persis seperti yang dilakukan seorang dokter terhadap bakteri-bakteri yang makin mengalami perkembangan (kekebalan) dan menggunakan antibiotika yang tepat untuk memusnahkan bibit penyakit itu. Kita harus mengikuti perkembangan (kekebalan) bakteri karena pengulangan penggunaan antibiotika akan mengakibatkan resistensi bibit penyakit tersebut. Karena itu, seorang dituntut untuk menciptakan antibiotika baru dalam melawan bibit penyakit yang berkembang.

Demikian pula halnya dengan persoalan pendidikan, moral, dan spiritual. Problema kebanyakan manusia yang terjatuh dalam tekanan adalah dikarenakan mereka dalam menghadapi problema-problema yang mereka alami masih menggunakan satu-satunya metode yang mereka mewarisi atau pelajari dari orang lain, dan mereka tidak berpikir untuk menghasilkan solusi baru bagi problema mereka yang berkembang. Ketika kita mempelajari gerak penemuan ilmiah sehubungan dengan berkembangnya penyakit, kita akan mendapati bahwa kita menghadapi problema penyakit yang membutuhkan perkembangan sarana-sarana pengobatan.

Benar, keluarga dan lembaga-lembaga pendidikan harus melakukan kajian dan penelitian agar mereka mampu menguasai problema-problema pendidikan yang kian berkembang, baik itu oleh tokoh agama, psikolog, sosiolog, dan sebagainya. Sungguh perasaan gagal yang dirasakan oleh keluarga dan para pendidik bukanlah alasan yang tepat, meskipun dengan kesulitan hidup seperti sekarang ini. Problema keluarga dan para pendidik pada umumnya adalah dikarenakan mereka belum mengerahkan segala upaya mereka secara maksimal. Padahal, dalam Islam terdapat suatu prinsip kokoh yang menyeru kita untuk tidak berputus asa dalam meraih apa yang kita dambakan. Ini bisa kita pelajari dari pengalaman para nabi yang merupakan "kunci keberhasilan" bagi manusia; sebuah kunci keberhasilan yang selama ini kita cari, yang mendorong kita untuk terus melanjutkan perjuangan sehingga kita berhasil. Tanpa putus asa, meskipun kita mengalami kegagalan berulang kali.

Barangkali kita bisa mempelajari makna ini dari pengalaman Nabi Nuh as yang hidup berdakwah di tengah umatnya selama 950 tahun. Beliau tidak berhenti dan tetap berupaya keras, menyeru manusia menuju Tuhannya dan melakukan perubahan dalam masyarakatnya. Sungguh, kegagalan seribu pengalaman bukan berarti kegagalan pemikiran. Kita hendaknya berani mencoba sekali lagi setelah gagal seribu kali.***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)

Fri, 6 Jul 2018 @09:16

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved