AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Khitan pada Wanita

image

Soal: Mengkhitan wanita baru-baru ini menjadi perselisihan besar antar masyarakat. Bagaimanakah hukum Islam berkenaan dengan isu ini? Apakah benar Islam menjaga gairah syahwat wanita? 

Jawab: Khitanan adalah kebiasaan Arab yang terus diterapkan hingga kemunculan Islam. Jadi, ketika kita mempelajari tradisi tersebut, maka kita tidak dapat memperoleh contoh yang mendorong atau mendesak khitan sehingga menjadi disarankan untuk perempuan. Akan tetapi, tradisi tersebut yang meliputi khitanan tidak mengimplikasikan larangan. Dan terdapat beberapa hadis yang menyebutkan bahwa Nabi menasehati wanita yang dikhitan agar jangan salah menerapkannya. Jadi hal ini dibolehkan secara hukum, jika tidak menyebabkan konsekuensi yang negatif atau berbahaya di mana menahan syahwat wanita barangkali memiliki akibat yang buruk bagi perkawinannya di masa akan datang. 

Dengan kata lain, mengkhitan wanita adalah halal, jika tidak berpengaruh secara negatif pada tubuhnya atau pemikahan di masa yang akan datang. Apabila mengkhitan menyebabkan kerusakan serius, misalnya frigiditas, yang secara natural mempengaruhi hidupnya, maka khitanan tidak dibolehkan.

Saya kira satu-satunya poin positif dalam proses ini terletak pada keyakinan nenek moyang bahwa semakin sedikit gairah syahwat seorang wanita, maka semakin suci wanita tersebut. Oleh karena itu, melakukan metode ini untuk mengurangi dosa si wanita yang barangkali mencemari keluarga atau sukunya. Namun pandangan ini ditolak karena tidak dibenarkan, malah akan mengakibatkan konsekuensi yang berbahaya yang hanya ditujukan untuk mengatasi sebuah masalah.

Selain itu, syahwat bukanlah suatu nilai yang buruk tetapi merupakan fenomena alamiah manusia yang diciptakan oleh Allah demi menjaga proses alam yang menjadi dasar reproduksi seks dan ikatan keluarga. Maka dari itu, lelaki tertarik pada wanita dan wanita tertarik pada lelaki. Namun, syahwat barangkali menjadi bemilai negafif apabila syahwat tersebut menguat dan mengakibatkan efek negatif. Jadi, kita tidak dapat menilai syahwat sebagai sesuatu yang negatif sehingga mesti dihilangkan kecuali dalam kasus-kasus yang tidak alamiah tatkala syahwat menyesatkan.

Selain itu, dalam sebuah riwayat Imam ash-Shadiq as telah bersabda, "Mengkhitan laki-laki adalah bagian dari sunah Nabi, tapi mengkhitan wanita bukan (sunah)." Dalam hadis lainnya, Imam ash-Shadiq berkata, "Mengkhitan wanita adalah perbuatan mulia tetapi bukan bagian dari sunah Nabi, bukan juga suatu keharusan. Dan manakah yang lebih baik dari perbuatan mulia?" 

Jelaslah bahwa mengkhitan menunjukkan cara bagi seorang wanita untuk memperoleh penghormatan dari suaminya sesuai dengan tradisi masyarakat saat itu. Hal ini ditunjukkan dalam nasehat Nabi pada Ummu Habib yang terbiasa mengkhitan budak wanita. Tatkala Nabi bertemu dengannya, beliau bertanya padanya, "Apakah engkau mempraktekkan pekerjaan yang sama? Dia menjawab, "Ya, sebelum kau larang." Kemudian Nabi menjawab, "Perbuatan tersebut halal, mendekatlah padaku, aku akan mengajarimu."

Tatkala ia mendekati Nabi, beliau berkata, "Ummu Habib, ketika engkau mengkhitan, janganlah sampai merusak karena hal itu seperti itu lebih baik demi kecerahan wajah sang wanita dan lebih disukai oleh suaminya."

Jadi, begitulah yang dimaksud oleh Imam ash-Shadiq mengenai amalan yang mulia, dimana prosesnya berkaitan dengan tradisi sosial yang ada hubungannya dengan perhiasan dan kesukaan pada wanita. Tetapi apabila tradisinya berubah, maka peraturannya pun berubah. Perbuatan mulia bisa menjadi perbuatan yang sebaliknya. Sama seperti perkara apa saja yang berubah karena terdapat perubahan realitas objektif dimana terdapat variasi peraturan baik yang bersifat positif ataupun yang negatif. Allah Maha Mengetahui. *** 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Tue, 10 Jul 2018 @19:12

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved