Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Mengapa Harus Mandi Wajib?

image

Soal: Salah seorang penulis sekuler berpendapat bahwa Islam memandang hubungan seks sebagai sesuatu yang hina. Buktinya Islam mengharuskan mandi wajib setelah berhubungan untuk menyucikan jiwa dari ketidaksucian. Bagaimana pendapat Anda? 


Jawab: Saya yakin cara menafsirkan seperti ini tidak benar karena mandi tidak berdasarkan pada pandangan buruk Islam atas seks. Sesungguhnya Islam mendukung seks dan menilainya sebagai hak asasi laki-laki dan wanita. Lebih jauh lagi, Islam bahkan mengharuskan laki-laki memuaskan gairah syahwat istrinya dan tidak menyudahi senggama tersebut sebelum istrinya puas. Juga beberapa hadis menyebutkan bahwa sang suami mendapatkan pahala karena telah berhubungan seks yang dapat melindunginya dari berbuat dosa.

Ada pun mandi tidak menunjukkan kekotoran spiritual, tetapi menunjukkan bahwa ketika seorang laki-laki ejakulasi setelah bersenggama maka seluruh tubuh terlibat dalam proses tersebut. Karena itu, mandi sejenis kesucian spiritual dan fisik yang menunjukkan kebersihan dan perbaikan yang membebaskan manusia dari memperturutkan kenikmatan fisik.

Islam menganggap sperma senajis air seni. Karena seluruh tubuh secara alamiah terlibat dalam proses ejakulasi, maka seluruh tubuh terlibat. Oleh karena itu, mandi lebih berkaitan pada segi fisik daripada segi spiritual. Para fukaha yang percaya bahwa ejakulasi tersebut mengganggu jiwa mendasarkan pendapat mereka pada alasan di atas, bukannya pada aturan hukum yang autentik.

Lebih jauh lagi, ada sebuah perbedaan yang besar antara ejakulasi yang menunjukkan kekotoran jiwa dan yang menunjukkan kekotoran fisik. Karena itu, mandi bukanlah suatu keharusan. Mandi diwajibkan ketika seorang Muslim bersiap siaga shalat dan keadaan apa saja yang mengharuskan kesucian.

Ada dua jenis najis. Pertama, najis yang mencakup air seni, darah, dan lain-lain. Kedua, najis yang mencakup keikutsertaan antara jasmani dan rohani, tapi bukan berdasarkan kehinaan.

Selain itu, kita mengetahui bahwa wudhu bukanlah suatu keharusan setelah tidur. Oleh karena itu, apakah kita bisa mengatakan bahwa Islam memandang tidur sebagai suatu yang hina? Hal seperti ini tidak berdasar.

Islam menginginkan kaum Muslimin untuk memperbaharui keadaan fisiknya dengan cara mandi dan memperbaharui keadaan spiritualnya dengan cara membuka kesucian dan mendekati Allah yang Maha Tinggi.

Dengan begitu, mandi wajib setelah ejakulasi sama dengan wudhu wajib sebelum shalat setelah bangun tidur. Tak seorang pun mengatakan, Islam memandang tidur itu hina dan mandi serta wudhu menghasilkan kesucian fisik sebagai cara memperbaiki spiritual dengan syarat mandi dan wudhu tersebut dilakukan dalam rangka meraih ridha Allah SWT.***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Tue, 10 Jul 2018 @20:52

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved