CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN

Hukum Wanita Melihat bagian Pribadi Wanita Lainnya

image

Soal: Salah satu fatwa Anda adalah bahwa Anda membolehkan seorang wanita melihat bagian-bagian pribadi wanita lainnya. Hal ini berbeda dengan pendapat mayoritas fukaha. Apakah dalil dan dasar hukum tersebut? 

Jawab: Pertama-tama, riwayat-riwayat tentang kebolehan melihat bagian-bagian pribadi tersebut tidak dapat dipercaya. Namun, ada sebuah riwayat autentik yang dikabarkan oleh Ali bin Ibrahim dalam tafsirnya mengenai firman Allah: Dan katakanlah kepada wanita yang beriman agæ mereka menahan pandangan mereka dan memelihara bagian-bagian pribadi mereka (Qs An-Nur: 31). Ayat ini menyeru para wanita untuk tidak melihat bagian-bagian pribadi saudaranya dan memelihara bagian-bagian pribadi mereka sendiri.

Selain itu, dalam kitab al-Kafi terdapat riwayat lain yang mendukung tafsir di atas, yaitu apa saja yang disebutkan dalam Al-Quran mengenai memelihara bagian-bagian pribadi wanita berkaitan dengan perzinahan, kecuali ayat ini yang memiliki makna memandang.

Sebaliknya, terdapat banyak riwayat yang membolehkan seorang wanita memandang pinggang perempuan lain walau tidak ada kebutuhan yang mendesak. Misalnya dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa apabila terdapat perselisihan seorang wanita dengan suaminya mengenai keperawanan sang wanita tersebut, maka wanita lain dapat membantu menyelesaikan permasalahan ini dengan cara melihat bagian-bagian pribadi dari wanita yang pertama. Kasus seperti ini tidak mendesak karena kebutuhannya berkaitan dengan situasi ketika kehidupan seseorang terancam bahaya dan di mana tidak ada perbedaan dalam mengatur laki-laki dan perempuan. Juga apabila terdapat kecurigaan apakah ada penghalang dalam vagina seorang wanita yang menghalangi hubungan suami istri, ada sebuah hadis yang berbunyi: "Perkara-perkara tersebut diketahui oleh wanita Karena itu, carilah wanita yang terpercaya untuk memeriksanya." Jadi, kesamaran ini tidak pada tempatnya karena wanita mana pun dapat mengakhiri perselisihan ini tanpa masalah atau malu.

Terdapat dalil yang mendasar dalam sebuah riwayat yang berbunyi: "Kesaksian wanita diterimadalam semua urusan yang tidak dapat dilihat oleh laki-laki." Hal ini memiliki makna kesaksian tersebut diterima dalam semua situasi jika laki-laki tidak dapat melihat bagian-bagian pribadi seorang wanita itu sendiri, maka wanita dapat melakukannya. Pinggang di sini tercakup dalam istilah "semua" dan hal ini bermakna bahwa yang tidak dapat dilihat lelaki, dapat dilihat wanita. Istilah "semua" mencakup rambut, payudara, lengan, dan pinggang. Saya berpegang pada generalisasi di mana kesaksian mencakup semua bagian yang laki-laki tidak dapat lihat, di antaranya pinggang. Jika tidak demikian, maka apa perbedaan dalam pengaturan laki-laki dan wanita.

Dengan demikian, dalam urusan bersalin hanya wanitalah yang terlibat. Sedangkan laki-laki tidak berhak ikut serta kecuali amat mendesak. Apabila permasalahan berdasarkan keperluan (darurat) maka riwayat di atas tidak ada artinya karena setiap orang, baik lelaki atau wanita boleh ikut serta dalam pekerjaan itu. Karena itu, riwayat di atas merupakan dalil akan kebolehan melihat pinggang (kemaluan—penerj.) wanita lainnya tanpa yang mendesak.

Kesimpulan dari riwayat di atas: jelaslah perbedaan laki-laki dan wanita dalam melihat pinggang (kemaluan—penerj.) wanita, laki-laki tidak boleh melihatnya. Apabila hukum ketidakbolehan berlaku bagi keduanya, maka siapa saja dari mereka akan dibolehkan kalau diperlukan karena kedudukan mereka sama sebelum datang hukum pelarangan. Tetapi melihat mesti dibatasi dalam keadaan perlu dan jangan memasukkan biasa yang tidak perlu. *** 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Mon, 16 Jul 2018 @15:14

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved