CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN

Masturbasi bagi Wanita

image

Soal: Keyakinan Anda bahwa wanita tidak memiliki cairan sperma (mani). Karena itu, masturbasi yang dilakukan perempuan tidak mengeluarkan sperma menyebabkan kebingungan yang serius bagi masyarakat. Dapatkah Anda menjelaskan detil-detilnya dengan kesamaran-kesamaran yang diakibatkannya? Dan apa prinsip-prinsip dan hadis yang mendasari pendapat Anda? 


Jawab: Yang mesti diperjelas adalah jika seorang wanita memiliki cairan mani yang keluar saat orgasme sebagaimana halnya laki-laki, maka sang wanita mesti mandi besar sebagaimana laki-laki. Akibatnya, masturbasi perempuan pun akan dilarang berdasarkan fondasi hukum. Apabila seorang wanita tidak memiliki cairan sperma, maka mandi besar bukanlah menjadi suatu keharusan yang secara bulat disepakati oleh para ulama. Karena itu, masturbasi seorang wanita akan dibolehkan karena larangan hanya dibatasi ketika sperma yang keluar. Sehingga, ketika tidak ada cairan sperma keluar, masturbasi bukan suatu hal yang dilarang atau dibolehkan. Hal ini sama persis dengan kasus tatkala seorang lelaki bermain-main dengan penisnya tanpa menyebabkan sprmanya keluar (juga disepakati secara bulat oleh fukaha) dan mandi wajib tidak diharuskan, karena pelarangan tidak berdasarkan tersalurkannya syahwat tapi karena keluarnya cairan sperma (seperti yang diriwayatkan dalam sejumlah riwayat).

Namun sekali pun asumsi ini (wanita tidak memiliki sperma) terbukti benar, kami sarankan kepada para wanita agar tidak melakukan kebiasaan buruk ini (masturbasi) karena praktik ini akan menyebabkan konsekuensi negatifpada pernikahan dan menyebabkan komplikasi psikologis, syaraf, dan medis yang mengancam kehidupan yang normal, status sosial, dan pernikahannya. Dalam hal ini, sejumlah fukaha dalam komentarnya atas pendapat saya membolehkan masturbasi karena tidak ada sperma yang keluar berdasarkan dua riwayat. Yang pertama diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Zurarah, dia berkata: Suatu ketika, tetangga kami yang sudah tua memiliki budak wanita yang cantik dan mahal. Orang tua tersebut tidak dapat berhubungan seks dengannya secara penuh. Wanita tersebut memintanya meletakkan tangan laki-laki tua tersebut pada bibir kemaluannya karena dapat memberi rasa nikmat yang besar, tetapi laki-laki tersebut tidak menyukainya. Karena itu, orang tua itu meminta Ubaidillah bin Zurarah menanyakan perkara tersebut kepada Imam Ja'far ash-Shadiq as tentang perkara tersebut.

Imam menjawab pertanyaan Ubaidillah bin Zurarah sebagai berikut: "Tidak apa-apa menggunakan (anggota) badan sang suami untuk memberi kenikmatan padanya dengan syarat tidak menggunakan apapun selain (anggota) badannya." Riwayat kedua disampaikan oleh Zurarah sebagai berikut: "Saya bertanya kepada Imam ash-Shadiq as mengenai para laki-laki yang memiliki budak, tetapi mereka tidak dapat berhubungan badan secara penuh dengan mereka sehingga para laki-laki memuaskan mereka dengan cara lainnya." Imam menjawab, "Tidak masalah apabila menggunakan anggota badannya (milik sang tuan—penerj.) yang lain." Namun dua riwayat tersebut denganjelas melarang menggunakan alat lain (selain bagian tubuhnya—penerj) untuk memuaskan gairah seks istrinya. Walaupun mereka membolehkan menggunakan organ tubuh sang suami lainnya termasuk tangannya untuk memuaskan sang istri, tetapi tidak disebutkan apakah sang istri boleh menggunakan tangannya sendiri atau tidak. ***

 

Soal: Karena fatwa ini tidak menunjukkan kepentingan praktis, tetapi menyebabkan kerusakan dan kehinaan moral apabila dilakukan oleh para wanita yang mungkin terjerat oleh keburukan moral, sebagian orang bertanya mengapa fatwa-fatwa dalam rangka pencegahan tidak dikeluarkan berkenaan dengan perkara tersebut? 

Jawab: Mereka yang berkata seperti itu belum mengalami masalah kritis yang dialami oleh para wanita tatkala mereka dihadapkan pada situasi yang mendesak yang membuatnya mencari-cari hukum yang menuntaskan masalah-masalah ini. 

 Kami telah meneliti masalah ini secara mendalam dengan cara mengkaji berbagai situasi dan cara menerima pertanyaan yang memerlukan hukum apabila seorang suami dipenjara dan sang istri tidak mengetahui apakah ia telah wafat atau belum, atau tatkala suaminya dipenjara dalam waktu yang panjang dan tidak ada hukum yang menghalalkan cerai dengannya, atau ketika suaminya tidak ada dimana sang istri secara hukum mesti menunggu selama empat tahun agar bisa diceraikan oleh hakim jika wali sang suami tidak menyokongnya atau ketika suami tetap di luar negeri selama waktu yang lama sehingga sulit bertemu karena alasan keuangan. 

Semua kasus di atas mengundang permasalahan seksual yang serius. Masturbasi yang dilakukan wanita tersebut secara alamiah menyebabkan konsekuensi negatif, tetapi pelarangan atau penolakan yang dilakukan oleh fukaha memiliki pengaruh yang lebih negatif pada kehidupan sang wanita, khususnya wanita yang telah menikah yang tidak memiliki kesempatan yang sah untuk memecahkan masalah seks. Singkatnya, detil-detil yang disebutkan mendorong saya untuk mengkaji persoalan tersebut.***
 

 

Soal: Bisakah kita berpendapat bahwa kerusakan yang disebut di atas sebagai penyebab utama pelarangan kebiasaan tersebut?

Jawab: Saya kira kebiasaan ini tidak akan menyebabkan kerusakan yang mewajibkan larangan. Selain itu, terdapat sebuah konsensus di antara para fukaha bahwa larangan dibatasi pada keluarnya cairan sperma. Karena itu, bila seorang laki-laki memainkan penisnya dengan tidak bermaksud merangsang keluarnya sperma dan apabila dia dapat menahan orgasmenya hingga tidak mencapai ejakulasi, maka dia tidak berdosa. Dengan demikian, ia tidak perlu mandi, berbuka puasa apabila ia sedang puasa. Hal ini disepakati oleh semua fukaha karena masturbasi (seperti yang dipahami oleh semua fukaha) artinya keluamya sperma. ***

 

Soal: Kalau begitu, mengapa Islam tidak membolehkan lesbianisme padahal jauh dari produksi sperma?

Jawab: Karena Islam telah melarang segala jenis hubungan seksual yang tidak normal antara laki-laki dan wanita mengingat hubungan semacam itu tidak berdasarkan ikatan yang legal. Oleh karena itu, hubungan seksual antar manusia yang berkelamin sama ditolak Islam. Islam menginginkan laki-laki dan wanita melakukan senggama mereka secara alami melalui karakteristik potensi fisik sebab keadaan makhluk Allah yang alami tidak terwujud dengan homoseksualitas atau lesbianisme. Allah tidak menciptakan tubuh manusia untuk melakukan hubungan yang tidak alamiah tersebut. Mungkin saja kerusakan yang muncul disebabkan karena meninggalkan hubungan yang natural. ***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Wed, 25 Jul 2018 @14:58

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved