MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Menjalin Persahabatan dengan Wanita

image

Soal: Apakah saya berhak menjalin sebuah persahabatan dengan kolega wanita, yaitu saya mengobrol, bercakap-cakap sebagaimana halnya pada kolega laki-laki, sehingga kami dapat mendiskusikan semua persoalan kecuali hal-hal yang terlarang? 

Jawab: Interaksi sosial antara laki-laki dan wanita tidak dilarang. Namun, secara psikologis kecenderungan laki-laki menghadapi wanita secara emosional dan begitu pula sebaliknya yang mungkin tidak akan menjamin bahwa jenis persahabatan seperti ini akan tetap dalam lingkaran agama. Sesungguhnya, beberapa konsekuensi negatif akan muncul, khususnya apabila perasaan dan emosi tersebut berkembang menjadi hubungan yang intim antar keduanya seperti yang sering terjadi. Sebenarnya, itulah yang kami simpulkan dari hadis masyhur yang melarang keleluasaan dalam persahabatan antar laki-laki dan wanita karena setan akan menjadi pihak ketiga. Kebebasan antara laki-laki dan wanita akan memancing munculnya elemen eksternal dan psikologis yang akan membuka lebar perbuatan buruk.

Dan secara alamiah persahabatan yang intim antar laki-laki dan wanita yang melibatkan pertemuan dan percakapan mungkin berakhir pada akibat yang sama. Namun, apabila kedua pihak yakin bahwa mereka tidak akan terjerembab pada aktivitas yang haram ataupun yang cenderung ke sana, dan apabila persahabatan mereka diatur oleh batasan-batasan hukum, maka tidak akan terjadi masalah buruk. Karena itu, apabila persahabatan antara laki-laki dan wanita tidak menyebabkan perbuatan yang menyimpang, dan ada beberapa sarana-sarana hukum yang membolehkan berlangsungnya persahabatan tersebut (bahkan walaupun melibatkan hubungan yang intim dan emosional) melalui ikatan legal; apabila akibat-akibat tertentu muncul maka hubungan tersebut akan berdasarkan pedoman yang legal, misalnya perjanjian atau apa saja yang dapat dilakukan dalam situasi tersebut dan tidak akan ada masalah yang muncul dalam perspektif hukum. *** 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Sat, 28 Jul 2018 @12:26

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved