CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN

Back to Nineties [by Abad Badruzaman]

image

Anda yang seumuran saya dan agak melek percaturan pemikiran keislaman, baik lokal maupun global, mungkin bisa sepakat bahwa tahun 90-an merupakan "golden era" pemikiran keislaman. Dikatakan "era emas" karena kala itu belantara pemikiran keislaman sangat kondusif; mekar, bertumbuh dan warna-warna tanpa adanya resistensi berlebihan. 

Arus berlawanan bukannya tidak ada. Penolakan juga ada. Resistensi cukup mudah ditemukan. Hanya saja, seingat saya, sederas-derasnya arus penolakan tidak ada yang sampai membawa umpatan: kafir-sesat! Paling hanya cap "nyleneh" yang disematkan kepada para pemikir Muslim yang pemikirannya saat itu dianggap menyimpang.  

Beberapa nama bisa kita sebut di sini sekadar memutar memori betapa waktu itu setiap pemikiran yang terlontar disambut dan dibawa ke ruang diskusi; dibahas, dikupas, dan ditimbang dari banyak aspek yang mengelilinginya. Ada GBHN (Guru Besar Harun Nasution) dengan Islam Rasionalnya, Cak Nur dengan sekularisasinya, Gus Dur dengan pribumisasinya, Munawir Syazali dengan reaktualisasi hukum Islam-nya, dan Kang Jalal dengan Islam alternatif-nya.  

Di tingkat global, saat itu, kita juga disuguhi beberapa pemikir Muslim dari Iran. Beberapa nama dapat ditunjuk: Ali Shariati, Murtadha Muthahhari, Rafsanjani, Mohammad Ali Taskhiri, dan tentu saja Imam Khomeini. Kala itu, stigma bahwa Syiah sesat bukannya tidak ada. Tapi ketika nama-nama itu dikaji pemikirannya, yang mencuat bukan Syiah atau Iran, melainkan pemikiran-pemikiran progresif-revolusioner.  

Membaca karya-karya Ali Shariati misalnya, kita disajikan elemen-elemen revolusioner dalam Islam. Bahwa Islam adalah kekuatan pembebas, alih-alih sebagai agama yang menganjurkan zuhud pasif yang menarik diri dari gelanggang kehidupan. Trio: Firaun-Qarun-Haman ditunjuk sebagai lambang tiga kekuatan thagut yang sering bahu-membahu; tirani politik-ekonomi-agama.  

Membaca buku Shariati tentang haji, hati dan nalar kita secara bersamaan dibetot menyusuri lorong-lorong spiritualitas, lalu ditarik keluar melongok kehidupan sosial. Shariati berhasil menunjukkan bahwa seluruh rangkaian haji sarat akan pengalaman spiritual plus pesan-pesan sosial yang amat-sangat kental.  

Di tahun-tahun itu, foto Imam Khomeini dengan tatapan kharismatiknya juga cukup mudah ditemukan di kost-kost mahasiswa, di rumah-rumah sewaan para aktivis. Pada diri beliau mereka menemukan makna perjuangan kaum tertindas yang berhasil menumbangkan arogansi penindas yang disokong kekuatan adi-daya sekalipun. 

Seperti disinggung di atas, stigma bahwa Syiah sesat, kala itu bukannya tidak ada. Tapi tokoh-tokoh dari Iran tersebut tampil memukau dalam menjelaskan Islam sebagai ajaran yang pro-pembebasan, kemerdekaan, keadilan, dan kesetaraan. Revolusi Islam Iran memberi bukti bagi makna-makna revolusioner itu.  

Hari ini, di usia saya yang ke-25, eh...45, tiba-tiba saja kangen akan masa-masa itu. Masa di mana seorang mahasiswa lahap mengunyah pemikiran-pemikiran Jalaluddin Rakhmat tanpa kuatir dilabeli Syiah. Masa di mana seorang mahasiswa dengan bangga menenteng buku-buku karya Nurcholish Madjid tanpa beban akan dituding sekuler. Masa di mana seorang mahasiswa dengan pede mengagumi pemikiran Munawir Syazali tanpa cemas akan dituduh liberal.  

Kini mungkin tidak ada mahasiswa yang tidak punya telepon pintar. Tapi banyak dari mereka yang ketika mendengar kata Iran, langsung merah mukanya seraya teriak, "Syiah, sesat, penikmat mutah dan penghina sahabat!" Banyak dari mereka yang ketika mendengar kata: Islam Rasional, Islam Progresif, Islam Alternatif, Islam Nusantara, dengan semangat 45 mereka menegaskan, "Islam ya Islam saja. Titik. Nggak perlu embel-embel atau atribut apa pun. Pedomannya jelas: Al-Quran dan Hadits. Dalam mengamalkan Islam, kita tidak perlu pada apa pun selain Al-Quran dan Hadits!" 

Di situ saya bersenandung rindu, "Wish I could go back to nineties..." []

Abad Badruzaman adalah Intelektual Muslim

 

Mon, 6 Aug 2018 @11:58

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved