AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Ulama Dimanfaatkan Kepentingan Partai

image

Soal: Bagaimana pendapat Anda tentang pernyataan bahwa ulama sebaiknya jangan terlibat dalam sebuah partai karena usaha-usaha yang dia lakukan nantinya akan dimanfaatkan demi kepentingan partai dan bukan demi kepentingan agama? 

Jawab: Pertama-tama kita mesti memahami apa makna seorang anggota partai. Menjadi seorang anggota partai berarti mengambil sebuah pandangan tertentu yang berkaitan dengan sarana yang dapat memberi kemudahan pada manusia untuk mencapai tujuan Islamnya yang agung (bila dia seorang Muslim). Jadi tidaklah wajar apabila menolak hak utama untuk mempercayai atau bekerja sama dengan jalan atau gerakan tertentu yang barangkali mengaktualisasikan tujuan Islam melalui sarana yang beraneka ragam dan realistis apabila tidak ada cara lain yang dapat memberi kekuatan, keterbukaan, dan kemajuan. Namun, terdapat hal lain yang patut diperhatikan, yaitu ketika ulama semacam ini mengikuti gerakan, partai, atau jalan tertentu, maka dia tidak boleh memenjarakan dirinya sendiri dalam lingkaran tradisional dan fanatik pada golongan ini. Dia juga mesti mentransparansikan keanggotaannya atas partai ini pada negara. Di mana pikiran, hati, dan tindakannya selalu ditekadkan untuk berkhidmat pada negara secara keseluruhan.

Seperti yang telah diucapkan bahwa terdapat sebuah perbedaan antara hidup di daerah yang terbatas dan sempit yang dikekang oleh fanatisme yang memisahkan diri Anda sendiri atau jalan Anda dari yang lain, dan terlibat dalam keanggotaan sebuah partai yang terbuka kepada negara serta mengerahkan segala usahanya untuk berkhidmat pada negara melalui prinsip-prinsip umum dalam perkara ini. Sebenarnya, apabila dalam persoalan ini kita berangkat dari logika yang menolak keterlibatan pada jalan tertentu yang bermaksud mewujudkan tujuan-tujuan melalui cara-cara tertentu, maka kita bisa mengatakan bahwa seseorang akan dinilai salah sekiranya dia ikut terlibat dalam suatu majelis, dewan, atau instansi politik, sosial, dan pribadi yang lain. 

Karena itu, seandainya partai ini merupakan partai yang menempuh jalan Islam yang benar dan diridhai Allah, maka setia pada partai tersebut merupakan sebuah kewajiban atau tugas dan bukan hanya persoalan kebolehan dan kecenderungan. Sesungguhnya, jika kita ingin mengadopsi pemikiran negatif yang mengatakan bahwa seorang ulama mesti menjauh dari aktivitas partai, maka kenapa tidak berkata bahwa seseorang tidak boleh mengadopsi Islam sebagai sebuah agama ketika ia tinggal di masyarakat yang pluralistik—misalnya Lebanon—dan akibatnya ia tidak memiliki hak untuk mengakui keislaman secara umum, sebagaimana seorang Kristen tidak berhak mengakui kekristenannya secara umum karena kekhususan Islam dan Kristen membagi negara dan memungkinkan mereka terjerat fanatisme. 

Jadi, kami berkesimpulan bahwa ada perbedaan besar antara hak keanggotaan yang menggambarkan kealamiahan manusia, yaitu berkenaan dengan perbedaan antara keanggotaan orang-orang yang disebabkan oleh perbedaan tafsiran dan keyakinan, dan kefanatikan pada keanggotaan Anda sedemikian rupa sehingga Anda menolak keanggotaan yang lain atau Anda memanfaatkan keanggotaan Anda agar bersikap agresif pada orang lain. *** 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Sat, 18 Aug 2018 @16:17

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved