AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Islam tidak menghapus individualitas bangsa

Soal: Pemikiran ini tidak menghalangi masing-masing partai dari haknya mengajak manusia mengadopsi prinsip-prinsipnya sendiri, baik Muslim ataupun non-Muslim, tetapi mereka mengharuskan partai, koalisi, ataupun blok-blok apa saja yang ingin memerintah mesti memperhatikan setiap orang dan tanpa perbedaan berdasarkan kategori sehingga setiap orang akan dapat bekerja dan dapat menyeru rakyat agar mengetahui pemikiran dan teorinya? 

Jawab: Ada perbedaan antara garis yang setia dan garis yang tidak setia. Dalam pendekatan yang tidak-setia, aksi dan gerakan orang itu di arena politik diputuskan berdasarkan demokrasi dimana tidak ada pemikiran lebih disukai atau lebih bernilai daripada yang lain karena legitimasi ditetapkan berdasarkan pada apa-apa yang disepakati bersama oleh rakyat. Itulah makna demokrasi. Permasalahan utama di sini adalah Islam tidak dapat memaksakan diri dengan kekerasan tatkala mengadakan syiar (khususnya di tengah keadaan yang sedang dihadapi tersebut). Meskipun ia pernah sukses dalam melakukannya di beberapa negara dan hal ini karena kita berbicara dari perspektif realistis dan praktis yang jauh dari teori yang absolut.

Atas dasar ini, kami mengatakan bahwa ketika kita hidup di suatu masyarakat yang pluralistik, seperti di Lebanon saat ini, saya kira kita memiliki hak untuk mendesak dan mendorong manusia untuk memeluk Islam melalui segala sarana yang mungkin. Kita memiliki hak untuk melakukan segala sesuatu yang kita dapat sehingga orang-orang mendukung kita. Itu bisa dilakukan dengan cara meyakinkan mereka untuk mengikuti Islam, dengan hmya meyakinkan mereka atas garis politik kita, atau karena orang-orang lain melihat kita lebih baik dari yang lain, suatu kemungkinan yang hanya absah tatkala tidak ada kesempatan bahwa mereka akan menjadi alternatif. 

Dalam kasus seperti itu, normalnya orang-orang tersebut akan berkumpul sekitar kita, bahkan melalui cara yang demokratis yang pola dan dasar-dasar intelektualnya bisa saja kita bahas, tetapi juga dapat menjadi usaha kita dalam membuat banyak keputusan dan mengambil banyak langkah di lapangan seperti yang terjadi di Republik Islam Iran. Karena itu, meratanya Islam sebagai akibat dari persuasi atau dari popularitas dengan berbagai cara tidak sebagai sebuah penolakan, pengabaian, atau pembatalan yang lain. Sejak Islam disiarkan hingga hari ini, Islam hidup secara harmonis dengan yang lain, apakah mereka pengikut agama atau kecenderungan lain yang sesuai dengan rencana yang telah dicanangkan untuk entitas lainnya.

Adapun menyangkut keagaman negara, ras, agama yang hidup di masyarakat yang sama, Islam memberi hak-hak mereka berdasarkan sistem yang umum. Jadi, tak sesuatu hal pun yang akan mencegah Islam memberi jaminan kepada bangsa Turki, Kurdi, atau Persia yang tinggal di sebuah negara Islam untuk menikmati budayanya sendiri, memelihara bahasanya sendiri, dan melaksanakan kebiasaan dan tradisi mereka sendiri yang tidak bertentangan dengan syariah Islam. Karena itu, orang-orang yang hidup di negara Islam tidak mengalami diskriminasi rasial karena (sekali pun orang-orang yang memerintah tersebut adalah orang-orang Arab), mereka tidak memiliki hak kekhususan Arabnya sebagai alasan yang dasar usaha mereka menghambat kekhususan-kekhususan yang ada pada bangsa lain. Sesunguhnya Allah menginginkan kita mengakui keberadaan bangsa dan suku lain yang seperti dalam firman-Nya, “Dan membuat kalian berbangsa dan bersuku-suku sehingga kalian mengenal satu sama lain (dan tidak memandang rendah satu sama lain). Sesungguh yang paling mulia di antra kalian dalam pandangan Allah adalah (dia yang) paling bertakwa di antara kalian” (QS al-Hujurat: 13).

Islam tidak menghapus individualitas bangsa atau keluarga tertentu, tetapi Islam menolak individualisme yang berubah menjadi prinsip-prinsip yang memisahkan orang-orang satu sama lain. Islam berkehendak para individual menjadi elemen-elemen yang mendorong manusia saling mengenal lantaran masing-masing kelompok memberi hak belajar pada yang lainnya mengenai kekhususan dan pengalamannya. Karena itu, masyarakat Islam tidak mempermasalahkan perbedaan ras, agama, bangsa. 

Kadang-kadang kaum Muslimin tidak mewakili kelompok yang lebih besar dalam suatu masyarakat, atau mereka memiliki jumlah yang sebanding dengan yang lain sehingga mereka tidak bisa meraih kendali kekuasaan; bahkan dalam kasus seperti itu, tak satu pun dapat melindungi kaum Muslim dalam menyiarkan Islam. Kenyataannya, masalah mungkin akan muncul jika Anda menekan yang lain, jika Anda menekan mereka atau memaksa mereka mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak mereka. 

Namun sekiranya Anda bersikap dan berlaku berdasarkan adab dalam menyatakan pikiran Anda kepada orang lain,sekiranya Anda berusaha keras melakukan percakapan dan debat dengan mereka berkenaan dengan pikiran ini, sekiranya Anda dengan sarana politik Anda memenuhi hajat semua orang, sekiranya Anda berusaha menempuh pola tingkah laku tersebut dengan menyerahkan pilihan akhir, baik negatif atau positif kepada objek Anda sendiri, maka akan ada masalah. Misalnya, Lebanon Di Lebanon kita dapat mengusulkan Islam sebagai dasar pemikiran, emosi, dan kehidupan dimana Anda sigak pada aspek-aspek budaya, politik, sosial, ekonomi yang dihadapi umat Kristen dan Muslim karena beberapa Muslimin tidak mempunyai pemikiran ini.

Jadi, kita sebagai umat Islam berperan di masyarakat sebagai penyeru; mengundang manusia menerimapemikiran Islam dan sebagai aktivis partai mengusahakan hal-hal yang besar demi kepentingan bangsa secara keseluruhan. 

Secara faktual, Anda tidak dapat melayani umat Islam (walaupun Anda memiliki kekhususan Islam) bila Anda tidak sigap pada umat Kristen. Jika tidak demikian, maka tidak akan pernah dapat menyelesaikan permasalahan sosial, ekonomi, dan keamanan Lebanon karena negara ini memiliki masyarakat yang beraneka ragam. Karena itu, saya tidak dapat membayangkan usulan pemikiran Islam sebagai pemikiran aktif yang pada realitas kecuali melalui metode beradab yang telah Allah canangkan: “Serulah (semua) kepada jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS an-Nahl: 125); “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang terbaik” (QS al-Isra: 53); “(Tolaklah kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang-orang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah telah menjadi teman yang sangat setia” (QS Fushshilat: 34); “Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas yang benar daripada jalan yang salah” (QS al-Baqarah: 256). 

Dan kami memiliki banyak contoh keyakinan Islam yang mengatakan kepada kita bahwa pemikiran Islam secara opsional diikuti oleh orang-orang ketika dipersembahkan kepada mereka dalam realitas dan politik serta tidak dibebankan kepada mereka sebagai kekuatan pemaksa yang menjauhkan mereka dari kesempatan berpikir. ***

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

 

Wed, 29 Aug 2018 @07:00

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved