AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Al-Ghadir, Kalimatun Sawa Antara Sunni-Syiah

Jonathan A.C. Brown, Profesor Islamic studies dari Amerika. Masih muda. Ganteng. Dan tentu saja pinter. Pinter bahasa Arab, apalagi bahasa Inggris. Ahli hadis beneran. Beliau menyebut bahwa hadis al-Ghadir diakui otentisitasnya oleh kalangan sunni dan syiah.

Perbedaan hanya terjadi pada interpretasi kata Maula. Dan polemik keduanya pun sudah berlangsung sejak 1400 tahun yang lalu sampai detik ini dan saya yakin akan terus berlanjut hingga kedatangan the Messiah nanti. Perdebatan yang terjadi mbulet pada persoalan tafsir, bukan otentitas. Karena itu, untuk menghindari perdepatan yang seperti tidak berujung pangkal, Sunni-Syiah harus berangkat dari titik temu, kalimatun sawa, yaitu otentisitas hadis al-ghadir.

Nasirudin al-Albani, mbahnya kaum Wahabi, juga mengakui otentisitas hadis ghadir. Katanya, tidak ada yang menolak hadis ghadir kecuali orang tolol yang tak paham ilmu hadis. Laisa lahu qadamun rosikhun fih. 

Nanti akan saya tunjukan pengakuan Imam al-Ghazali akan kebenaran hadis al-ghadir sekaligus menjadi bukti kalimatun sawa antara sunni-syiah. Al-Ghazali adalah tokoh panutan sunni. Dari sini saya simpulkan bahwa yang menolak hadir ghadir pasti ia bukan sunni

Seperti yang lazim terjadi dalam diskusi tetang kepemimpinan setelah Nabi, al-Ghazali juga menyinggung polemik yang terjadi yang pada akhirnya mengkristal dan membentuk dua arus besar islam, sunni dan syiah. Namun, dengan segala keluasan ilmunya al-Ghazali tidak menyebut hadis ghadir buatan syiah. Tidak seperti kaum yang gampang menyesatkan syiah. Bahkan, ia menyebut nafsu berkuasa telah memalingkan tokoh sahabat dari pesan Nabi yang jelas dan tegas, yang terkandung dalam hadis ghadir.

Berikut akan saya nukil secara utuh pendapat al-Ghazali yang dimuat dalam kitab Majmu' Rasail al-Imam al-Ghazali, terbitan darul fikri beirut tahun 1419 H (halaman 453) tertulis:

"Mayoritas sepakat akan matan hadis dari khutbah Nabi di ghadir khum, 'siapa yang aku sebagai pemimpinnya, maka ini 'Ali sebagai pemimpinnya.' lalu Umar berkata, 'hebat engkau wahai Abu al-Hasan, engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap pemimpin.' Pengakuan Umar ini adalah bukti kepasrahan, keridhaan, dan penerimaan Umar terhadap keputusan Nabi. Kemudian setelah itu nafsu berkuasa mengalahkannya. Umar membawa tonggak khilafah, janji kenabian, nafsu liar dalam hiruk pikuknya peperangan. Cawan nafsu memalingkan mereka hingga kembali pada perselisihan yang pertama. Mereka mencampakkannya ke belakang dan membelinya dengan harga murah."

Itu kata al-Ghazali. Tokoh panutan kalangan Sunni. Lalu mengapa ada kelompok yang mengaku-ngaku tidak mengakui al-Ghadir sebagai kalimatun sawa baina sunni wa syiah? ***

Dr.H.Muhammad Babul Ulum, M.Ag adalah alumni Ponpes Gontor dan Doktor bidang hadis lulusan UIN Jakarta.

Fri, 31 Aug 2018 @21:57

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved