Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Batas Aktivitas Individu Muslim dalam Partai

image

Soal: Apa batas individu Muslim berkaitan dengan aktivitas dalam partai Islam? 

Jawab: Secara faktual, orang yang menjadi anggota suatu lembaga, organisasi atau himpunan dan lainnya, pertama-tama mesti menetapkan legitimasi keanggotaannya: apakah partai tersebut mengejawantahkan elemen-elemen yang seseorang yakini (sesuai dengan Islam dan kesadaran, benak, dan keyakinan).

Apabila dia mendapati bahwa lembaga ini (yang dia masuki) sesuai dengan kepercayaannya mengenai garis-garis umum, maka nantinya mesti mencari tahu apakah kelompok yang mengatur lembaga ini (the leading group of this body) yang bertugas mengarahkan aktivitas, perjalanannya, dan bertugas mengurus perkara-perkaranya itu adalah absah. Sebenarnya, garis atau gerakannya yang absah dan benar tidaklah cukup. Bahkan, orang yang bertanggung jawab menjalankannya melalui garis-garis khusus mestilah seseorang yang mewujudkan garis ini dalam pemikirannya, cara bersikapnya, dan cara menyelesaikan pekerjaan. 

Setelah memeriksa segala fakta tersebut dan setelah meyakinkan bahwa semua persyaratan terpenuhi, maka akan alamiah bahwa orang tersebut cocok dengan partisipasi ini dan bekerja sama melalui segenap tanggung jawab yang ditugaskan kepadanya dan dengan segala kapasitas yang memungkinkan dan semua energi yang dia nikmati untuk menggapai tujuan yang agung.

Di bagian ini, kita mesti membahas pentingnya keanggotaan akan sesuatu kelompok yang bekerja demi kepentingan Islam karena beberapa orang yang tunduk pada otoritas tertinggi, partai dan lain sebagainya mungkin tidak setuju. Kita mesti mencoba poin yang khusus untuk mengetahui bahwa tujuan-tujuan yang agung berasal dari sesuatu yang bersifat kolektif dan bukan dari sesuatu individualistis. Karena walaupun mempunyai kemampuan, dia tidak dapat meraih tujuan-tujuan ini secara keseluruhan oleh dirinya sendiri. Bahkan, seseorang yang memiliki karakter sebagai pemimpin pun tidak dapat meraihnya kecuali dengan bantuan orang-orang yang ia pimpin dan mempercayainya. 

Oleh karena itu, manusia yang tidak untuk dirinya sendiri tapi untuk agama, bangsa, dan seluruh realitas lingkungannya dan melalui segenap aspirasi yang ia coba penuhi dan melalui target-target yang ia maksudkan dan tetapkan, maka manusia tersebut seharusnya menjadi milik kelompok atau partai umum yang memiliki kekuatan organisasional dan manajerial. Sehingga dapat membagi target-target menurut posisi dan membagi berdasarkan sikap-sikap yang sesuai dengan tahap-tahap agar mencapai hasil-hasil yang jelas dan mencapai target langsung atau akan datang.

Dengan demikian, gagasan bahwa umat manusia milik sebuah himpunan umum merupakan permasalahan dari kebutuhan manusia untuk mengaktualisasikan hubungan dengan orang lain menurut rencana dipelajari dan diorganisasikan yang meliputi segenap energi dan kapasitas serta yang menginvestasi berbagai tahap secara cermat untuk meraih tujuan yang dikejar. *** 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Mon, 3 Sep 2018 @09:40

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved