AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Ritual Ngopi Para Sufi

Cerita rakyat daerah Abyssinia, sekarang Etiopia mengisahkan, bahwa seorang penggembala bernama Kaldi melihat kambing-kambingnya kegirangan setelah memakan buah menyerupai beri merah yang belum pernah dia lihat. Dia pun mencicipinya dan merasakan efek rasa segar. Ketika dia memberi tahu orang-orang, popularitas buah ini segera meroket di daerah tersebut.

Tapi tak semua orang berpikir seperti Kaldi. Para agamawan setempat, yang mencurigai efek energi dari buah itu, segera menganggap gejala tersebut sebagai “pekerjaan setan”. Barulah setelah tahu buah itu bisa membantu mereka begadang untuk melakukan ibadah, buah yang di kemudian hari dikenal sebagai kopi ini legal dikonsumsi.

Terlepas dari cerita rakyat tersebut, sesungguhnya Kopi telah mendapat tempat di kalangan para ulama-ulama besar sufi. 

Beberapa ahli tasawuf seperti Al Allamah Abdul Qodir Bin Muhammad Al Jaziry dalam kitabnya Umdatus Shofwah fi Hukmil Qohwah membuat komentar secara khusus tentang kopi dan minum kopi. Sementara sufi besar lainnya seperti seperti Syidi Syeh Zakariya Al anshori, Syidi Syeh Abdurrohman Bin Ziyad , Syidi Syeh Zarruq Al Maliki Al Maghribi,  Syidi Syeh Abu Bakr bin Salim Attarimi, dan Syidi Syeh Abdulloh Al Haddad, memfatwakan kebolehan menyeruput kopi.

Bukan hanya soal  fatwa kebolehan meminum kopi, sufi besar, Sayyid Al Allamah Abdurrohman bin Muhammad Al Aidrus menulis secara khusus hukum kopi dan faedah kopi dalam kitabnya Risalah Inusi as-Shofwah bi Anfusi al-Qohwah. Tradisi ngopi juga mendorong Al Imam Al Faqih Syeh Bamakhromah mengarang syair tentang kopi yang Syairnya di komentari oleh banyak ulama.

Tak ketinggalan para sufi dari Indonesia turut berkomentar, misalnya Al-Allamah Syeh Ikhsan Jampes Kediri dalam kitabnya Irsyadul Ikhwan fi Syurbil Qohwah wa Addukhon, juga Syeh abdul Qodir Bin Syekh dalam kitab Shofwatu As Shofwah fi Bayan hukmil Qohwah. Juga dalam kitab Tarikh Ibnu Toyyib, para ulama tersebut menulis mengenai keutamaan Kopi. Berikut adalah komentar para ulama besar tentang kopi.

Ulama besar multi talenta Al Imam Ibnu Hajar Al Haitami, dalam kitab Syarhul Ubab  berkata: "Lalu ketahuilah duhai hati yang gelisah bahwa kopi ini telah dijadikan oleh Ahli shofwah (orang orang yang bersih hatinya) sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, penghapus kesusahan.

Dalam Diwan karya Syekh Bamakhromah beliau berkata: "Dalam gelas kerinduan itu membuat orang yang meminumnya berada dalam tingkatan para perindu dan memakaikannya pakaian ahli pecinta dalam kedekatan kepada Allah. Bahkan jika seandainya diminum oleh seorang Yahudi maka niscaya hatinya akan mendapatkan tarikan hidayah dan inayah Tuhan."

Al Habib Abdurrohman Shofi Assegaf mengatakan; "...bahwa kopi yang disiapkan oleh para Sufi ini Esensinya untuk menarik Hati kepada Allah SWT maka pahamilah isyarah dan bedakan antara setiap argumentasi".

Imam Ahmad Assubki juga berkata: "Kopi manfaatnya yaitu kira-kira untuk membuat semangat ibadah dan pekerjaan penting juga menghancurkan makanan, agar tidak masuk angin dan menghilangkan dahak yang banyak."

Dalam Tarikh Ibnu Toyyib dikatakan: "Kopi adalah penghilang kesusahan pemuda, senikmat-nikmatnya keinginan bagi engkau yang sedang mencari ilmu. Kopi adalah minuman orang yang dekat pada Allah di dalamnya ada kesembuhan bagi pencari hikmah di antara manusia. Kopi diharamkan bagi orang bodoh dan mengatakan keharamannya dengan keras kepala."

Menurut catatan buku Malamih al-Qahirah, Maqhahi as-Syarq, Qhahawi al-Adab wa al-Fan fi al-Qahirah dan Al-Maqhahi al-Adabiyyah. Minuman kopi tersebar di dunia timur (Timur Tengah) atas jasa sufi besar Abu Bakar Bin Abdullah yang lebih di kenal dengan nama Idrus. Kemudian tradisi ngopi ini secara masif dikonsumsi dan disebarkan oleh kaum sufi, bahkan Imam as-Syadzili (pendiri tarikat Syadziliyah) mengenalkan minuman ini pada masyarakat Tunisia. 

Kemudian dari sini muncul majlis-majlis minum kopi, majlis-majlis ini berada di dalam rumah pribadi dan juga di luar rumah. Pada waktu itu belum muncul istilah "maqha/kafe/kedai kopi" seperti sekarang.

Sebenarnya majlis-majlis ini sudah ada, sebelum minuman kopi dikenal, sebagai tempat khusus untuk menikmati minuman jenis lain. Namun ketika minum kopi menjadi tradisi masyarakat, kemudian majlis-majlis tersebut berubah menjadi majlis kopi. Kaum sufi sendiri memiliki majlis kopi yang menjadi tempat mereka berkumpul melaksanakan berbagai kegiatan.

Bagi kaum sufi, kopi membantu mereka dalam mendirikan shalat dan dzikir malam selain juga membantu mereka dalam mengaji yang tertulis dan yang tak tertulis (jiwa, lingkungan dan alam semesta). ***


Facebook Aris Budi Prasetyo

Sun, 30 Sep 2018 @15:22

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved