Rubrik
Terbaru
MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Seorang di Antara Sahabat Kami Meninggal Dunia

image

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Allahumma Ya Rabbana, tanpa terasa Muharram mempergilirkan siang dan malamnya. Kafilah Al-Husain ‘alaihimus salaam sampai di Karbala pada hari yang kedua, 61 tahun setelah hijrah Baginda Saw itu. Inilah saat-saat indah kepasrahan menampakkan puncaknya. Kapan lagi Tuhan diibadati dalam sebaik-baik persembahan kecuali saat segala sesuatu diserahkan ke hadiratNya. Saat ketaatan menemukan bentuk terbaiknya. Saat Dia dipatuhi, saat Dia diikuti.

Maka langit mencurah rahmat. Pintu ampunan, berkah dan ijabah terbuka manakala seorang hamba berada dalam kepasrahan, ketaatan dan kepatuhan Mawlanya. Ibadah mengantarkan hamba pada kesempurnaan penciptaanNya. Tidak ada saat paling dicintai Sang Pencipta, kecuali saat hamba bersimpuh di hadapanNya. Saat hamba beribadah kepadaNya. Saat hamba patuh pada JunjunganNya.

Perjalanan Imam Husain as adalah perjalanan kepatuhan dan kepasrahan itu. Kapan lagi peribadatan menemukan bentuk terbaiknya kecuali pada saat persembahan teragungnya. Asyura adalah persembahan keluarga Rasulillah Saw dalam ketaatan pada Tuhannya.

Karena itu pula, pintu rahmat dibukakan luas bagi setiap majelis Asyura. Hari langit mencurah darah itu hanya terjadi satu kali, tetapi keberkahan limpahan nikmat Allah Ta’ala karenanya mengalir sepanjang masa. Sebagaimana Al-Qur’an hanya diturunkan sekali pada malam qadar yang agung itu. Tetapi turunnya malaikat dan ruh berlangsung sepanjang waktu. Lihat bagaimana turunnya Al-Qur’an menggunakan bentuk lampau ‘anzalnaa’ dan turunnya malaikat menggunakan bentuk kini ‘(ya)tanazzalu’. Asyura hanya terjadi sekali tetapi keberkahan kecintaan keluarga Rasulillah Saw mengalir abadi.

Hadirilah majelis-majelis itu di mana pun ia berada. Datangi sekumpulan para perindu yang berduka itu. Bergabunglah bersama mereka. Pintu-pintu rahmat Allah Ta’ala yang mahaluas itu terbentang tiada tara.

Adalah Allamah Sayyid Muhammad Kazhim Tabataba'i Yazdi (1253 – 1337 H), penulis kitab Fiqh ‘Urwatul Wutsqa itu. Kitab standar dan termasuk di antara rujukan dalam Fiqh Mazhab Ahlul Bait ‘alaihimus salaam. Sebanyak 3460 masalah fiqih dibahas di dalamnya. Ia seorang ulama besar. Karena kitabnya itu, ia dikenal sebagai “Sahibul ‘Urwah”. Dan ini ceritanya.

Satu saat, dari Najaf Asyraf Irak, ia berniat bepergian ke Yazd, sebuah daerah di tengah peta geografis Iran. Sebelum berangkat, ia berziarah pada Imam Ali as. Di dekat Haram Imam, ia membeli sebuah kain kafan yang dituliskan di dalamnya seluruh ayat Al-Qur’an. Ia juga berangkat ke Karbala dan berziarah pada Imam Husain as. Ketika tinggal di Karbala, ia menambahkan tulisan lain pada kain kafan itu. Ia menulis dengan tangannya sendiri menggunakan cairan dari turbah Imam Husain as yang dileburkan. Ia menulis ziarah Asyura. Kafan itu ia bawa dalam perjalanannya.

Sesampainya di Yazd, ia beristirahat di rumah seorang di antara putrinya. Malam pertama ia tertidur dan ia melihat Imam Husain as hadir dalam mimpinya. Imam berkata: “Seorang di antara sahabat kami meninggal dunia. Ia menunggu kain kafan di perbatasan Yazd. Kami (Ahlul Bait as) ingin sekali agar kain kafanmu kau berikan kepadanya.”

Ia terbangun sesaat kemudian tidur kembali. Dan Imam as datang kembali dalam mimpinya. Meminta yang sama. Terbangun, segera ia berangkat detik itu juga ke tempat yang disebutkan Imam as. Di sana, ia melihat jenazah seseorang baru saja selesai dimandikan, menunggu kain kafan untuk dibalutkan. Ketika Allamah mendekat orang-orang itu berkata, “Kain kafan sudah datang. Ia sudah membawakannya.”

Allamah keheranan dan bertanya, “Siapakah Saudara ini?” Mereka menjawab, “Tuan yang sama yang datang kepadamu dan meminta agar kaubawa kain kafan ini, ia jugalah yang datang kepada kami dan meminta kami untuk membawa jenazah ke tempat ini.”

“Jenazah siapakah ini?” Tanya Allamah.
“Ia Karim Siyah.”
“Siapakah dia?”
“Seorang lelaki seperti kita, seperti aku dan saudara. Kami orang biasa. Tetapi Karim Siyah istimewa. Ia pecinta Imam Husain as. Di mana saja ada majelis untuk Imam Husain as, ia akan selalu datangi. Tanpa berat hati, ia akan pergi menghadiri. Tanpa kecuali”

Allahumma Ya Rabbana, ampuni kami. Muharram berlalu dan tidak kami hamparkan majelis duka. Tidak bergabung kami dalam barisan para pecinta. Bagaimana mungkin berharap perkenan Mawla Ampuni kami Ya Rabbana. Ampuni kami ya Rabbana.

Bukanlah Engkau Tuhan yang tak pemurah. Bukanlah Engkau Tuhan yang tak pengasih. Melainkan kami sendiri yang menutup diri dari rahmatMu yang meliputi segala sesuatu itu.

Pada saat persembahan cinta, pada saat Engkau disembah dalam bentuk terbaiknya, pada saat pengorbanan ketaatan keluarga Baginda tercinta... duhai alangkah indahnya kepasrahan hamba pada Mawla.

Lalu kaki kami berat melangkah ke majelis-majelis itu? Aduhai alangkah malangnya.
Alangkah malangnya. ***
@miftahrakhmat

 

Tue, 18 Sep 2018 @09:26

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved