MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Mengapa Menolak Asyura?

image

Menjadi seorang Muslim yang beda mazhab dengan pengikut mazhab mayoritas di Indonesia adalah sebuah anugerah dan petaka. Anugerah karena di antara jutaan umat manusia beragama, masih ada ruang untuk berkeyakinan. Sesuai dengan falsafah kebangsaan Indonesia bahwa negeri Indonesia dibangun di atas masyarakat yang beragam, tetapi diarahkan untuk saling menjaga keutuhan bangsa. 

Mungkin semangatnya mirip dengan Piagam Madinah yang dicetuskan oleh Rasulullah saw sekaligus dipraktekkan kurang lebih sepuluh tahun.

Memang semangat persatuan yang digaungkan di Indonesia, tetapi secara faktual yang terjadi adalah musibah bagi kaum Muslim yang beda mazhab. Kaum Muslim Syiah di Indonesia hampir setiap 10 Muharram dilarang lakukan peringatan Asyuro oleh segelintir kaum Muslim dari mayoritas.

Mereka anggap asyuro sebagai perbuatan yang menista dan menodai agama. Mereka anggap asyura sebagai momentum kebencian kepada sahabat dan istri Nabi Muhammad saw. Yang dituduhkan oleh mereka (kaum takfiri yang melarang acara-acara asyuro) tidak pernah terbukti.

Hampir setiap 10 Muharram saya ikut peringatan asyuro bersama warga ormas IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan tidak ditemukan pernyataan yang disebutkan oleh mereka (orang-orang yang benci kepada Muslimin Syiah). Yang terbukti dalam acara asyuro ada pembacaan Al-Qur'an dan shalawat, doa, ceramah, dan pembacaan kisah wafat Sayyidina Husain ra cucu Rasulullah saw. 

Dalam acara Asyura yang pernah saya hadiri dan ikuti tidak ada caci maki kepada sahabat maupun istri Rasulullah saw. Tidak ada unsur penodaan agama, tidak ada penghinaan simbol-simbol Ahlussunnah. Tidak ada acara berdarah-darah berupa menyiksa diri. Yang ada hanyalah ungkapan duka cita dan pilu atas wafat cucu Rasulullah saw dilantunkan dalam syair.

Saya kira memang layak ditangisi wafatnya Sayyidina Husain ra yang dibantai bersama keluarganya di Karbala oleh tujuh puluh ribu pasukan atas suruhan dari khalifah Yazid bin Muawiyah, penguasa dinasti Umayyah di Damaskus tahun 680 Masehi, yang bertepatan dengan 10 Muharram 61 H. 

Sangat keji perilaku pasukan dari Yazid bin Muawiyah ini, yang dilakukan pada bulan Muharram membantai keluarga Rasulullah saw. Sebuah peristiwa tragis yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah umat Islam. Dan anehnya pembantaian kepada keluarga Rasulullah saw ini dilakukan oleh pasukan yang mengaku beragama Islam dan diperintahkan oleh penguasa yang merepresentasikan dinasti Islam (Umayyah) pasca khulafa rasyidun.

Menariknya gerakan anti Asyura dan mereka yang tidak suka dengan Muslimin Syiah di Indonesia ini muncul sekira tahun 2012 bersamaan dengan terbentuknya  organisasi anti syiah di Bandung. 

Tidak jelas alasan dari organisasi ini dalam kegiatan menolak Asyura dari Muslim Syiah. Sebab pelarangan dan aksinya hanya terjadi setiap Asyuro, sedangkan momentum Maulid Nabi Muhammad saw yang juga dilakukan Muslimin Syiah di Indonesia tidak dilarang atau disesatkan. Mengapa? Hanya saat peringatan Asyuro saja mereka lakukan demo atas nama umat Ahlussunnah, sedangkan kaum Nahdlatul Ulama (NU) yang notabene Ahlussunnah tidak melakukan demo pada acara Asyuro. 

Sebuah tanda tanya besar: mengapa mereka tidak suka dalam acara duka cita (asyuro) atas wafat keluarga Rasulullah saw? Mengapa mereka menolak Asyura?

Saya kira, peringatan Asyuro adalah momentum Haul Akbar dalam budaya umat Islam sebagai ungkapan dukacita. Selayaknya umat Islam ikut duka cita atas tragedi yang menimpa Sayyidina Husain as yang juga bukti empati kita kepada Baginda Nabi Muhammad saw.

Mengapa mereka benci dengan kegiatan Asyura? Perlu kajian ilmiah atas perilaku segelintir orang yang anti dengan Mazhab Syiah di Indonesia.***

(Abu Misykat)


Thu, 20 Sep 2018 @13:55

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved