AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Asyura adalah Bukti Cinta

image

 

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad
“Setiap hari adalah Asyura. Setiap tempat adalah Karbala.” Demi mendengar seruan ini, terbayang kekuatiran pada benak sebagian orang. Asyura identik dengan pertumpahan darah. Karbala adalah pertarungan teramat tragis dalam sejarah. Tapi, benarkah demikian?
Ya, bila yang kita bayangkan adalah kelompok yang berseberangan dengan Imam Husain as. Mereka yang melayangkan panah kebencian yang pertama. Mereka yang melemparkan lembing angkara murka. Mereka yang tak memberi kesempatan bersuara, yang menghamun maki membabi buta.
Sebenarnya Asyura adalah bukti cinta. Karbala adalah hadiah teramat indahnya. Melalui peristiwa 10 Muharram, kita diajarkan nilai-nilai keteladanan dalam pengamalan. Sebutkan satu nilai kebaikan, kita akan temukan permisalannya pada kisah Asyura. Sebagaimana pula setiap nilai keburukan, akan kita temukan pada pihak yang berseberangan.
Maka menjadikan setiap hari Asyura dan setiap tempat Karbala adalah sebuah janji suci untuk menjaga negeri. Untuk menghormati persaudaraan, mendahulukan nilai-nilai kemanusiaan, menyebarkan cinta dan kasih sayang, kukuh memegang janji dan kesepakatan. Tulus dalam berbakti dan perkhidmatan. 
Sayyid Musa Shadr, ulama besar Libanon yang sejak tahun 1980-an menghilang dan tak kembali. Besar dugaan beliau syahid diculik tentara zionis. Beliau kisahkan ada tiga musuh Imam Husain as. Para pembunuh Imam Husain as, sebagai kelompok pertama, justru adalah musuh yang paling tidak berbahaya. Mengapa? Karena mereka hanya membunuh jasad suci Imam as.
Tapi ada kelompok yang kedua, yang justru lebih berbahaya. Kelompok ini ingin menghilangkan jejak Asyura. Mereka tidak ingin nilai-nilai kebaikan yang diajarkan Asyura sampai pada umat manusia. Mereka ingin menguburkannya. Kalau bisa, tak ada yang tahu peristiwa sebesar ini. Mereka kira Asyura sebuah perayaan, padahal peringatan agar kita belajar dari sebuah tragedi teramat besar kemanusiaan.
Lihatlah bagaimana Asyura mengajarkan kita. Di antara pesan terakhir Imam Husain as pada putra beliau yang terbaring sakit, Imam Sajjad as adalah: “Wahai anakku, aku wasiatkan engkau tentang doa orang yang terzalimi (janganlah engkau berbuat zalim). Karena tak ada tirai antara (doa) dia dan Allah Swt.”
Seperti wasiat Baginda Nabi Saw pada Mu’adz ketika mengutusnya ke Yaman: “Jangan berbuat zalim. Karena tidak ada tirai antara doanya dengan Allah Swt, walaupun ia orang kafir.”
Doa orang yang teraniaya, tak bertirai di hadapan Allah Ta’ala. Maka bila di berbagai tempat, hak warga negara tak diberikan, keadilan tak ditegakkan. Kelompok yang satu diberi angin, dan yang lain diharuskan untuk menyesuaikan. Baik dengan pemaksaan maupun rekayasa keadaan, kepada saudara semua, ingatlah pesan Baginda Nabi Saw itu. Orang yang dizalimi punya senjata teramat besarnya: doanya cepat diijabah Allah Ta’ala.
Adapun kelompok ketiga, yang merupakan musuh yang jauh lebih berbahaya dari semuanya: adalah mereka yang menyelewengkan tujuan Asyura. Mereka yang tahu Asyura, bahkan mungkin memperingatinya, tetapi perilakunya bertentangan dengan semangat Asyura. 
Kalau kita menangis, tetapi kita mengambil hak orang lain. Kalau kita berduka, tetapi kita menganiaya. Kalau kita bersedih, tetapi hidup bergelimang dosa. Lisan dan laku yang tak sesuai dengan teladan cinta. Ah, bila Asyura mengajarkan pengorbanan, dengan meluruhkan keakuan, sedang keinginan diri bertahta dan tak dapat dilepaskan. Aduhai, alangkah malangnya bila ketulusan tak jua datang di akhir pengharapan. Semoga kita tidak termasuk yang demikian.
Malam ini, malam para tawanan. Sayyidah Zainab salaamullah ‘alaiha dan keluarga yang kehilangan. Tangis anak-anak yatim yang ditinggalkan kekasih mereka. Duka lara, nestapa, bencana yang tak dapat seorang pun membayangkannya. 
Tapi apa yang dilakukan Sayyidah Zainab salaamullah ‘alaiha? Baru saja siang tadi, saudaranya tercinta, Imam Husain as melepas salam perpisahan. Sambil mendekap erat, Imam Husain as berpesan: “Malam ini, malam yang berat untukmu dan keluarga. Aku bermohon, sebagaimana kau selalu shalat (tahajjud) di setiap malam. Shalatlah malam ini, dan mohonkan doa untukku dari Tuhan.”
Bahkan pada saat puncak penderitaan, shalat malam tak pernah lepas dari teladan. Ajaran seperti inikah yang mereka takutkan? Ajaran shalat bahkan di saat waktu dukacita yang paling berat?
Mari hidupkan semangat Imam Husain as itu. Agar kita terhindar dari mereka yang menyelewengkan. Agar kita jauh dari kelompok yang berusaha menguburkan.
Mari shalat malam ini dalam kenangan Sayyidah Zainab sa dan para tawanan. Mari berdoa malam ini, atas nama setiap orang yang haknya tak diberikan. Perjuangan Asyura justru dimulai malam ini. Kisah Karbala baru saja diawali.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad!
@miftahrakhmat

 

 

Fri, 21 Sep 2018 @07:58

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved