AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Pancasila dan Pesantren [ by Dr Asep Salahudin]

Bekerjasama dengan pesantren,  UKP PIP (Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila) menyelenggarakan serangkaian diskusi publik bertemakan, “Pancasila dalam Pengalaman Kehidupan Masyarakat Pesantren”. Menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang itu baik dari kalangan kampus atau pun dari para kyai yang langsung terlibat dalam pengelolaan pesantren.

Pesantren  sengaja dijadikan subjek utama, sebab bagaimana pun juga pesantrenlah yang menjadi cikal bakal pendidikan di Indonesia. Nafas pesantren sudah sangat panjang terbentang sejak sebelum kaum kolonial datang ke bumi Nusantara  sampai hari ini. Termasuk masa-masa perlawanan heroik terhadap penjajah. Nyaris, terutama sebelum abad 20, pemberontakan terhadap kolonial selalu dipimpin para kyai. Beberapa kelebihan kyai  sehingga menjadi sangat disegani: (1) memiliki kemandirian yang kuat dan tidak  mudah terkooptasi kekuasaan; (2) kedekatan dengan para santri dan masyarakat sekitar ; (3) pusat rujukan tidak saja di bidang keagamaan namun juga dalam persoalan sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan. 

Lokasinya yang tersebar di pedesaan menjadi nilai lebih tersendiri. Artinya pesantren pada titik tertentu  menjadi  penjaga  moral dan  benteng kultural yang kokoh untuk mempertahankan “keaslian”. Untuk menunjukkan bahwa dunia tidak harus semuanya terserap dalam logika modernisme dengan kalkulasi rasionalitas instrumentalnya.

Dialektika
Ada beberapa hal yang melambangkan dialektika  pesantren dan negara. Pertama, pondok pesantren sangat  kuat dalam pemahaman dan pembumian  nilai-nilai Pancasila tanpa harus menggunakan nomenklatur butir-butir Pancasila. Mereka sudah sangat Pancasilais bahkan sebelum Pancasila itu sendiri lahir; kedua, nalar  keagamaan  masyarakat pesantren merupakan  asupan utama dalam pengkayaan konsep  “Ketuhanan yang Maha Esa” sekaligus pengamalannya  dalam bentuk pilihan hidup sederhana, moderasi dan lapang dada; ketiga, adanya kesepahaman tentang Pancasila sebagai ideologi negara  melalui penegasan bersama hubungan sinergitas Pancasila dan agama. Agama dan Pancasila bukan hubungan yang saling menegasikan. Justru Pancasila dinafasi agama sebagaimana segenap umat beragama dalam kehidupan bernegara berada  dalam payung ideologis Pancasila sebagai “warga” yang setara.
Ketiga, pokok-pokok pikiran terutama yang digali dari khazanah  literasi pesantren (kitab kuning) diproyeksikan untuk penguatan dan internalisasi nilai-nilai  Pancasila; keempat, mencari penyelesaian  permasalahan secara utuh di beberapa pesantren  yang dipandang mengajarkan rsdikalisme  yang  nyata-nyata bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945 dan nilai-nilai universal agama dan kemanusiaan; kelima, mempromosikan dimensi kultural kepesantrenan dalam konteks kebangsaan untuk penebalaan kebinekaan dan perwujudan keberagamaan yang inklusif. 
Keenam, menggali sistem makna dari  kitab kuning kaitannya dengan wawasan Pancasila sebagai dasar negara dan otomatis membuka kemungkinan masyarakat pesantren dijadikan  role model dalam pembudayaan nilai-nilai Pancasila. ketujuh, pesantren sebagai –istilah Gus Dur-- sub kultur dan pendidikan keagamaan khas Indonesia dapat menjadi benteng pertahanan yang kokoh  dalam menjaga keutuhan NKRI.

Pancasila sudah final
Pesantren yang kebanyakan berafiliasi pada ormas NU (Nahdatul Ulama) telah menarik kebangsaan satu helaan nafas dengan keislaman. Abdurrahman Wahid menggunakan  alasan  akidah ahli sunnah wal jamaah, “Penerimaan atas Pancasila sebagai asas itu juga dilakukan secara keagamaan, dalam arti mendudukan agama dan Pancasila pada tempat masing-masing tanpa harus dipertentangkan. Antara Pancasila sebagai landasan ideologis-konstitusional dan akidah Islam menurut faham ahlisunnah waljamaah sebagai landasan keimanan, tidak dapat dipertentangkan, karena pada hakikatnya orang berasas Pancasila karena kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa dan dengan demikian megambil salah satu dasar Pancasila, sedangkan berakidah adalah tindakan  mengkonkretkan Pancasila dalam salah satu bidang kehidupan bangsa, yaitu kehidupan beragama. Hubungan yang saling mendukung antara akidah dan asas, dus antara Islam sebagai agama  dan Pancasila sebagai ideologi, adalah hubungan yang saling mengisi yang kreatif, yang akan menyuburkan kedua-duanya”. 

Kitab kuning yang menjadi kurikulum wajib di pesantren banyak mengajarkan cara beragama moderat. Menanamkan sikap terbuka dalam melihat keragaman pendapat. Dalam diksi fikih misalnya bagaimana ulama tidak pernah sepakat dalam satu hal (aqwal), tapi mereka tidak  saling mengkafirkan. Satu sama lain  mengapresiasiya penuh ketakziman. Yang dikedepankan bukan pendakuan tapi mengargumentasikan alasan masing-masing sesuai kaidah keilmuan dengan menjunjung akhlakul karimah. Kata Abu Hanifah “Hadza ra’yi. Fa man ja’ani bi khair mihu qabilnahu (Ini adalah pendapatku, jika ada yang lebih baik akan aku terima)”. Dalam ungkapan Imam Syafii, “Ijtihadku benar walaupun mungkin keliru, dan tidak menutup kemungkinan pikiran orang lain keliru meski mungkin benar”.

Kitab kuning bukan hanya sekadar sehimpunan literasi yang menghubungkan kaum santri dengan khazanah tradisi keislaman yang kaya, namun juga mengajarkan tentang keharusan memiliki kesanggupan memberikan jawaban kontekstual terhadap persoalan-persoalan kekinian baik berkaitan dengan kemanusiaan, Keumatan atau kebangsaan. Kitab kuning mengokohkan santri dalam akar tradisi juga pada saat yang sama menajamkan sudut pandang agar  mempunyai sensitivitas dalam membangun visi.

Role model
Pengalaman pesantren dalam melihat Pancasila inilah yang menarik terus digali dan dimaknai untuk kemudian dijadikan teladan komunitas lain. Pesantren sebagai lembaga keagamaan yang tersebar pada gilirannya menjadi contoh nyata pembumian  Pancasila. Di sisi lain Pancasila  mendapatkan apinya dari nilai-nilai keagamaan yang telah menjadi pengalaman.

Ternyata, kitab kuning yang dikaji di pesantren tidak serta merta  membentuk  santri  berpikir konservatif tapi sebaliknya, mereka seringkali mengembangkan wawasan kebangsaan progresif. Walaupun ada beberapa pesantren yang tergoda  paham puritan.

Tentu pesantren bukan tanpa masalah. Gempuran hedonisme, globalisme, konsumerisme, pragmatisme politik, godaan ajaran keagamaan yang menawarkan “kesalehan sesaat” adalah beberapa hal yang membutuhkan respon memadai dari pesantren. Agar keberadaan pesantren tetap memberikan jawaban terhadap problem keumatan, kemanusiaan dan kebangsaan. Pesantren sebagai kabuyutan, dalam tradisi kearifan Sunda, akan tetap memainkan peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. ***

(Tribun Jabar, Januari 2018)


Fri, 28 Sep 2018 @20:08

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved