Rubrik
Terbaru
MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Berhubungan dengan Partai non-Islam

image

Soal: Beberapa orang percaya bahwa mengadakan hubungan dengan partai-partai non-Islam adalah sebuah konsensi atas beberapa prinsip. Bagaimana pendapat Anda? 

 

Jawab: Persoalan konsensi terkait dengan aspek intelektual atau eksekutif (praktis) dengan cara yang negatif. Sebenarnya ketika kita mendapati kaum Muslim dan kaum sekular bekerja bersama untuk meraih tujuan objektif yang umum ditetapkan pada periode waktu tertentu atau peristiwa-peristiwa maka, dalam kasus tersebut, kami tidak melihat konsensi apa pun untuk kolaborasi, koordinasi, dan persekutuan berdasarkan tujuan bersama antara dua partai. Dan slogan-slogan dari tujuan tersebut mewakili slogan-slogan dua partai ini. 

Ilustrasi yang khusus tentang hal ini adalah situasi yang kita hadapi saat ini dalam menentang Israel dan arogansi dunia baik di negeri kita ataupun dari posisi Islam kita yang umum.

Berdasarkan keadaan yang berlaku tersebut, kita mungkin mendapati bahwa kita mengadakan persetujuan dengan beberapa orang berkakaitan dengan peperangan melawan arogansi dunia atau peperangan melawan Israel. Sedangkan kita tetap memegang prinsip kita dan tidak ada konsensi. Dengan kata lain, orang-orang tersebut berusaha mendapatkan tujuan yang sama dengan kita, memiliki slogan yang sama yaitu menghancurkan atau melemahkan arogansi dunia dan membinasakan Israel.

Sekali lagi, saya katakan bahwa bekerja bergandeng tangan dengan orang-orang tersebut tidak melibatkan konsensi apa pun karena keadaannya seperti melakukan sharing dengan seseorang, yang Anda tidak setujui, sharing dengan garis tertentu atau sharing tentang cara bertindak yang menuju pada keinginan yang sama. 

Beberapa orang mungkin mengklaim bahwa bekerja sama dengan partai ini atau itu yang tidak beragama Islam, atau berperaturan beda atau menentang Islam menunjukkan persetujuan atas kelegitimasian sebagai garis atau partai politik. 

Kami tidak berpendapat demikian karena kita memeriksa persekutuan atau kolaborasi di antara berbagai partai di luar skup Islam yang berbeda satu sama lain dalam ideologi, kondisi, relasi, latar belakang, juga berbagai detil-detil; kita tidak mendapati siapa pun dari mereka mengakui yang lain dalam arti legitimasi intelektual dan politik. 

Namun, mereka bekerja dan bertindak satu sama lain berdasarkan perspektif mengakui eksistensi actual satu sama lain. Dan mengakui eksistensi aktual tidak berarti menyetujui legitimasi ideologi, hubungan, atau apa pun karena dalam permasalahan ini persoalan-persoalan dipandang dari sisi fakta.

Karena itu, kami tidak memandang bahwa berkolaborasi dengan kaum sekuler, yang bermaksud meraih tujuan yang sama dan tidak langsung, menghadapi beberapa perkara, membuat beberapa slogan yang umum yang kebetulan menjadi milik kita dan milik mereka adalah pengakuan atas legitimasi atau sebuah konsensi atas kita. 

Kami menganggapnya sebagai pengakuan eksistensi aktual mereka, sebagaimana Anda mengetahui keberadaan orang tertentu yang aktual dimana Anda bertemu dengannya pada beberapa tujuan yang khusus walaupun berbeda pendapat atau berbeda ideologi.

Karena itu pula, tidak ada masalah dalam yang berkaitan dengan kolaborasi atau persekutuan ini apabila tujuan utamanya sama. Namun, kaum Muslimin mesti sadar dan hati-hati agar mereka tidak mengeksploitasi mereka untuk meraih apa-apa di luar tujuan yang umum dan tidak membiarkan mereka mempertontonkan slogan mereka yang tertentu yang menyimbolkan garis mereka sendiri karena akan berakibat buruk pada garis Islam. 

Poin yang khusus ini lebih berkaitan dengan detil-detil garis depan, aktivitas bersama, dan aktivitas terkoordinasi. Jikalau kita menguji prinsip pertanyaan ini, maka kita akan mendapati bahwa sumber persekutuan, kolaborasi atau koordinasi tersebut tidak melibatkan konsensi intelektual atau praktikal. *** 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

 

Wed, 3 Oct 2018 @21:09

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved