AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Miskin dan Fakir

 

Kosa kata miskin dan fakir baru ada saat Islam mulai menyebar di Nusantara. Jauh sebelumnya, orang-orang di Nusantara tidak mengenal kosa kata yang menunjukkan serba kekurangan. Tidak heran, banyak sekali tradisi di Nusantara yang berhubungan erat dengan penganan, dari mulai kenduri, selametan, bahkan saat ada orang meninggal dunia pun selain diisi oleh tahlilan (cara Walisongo memadukan tradisi dengan Islam) prosesi pemberian makanan kepada tetangga dan makanan selalu dihidangkan. Artinya, Nusantara merupakan wilayah sugih mukti. 

Berita tentang kemakmuran Nusantara sampai ke wilayah nun jauh di sana. Eropa sebagai wilayah yang serba kekurangan menganggap bahwa Nusantara adalah India. Mereka berlayar mencari negeri parahyangan yang gemah ripah loh jinawi itu. Sebuah kepulauan yang berada di Selatan India, sebuah paradise (desa-desa) yang tidak pernah kekurangan dengan unsur kehidupan.

Nusantara

Tentang kehebatan orang-orang Nusantara telah ditulis oleh sejumlah ekspeditur dan penulis kuno. Orang-orang Nusantara merupakan pelaut ulung, mampu melintasi samudera dari Malaysia (sekarang) sampai ke India. Orang-orang India menyebut nenek moyang kita sebagai monster laut, Sang Baruna.

Warisan baik genetik atau sosial kultural itu perlahan dikikis habis oleh orang-orang tidak bertanggung jawab dan merasa takut terhadap kebangkitan kembali Nusantara. Belanda secara perlahan sejak zaman VOC hingga pemerintahan Hindia Belanda menciptakan semangat devide et impera, dikarang cerita palsu seperti adanya perang Bubat antara Majapahit dan Sunda. Ini jelas rekayasa untuk mengadu domba.

Menurut KH. Agus Sunyoto, bagaimana dapat kerajaan Sunda yang cukup besar dikalahkan oleh Majapahit? Kerajaan-kerajaan Nusantara pada masanya justru lebih banyak memperlihatkan sikap tata-krama dengan kerajaan lainnya.

Beruntunglah, saat-saat keruntuhan beberapa kerajaan di Nusantara hadir  Walisongo. Di tangan para wali inilah, tradisi dan kehebatan orang-orang Nusantara tetap dapat diberitakan dan ditransformasikan ke generasi berikutnya. Kita, bisa jadi hanya akan menganggap ini sebuah romantisme. Atau hanya dapat mendengar ceritanya saja tentang kehebatan leluhur bangsa ini. Paling tidak, sikap inferior yang dihembuskan oleh Belanda dan orang lain tentang diri kita mulai terkikis. Kita ini bangsa hebat, akar peradaban dunia tersimpan di Nusantara meskipun berada jauh di dasar nadzir sejarah masa lalu.***

(Tulisan diambil dari Facebook Kang Warsa)

 

 

Sun, 21 Oct 2018 @19:16

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved