MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Sirah Nabawiyah antara Sejarawan Sunni dan Syiah

TIDAK hanya dalam disipilin ilmu-ilmu Islam terjadi pengelompokan mazhab Sunni dan Syiah, bahkan dalam historiografi Sirah Nabawiyah. Sedikit akan saya uraikan bentuk historiografi Sirah Nabawiyah antara sejarawan Sunni dan Syiah. Historiografi antara Sunni dan Syiah bisa terlihat dengan membandingkan buku-buku biografi Nabi Muhammad saw yang beredar.

Jika membaca buku “Sejarah Hidup Muhammad” karya Muhammad Husein Haekal atau buku “Sirah Nabawiyah” karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury bahwa Nabi Muhammad saw digambarkan pernah keliru dan tidak mengetahui dirinya seorang Nabi. Juga tentang peristiwa mendapatkan wahyu pun dramatis; sampai ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya, Khadijah.

Juga penulis sejarah Sunni memuat peristiwa Nabi ditegur Allah karena tidak menghiraukan orang buta, soal penyerbukan kurma yang merugikan petani Madinah, atau Nabi berniat menceraikan Aisyah karena kedapatan berduaan dengan Shafwan dalam perjalanan yang tertinggal, Khadijah seorang janda, dan Abu Thalib bukan seorang mukmin. Juga memuat keputusan Umar benar dalam sebuah eksekusi dan Nabi salah.

Berbeda dengan buku sejarah Nabi Muhammad saw yang ditulis oleh kalangan  Syiah. Sebut saja Jafar Subhani dengan karya berjudul“The Message” (terbitan Foreign Departement of Be`that Foundation, 1984) dan Jafar Murtadha Amili dengan karya yang berjudul “Al-Shahih Min Sirat Al-Nabiy Al-A`Zham Saw”.

Di dalam kedua buku tersebut, Nabi Muhammad saw digambarkan mengetahui dirinya sebagai Nabi. Sosok Muhammad digambarkan sebagai manusia bersih dari kesalahan dan sempurna dalam perilaku serta pendapatnya berdasarkan wahyu. Setiap ucapan dan kehidupannya benar-benar teladan untuk umat Islam karena berada dalam bimbingan Allah.

Masih dari sejarawan Syiah, Sayyid A.A Razwy dalam buku Menapak Jalan Suci Sang Putri Mekkah: Sejarah Khadijah al-Kubra, istri Rasulullah Saw (Jakarta: Lentera, 2002; h.179-180) menyebutkan Khadijah bukan janda, tetapi seorang lajang yang belum menemukan calon yang cocok.

Menurut Razwy bahwa Khadijah banyak menerima lamaran dari para pemuka dan penguasa Arab Mekkah, tetapi ia menampiknya. Khadijah tidak tergoda dengan kekayaan karena ia sendiri seorang pengusaha yang terkenal kaya raya di Mekkah. Siapa pun yang mencoba (melamar) mengesankannya dengan harta atau kekuasaan, jika tidak bodoh, tentu saja naif. Karena itu, Khadijah membuat target sampai adanya seorang laki-laki yang benar-benar mengesankannya, yaitu Muhammad bin Abdullah.

Peristiwa yang jarang disebutkan oleh penulis sejarah dari kaum Sunni adalah tentang peristiwa pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin oleh Rasulullah saw di Ghadir Khum. Peristiwa Ghadir Khum dan kisah pembangkangan sahabat dalam Perang Uhud menjadi kupasan pada buku-buku sejarah versi Syiah. Juga memuat peristiwa sahabat bubar saat khutbah Jumat dan berniat melarikan diri saat terkepung oleh musuh dalam perang Khandaq.

Kemudian tentang tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw antara sejarah versi Sunni dan Syiah berbeda. Kaum Sunni meyakini 12 Rabiul Awwal dan 17 Rabiul Awwal diyakini oleh Muslim Syiah. Meski beda tanggal, tetapi kaum Sunni dan Syiah di Iran merayakan Maulid Nabi secara bersama dari tanggal 12 hingga 17 Rabiul Awwal. 

Mana yang benar dari dua versi di atas? Untuk mengujinya memang harus menggunakan “alat ukur” yang tidak ditolak oleh kaum Sunni maupun kaum Syiah. Yang benar-benar diakui kebenarannya oleh Muslim Sunni dan Muslim Syiah. Tentunya yang melakukan riset yang otoritatif dalam studi sejarah adalah sejarawan. Ilmuwan di luar bidang ilmu sejarah diposisikan sebagai komentator saja. Saya percaya jika dilakukan sejarawan profesional dan mumpuni dalam ilmu sejarah akan lebih objektif dan hasilnya menjadi karya akademik. Tentu juga sejarawan yang wawasan keislaman yang komprehensif dalam ilmu-ilmu Islam.

Dan untuk level non ilmuwan, saya kira Al-Quran bisa digunakan sebagai “mizan” untuk menguji kedua Sirah Nabawiyah, baik dari Sunni maupun Syiah atau juga yang ditulis orientalis. Insya Allah dengan kajian ilmiah dan keseriusan akan bisa terlaksana. Adakah yang berani untuk melakukannya?  *** (AHMAD SAHIDIN, alumni uin sgd bandung)

 

Thu, 22 Nov 2018 @21:57

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved