MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Memahami Historiografi Islam: Tarikh dan Sirah Nabawiyah

image

Saya harus mengucapkan terima kasih kepada Ustadz Jalal (KH Jalaluddin Rakhmat) yang sudah mengenalkan kajian historiografi yang menelusuri kitab-kitab klasik. Karya yang membuat saya kagum dari Ustadz Jalal adalah Misteri Wasiat Nabi (Bandung: Misykat, 2015) sebuah ringkasan dari disertasi Asal Usul Sunnah Sahabat: Studi Historiografis atas Tarikh Tasyri’. 

Karya ilmiah Ustadz Jalal itu telaahnya masuk pada kajian kitab-kitab klasik dan menelusuri tarikh tasyri. Tentu ini luar biasa karena kajian tarikh tasyri, tidak mudah untuk dicerna dan memerlukan studi khusus karena menyangkut sumber dan dasar-dasar hukum Islam sejak masa Rasulullah saw hingga munculnya ulama-ulama yang tergolong dalam mazhab-mazhab, baik fikih atau kalam serta tafsir-tafsir dari Al-Quran dan syarah hadis.

Tidak mudah untuk masuk pada kitab klasik. Apalagi mencari sumber otentik dari kitab-kitab klasik yang dalam perjalanannya sampai kepada kita sekarang ini tidak betul-betul murni dan asli. Pasti ada tangan yang “bekerja” untuk menyesuaikannya dengan sang pencetak atau yang memiliki kepentingan dalam memperbanyak sebuah kitab. Salah satunya kitab Sirah Ibnu Hisyam. 

Kitab Sirah Ibnu Hisyam dikalangan sejarawan termasuk karya klasik yang ditulis masa kekuasaan Bani Abbasiyah. Diawali oleh Ibnu Ishaq yang menulis Sirah Nabawiyah. Sayang tidak tuntas. Lalu, Ibnu Hisyam melanjutkannya hingga dikenal kitab Sirah Ibnu Hisyam.  

Perkenalan saya dengan Ibnu Hisyam dari kuliah Sirah Nabawiyah di Pascasarjana UIN SGD Bandung. Dalam perkuliahan bersama Dr Ajid Thohir disebutkan Ibnu Hisyam dan para muhadis yang berada sejaman berada di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah. Ibnu Hisyam termasuk “intelektual” yang dibayar untuk projek penulisan sejarah Nabi Muhammad saw yang dijadikan pedoman buat para khalifah. Tentu saja ada muatan politik dan kepentingan ideologis di balik projek tersebut.  

Masih terkait dengan Sirah Ibnu Hisyam, saya sempat membaca buku karya Ali Syariati tentang sejarah dari Hijrah hingga wafat Rasulullah saw. Syariati menggunakan Ibnu Hisyam dalam menulis buku tersebut. Syariati menguraikan peristiwa Ghadir Khum yang bersumber dari Ibnu Hisyam. Saya cek buku Sirah Ibnu Hisyam yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia yang ternyata tidak ditemukan. Ketika saya main ke perpustakaan UIN Bandung, saya cek kitab Ibnu Hisyam terbitan Lebanon, ternyata ada dan sama dengan halaman dan bagian yang disebutkan oleh Ali Syariati.

Dari telaah atas kitab Ibnu Hisyam, bisa disimpulkan bahwa kitab klasik sudah tidak bisa diandalkan dalam keasliannya, terutama yang sampai kepada kita sekarang ini. Karena itu, saya perlu acungi jempol dua untuk Ustadz Jalal yang telah mau berlelah-lelah menelusuri dari kitab ke kitab dalam penelaahan hadis wasiat Rasulullah saw tentang washi. Tidak hanya itu, bahkan melacak degradasi sunnah dari Rasulullah saw kepada sahabat. Dari yang sesuai dengan Nabi hingga yang bertentangan. Juga yang hebat adalah kemampuan memahami dan menggunakan metode historiografi dengan teori abduktif untuk menelaah dan melacak artefak-artefak sejarah dalam bentuk kitab-kitab klasik. Sebuah kerja berat dan memang layak diapresiasi.

Kalau karya klasik berupa sejarah saja bisa diotak atik, mungkin juga hadis-hadis yang sampai kepada kita tidak otentik. Pantas saja orientalis curiga dengan hadis-hadis yang beredar dan tersusun bahwa tidak seluruhnya shahih karena ditemukan sejumlah nama perawi (sanad) yang fiktif dan tidak jelas orangnya. Bahkan di antara sesama ulama hadis (hadis) saling melakukan penilaian terhadap rawi (sanad) yang satu sama lain berbeda. Yang dilemahkan oleh Bukhari, ternyata oleh Muslim dan Al-Hakim dinyatakan kuat sesuai dengan syarat atau kaidah hadis yang digunakan Bukhari.

Karena itu, Ustadz Jalal menyimpulkan jarh wa ta’dil tidak bisa digunakan dalam mengkaji hadis dan sunnah Rasulullah saw. Yang memiliki peluang untuk dipakai dan terhindar dari subjektivitas adalah metode historiografis dengan menggunakan teori abduktif. Terbukti berhasil dipakai oleh Ustadz Jalal dalam disertasinya dan lulus dengan predikat amat baik dari Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

Sirah Nabawiyah
Jika Ustadz Jalal mengkaji sunnah dan hadis, bisakah dalam meneliti Sirah Nabawiyah? Saya kira ini kerja berat lagi untuk dilanjutkan oleh orang-orang yang memiliki kapasitas akademik yang selevel dengan Ustadz Jalal. Saya memang tertarik, tetapi masih belum sampai ilmunya. Karena itu, saya hanya sekadar berbagi saja atas pembacaan sejumlah buku Sirah Nabawiyah yang pernah saya baca.

Sekadar berbagi saja. Penulisan sejarah hidup Nabi Muhammad saw yang ditulis sejarawan Muslim kalau dilihat secara teologis terbagi dalam dua: versi Syiah dan versi Sunni. Apabila kita membaca “Sejarah Hidup Muhammad” karya Muhammad Husein Haekal, “Sirah Nabawiyah” karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, dan “Muhammad: Nabi untuk Semua” karya Maulana Wahiduddin Khan, Rasulullah saw digambarkan pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
Begitu pula dengan peristiwa mendapatkan wahyu ditulis bahwa Nabi ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya, Khadijah. Kemudian untuk menegaskan bahwa suaminya itu “waras”, Khadijah mendatangi tokoh agama non Islam. Dari pertemuan itu diketahui bahwa suaminya itu seorang Nabi.

Pada buku sejarah lainnya, juga terdapat peristiwa Nabi Muhammad saw ditegur Allah karena tidak menghiraukan orang buta, soal penyerbukan kurma yang malah merugikan petani, atau Nabi berniat menceraikan Aisyah karena kedapatan berduaan dengan Shafwan dalam perjalanan yang tertinggal, Nabi wafat dalam pelukan Aisyah, dan lainnya.

Berbeda dengan buku Sirah Nabawiyah dari kalangan sejarawan Syiah atau Ahlul Bait. Sebut saja nama Ja`far Subhani dengan karyanya “The Message” (terbitan Foreign Departement of Be`that Foundation, 1984) dan Ja`far Murtadha Amili dengan karyanya “Al-Shahih Min Sirat Al-Nabiy Al-A`Zham Saw”. Pada dua buku tersebut, hampir tidak ada peristiwa sejarah yang membuat Nabi Muhammad saw linglung, ketakutan, atau tidak mengetahui kenabiannya. Dalam buku tersebut ditulis bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia bersih dari kesalahan dan sempurna dalam perilaku serta pendapatnya berdasarkan wahyu. Jadi, setiap ucapan dan kehidupannya benar-benar teladan umat Islam.

Lainnya, yang jarang dikemukakan sejarawan Ahlu Sunnah adalah tentang peristiwa pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib ra setelah pemimpin setelah Rasulullah saw di Ghadir Khum. Ghadir Khum dan kisah pembangkangan sahabat dekat dalam Perang Uhud menjadi kupasan pada buku-buku sejarah versi Syiah.

Begitu juga peristiwa wafat Nabi disebutkan bahwa Muhammad saw bersandar pada dada Imam Ali bin Abi Thalib ra dan sebelumnya Rasulullah saw meminta pena dan kertas untuk sebuah wasiat. Namun, seorang sahabat menyebut Nabi sedang meracau sehingga tidak dipenuhi.

Periodesasi Sejarah

Dalam pembabakan tarikh (periodesasi sejarah), antara karya sejarah yang disusun oleh ulama Syiah dan oleh ulama Sunni memiliki perbedaan. Dalam pembabakan sejarah Islam versi Sunni modern biasanya yang disusun sejarah Islam dimulai dari Nabi Muhammad kemudian periode khulafa rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Imam Ali bin Abi Thalib), daulah-daulah Islamiyah beserta kemajuan umat Islam dalam peradaban dan kebudayaan Islam, dan gerakan pembaruan yang dipelopori tokoh Islam modern seperti Muhammad Abdul Wahab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Ali Jinnah, Muhammad Iqbal, dan perubahan-perubahan yang terjadi di negeri mayoritas umat Islam seperti Turki, Indonesia, Iran, Mesir, Arab Saudi, Pakistan, dan lainnya.

Singkatnya, babak sejarah yang disusun versi sejarawan Sunni meliputi masa klasik, pertengahan, dan modern. Kalau dilacak lagi pembabakan ini lebih mirip bangunan sejarah yang dibangun oleh sejarawan-sejarawan Barat, misalnya Marshal GS Hodgson dan Ira M.Lapidus.

Sementara dalam versi Syiah, setelah Nabi Muhammad saw dilanjutkan para Imam Ahlul Bait dimulai dari Imam Ali kemudian Imam Hasan dan Imam Husain terus sampai periode gaibnya Imam Mahdi Al-Muntazhar pada 230 H./875 M, yang sezaman dengan masa berkuasanya Daulah Abbasiyah. Kemudian periode marjaiyah, yaitu masa wewenang agama dipegang para ulama terpilih yang berlangsung hingga muncul Imam Mahdi. Babak sejarah versi Syiah ini lebih bernuansa teologis karena disesuaikan dengan hadis yang menyebutkan otoritas yang melanjutkan risalah dan syiar Islam dari keturunan Rasulullah saw.

Nah, itu yang bisa saya bagikan atas pembacaan buku-buku sejarah. Bagi yang memiliki informasi atau analisa yang lebih canggih dan ilmiah dengan metodologi sejarah, silakan untuk berbagi. Insya Allah akan saya baca. Hatur nuhun, mugi isuk jaganing geto simkuring dugi kana anu dimaksad. Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Aali Sayyidina Muhammad.*** (5 Syawal 1436/Ahmad Sahidin, alumni UIN SGD Bandung)

Sun, 25 Nov 2018 @06:45

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved