MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Belajarlah Melalui Musik [by DR Kholid Al-Walid]

image

Al-Farabi adalah filosof besar Peripatetik dan Muallim Tsani (Guru Kedua Pasca Aristoteles) mendapatkan kehormatan untuk menghadiri jamuan Saif al-Dawlah Penguasa Aleppo dari dinasti Hamdaniyah.  

Perhelatan raja-raja yang begitu mewah dengan penampilan musik yang terbaik mempesona hadirin namun Al-Farabi justru mengkritik para pemusik istana tersebut yang dia anggap telah merusak citra musik.  

Di tengah kehebohan atas kritik tersebut, al-Farabi mengeluarkan alat musiknya. Ia memainkan notasi yang membuat yang hadir lupa akan diri mereka dan tertawa terpingkal-pingkal. Pada puncaknya al-Farabi mengganti notasi yang menyebabkan seluruh yang hadir menangis histeris seakan mereka ditimpa musibah yang dahsyat. Akhirnya al-Farabi merubah notasi yang membius seluruh yang hadir terlelap seakan bayi. Dan al-Farabi pun pergi meninggalkan istana tanpa ada pengawal yang terjaga seorangpun. 

Begitu dahsyat pengaruh yang ditimbulkan oleh musik yang dimainkan al-Farabi. Dan atas ilmu musik yang dikuasainya ia menulis buku babon dengan judul Kitab al-Musiqi.  

Pada masanya Ilmu Musik bagian dari Filsafat Teoritis dalam bidang Matematika. Dan karena Musik menjadi spesialisasi tersendiri kemudian maka Filsafat tak lagi membahasnya. 

Musik adalah bahasa Universal yang dipahami seluruh makhluk tanpa terkecuali. Daud a.s. ketika membaca Zabur menghentikan seluruh aktivitas apapun yang ada disekitarnya. Singa yang tadinya ganas menjadi jinak disamping kelinci yang diam tak ingin melepas nada-nada zabur dari Daud a.s. Burung-burungpun berhenti di ranting-ranting pohon tak mau melewatkan keindahan musik Ilahiah. 

Musik mengajak kita melintasi batas alam material melanglang di antara cakrawala imajinatif. Musik-musik Spiritual membawa kesadaran pendengarnya pada alam-alam ruhaniah yang indah dan menghadirkan musyahadah semakin tinggi melintas semakin dahsyat dan semakin indah musik yang didengar. Seorang Rumi menari tanpa henti selama 40 hari 40 malam ketika dirinya dipenuhi.musik ruhaniah. Ia tak lagi mampu menguasai dirinya karena dirinya telah dikuasai. 

Demikian juga mereka yang hadir pd konser-konser musik mereka fana' oleh lengkingan musik yang membawa kesadaran mereka pd alam Syaitoniyyah sehingga jiwa kebinatangannya mengambil alih dirinya. 

Keharmonisasian nada, irama, ritme dan bunyi yang ditimbulkan adalah kemestian untuk hadirnya musik yang dapat dinikmati. Jika tidak maka ia tak pantas disebut sebagai musik. Ia hanyalah bunyi sumbang yang merusak suasana. Sebaliknya semakin harmonis empat hal tadi semakin indahlah musik yang dihasilkan. 

Musik adalah dimensi lain dari alam semesta namun keharmonisan yang ada di alam semesta tak dapat dipungkiri. Alamah Thabatabai menyatakan bahwa jika alam ini dirubah ke dalam nada maka akan terdengar alunan suara musik yang sangat indah nan menawan karena keharmonisan setiap bagian yang ada di alam semesta. 

Sayangnya manusia yang diharapkan mampu menjadi dirigent yang mengatur keharmonisan seluruh bagian alam justru bersikap pongah dan merusak sehingga menimbulkan kegagalan opera indah yang tercipta melalui tangan Ilahi. 

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia" (QS 30:41). 

Jika sekarang negeri ini mulai menggelisahkan kita dan kita merasakan ketidak nyamanan maka sesungguhnya ada tangan-tangan yang tengah merusak harmonisasi itu. Kita dipaksa untuk mendengarkan musik-musik sumbang yang menyakitkan. Jangan tanya pada mereka yang merusak harmonisasi itu krn mereka merasa tengah memainkan musik yang indah. Al-Qur'an telah mengisyarakan akan hal itu: 

"Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan" Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar" (QS 2 :11-12). 

Agar alat musik dapat kembali menghasilkan suara yang baik para pemusik melakukan penyeteman ulang atau mengeluarkan pemusik yang tak mampu memainkan musik yang baik. Dalam dunia musik hal ini sebuah kemestian. 

Rasanya perlu di negeri ini melakukan penyeteman ulang terhadap mereka yang tak mampu menjaga keharmonisan kehidupan. karena semakin lama dibiarkan bukan hanya menjauhkan dari harmonisasi bahkan membisukan suara keindahan setiap alat musik. 

Rasanya kita semua perlu sejenak mendengarkan konser musik yang indah dan berkelas seperti halnya Bethoven atau Mozart untuk memahami betapa indahnya keharmonisan. ***

(Dr Kholid Al-Walid adalah dosen STF Sadra Jakarta)

 

Mon, 3 Dec 2018 @11:08

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved