INFORMASI MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima kiriman artikel/opini atau resensi buku. Silakan kirim melalui e-mail: abumisykat@gmail.com

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Islam Indonesia: Studi Pemikiran Jalaluddin Rakhmat (1) [by AHMAD SAHIDIN]

image

Tulisan ini coba menguraikan pemikiran Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal), khususnya tentang pemikiran Islam yang dianutnya. Sumber yang digunakan berasal dari sejumlah wawancara, berita, atau artikel-artikel Kang Jalal yang tersebar di media cetak dan online. Tulisan ini merujuk pula pada sejumlah buku-buku karya Kang Jalal dan pengamatan penulis mulai tahun 2002 hingga 2014.[1] 

Sejak masa itulah penulis membaca karya Kang Jalal berupa buku dan buletin,[2] dan menghadiri ceramah-ceramahnya.[3] Juga mengikuti kegiatan keagamaan yang diselenggarakan organisasi IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan dinakodai oleh Kang Jalal. 

Karena itu, tulisan ini menggunakan penelitian dengan pendekatan insider[4] sehingga lebih banyak mengungkap hasil pengamatan individual ketimbang studi pustaka. Tidak dipungkiri banyak karya ilmiah berupa skripsi, tesis, dan desertasi tentang Kang Jalal yang sudah ditulis. Bahkan ada buku yang khusus membahas Kang Jalal dalam dakwah dengan studi perbandingan dengan tokoh Aa Gym (Abdullah Gymnastiar).[5] 

Biografi

Jalaluddin Rakhmat lahir di Bojongsalam, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 29 Agustus 1948.[6] Pada usia remaja sudah menguasai bahasa Arab berkat mengaji kepada Kiai Shidik. Saat masih kecil pula Kang Jalal ditinggalkan ayahnya yang bergabung dalam barisan penegak syariat Islam. Meski tidak ada peran ayah, ibunya yang membimbing dan memasukan pada sekolah dan madrasah. Kang Jalal termasuk yang sukses dalam menempuh pendidikan. Studi terakhir yang ditempuh adalah pendidikan doktor desertasi berjudul Asal Usul Sunnah: Studi Historiografis atas Tarikh Tasyri’ di Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan. Kang Jalal meraih predikat amat baik dalam ujian promosi doktor dengan co-promotor  Prof Dr H Moch Qasim Mathar MA, promotor Prof Dr H Ahmad M Sewang MA, dan penguji adalah Prof Dr H Abd Rahim Yunus MA, Prof Dr Arifuddin Ahmad M.Ag, dan Dr Hamzah Harun Al Rasyid, Lc MA.[7] 

Berkaitan dengan pendidikan terakhir ini, Kang Jalal sempat diisukan tidak punya ijazah master dan doktor. Pernyataan itu datang dari Said Shamad, pengurus LPPI Makassar, dan ditanggapi pengurus IJABI Makassar.[8] Bukannya beres, malah muncul lagi[9]dan segera Kang Jalal menjawab bahwa pernyataan mereka tidak benar.[10] 

Kang Jalal memang beda dengan Abdurrahman Wahid yang berani langsung serang. Kang Jalal tidak demikian. Cukup dijelaskan seadanya dengan media yang sama. Ini mungkin bagian dari karakter sehingga Kang Jalal terlihat santai ketika dihujat dan dicaci dalam media sosial maupun masjid.[11] Tidak aneh karena dalam kehidupan sehari-hari, Kang Jalal adalah pribadi yang ramah dan bersahabat tanpa membedakan agama atau latar belakang. Dalam sebuah media, Kang Jalal mengatakan, “Saya tak terlalu peduli orang ikut mazhab saya atau tidak. Yang penting orang itu berbuat baik bagi sesama dan tak menghalangi orang lain berbuat baik.”[12] 

Begitu juga dengan sikap rendah hati Kang Jalal terlihat saat bersalaman jika ada yang mencoba mencium tangan, segera menariknya. Pernah suatu waktu tangannya dicium seorang mahasiswa, dengan cepat mencium kembali tangan mahasiswa tersebut. Sesuatu yang tidak biasa karena berdasar pada sikap rendah hati.

Hal lain yang jarang ditemukan bahwa Kang Jalal tidak mau disebut ulama. Orang yang layak disebut ulama adalah Muhammad Quraish Shihab. Pernyataan ini merupakan sikap handap asor dari orang berilmu. Seperti padi, semakin berisi makin merunduk. Bahkan, dalam sebuah acara keagamaan yang mengundang tamu dari Kedutaan Besar Iran pun masih sempat mengatur acara dan bolak-balik mendatangi pemandu acara serta mengatur jalannya kegiatan. Padahal, posisi Kang Jalal adalah orang penting. Bukan sesuatu yang mustahil kalau dalam setiap kegiatan Islam yang diselenggarakan IJABI ada sentuhan tangan dan percikan nalar Kang Jalal. Tampaknya keterlibatan langsung dalam sejumlah acara IJABI adalah bentuk pendidikan dan motivasi bagi generasi muda Islam.[13] 

Karya Tulis

Kang Jalal adalah cendekiawan yang mampu menyampaikan pesan agama dengan baik dan relevan dengan kondisi zaman. Kemampuannya dalam ilmu-ilmu sosial, psikologi, filsafat, dan dirasah Islamiyyah tidak kalah hebat dengan cendekiawan luar Indonesia. Terlihat dari ceramah, pengajian, dan seminar yang bernuansa ilmiah. Materi-materi berat seperti filsafat ketika dipaparkan oleh Kang Jalal terasa mudah dipahami ketimbang membaca bukunya langsung yang terkait dengan materi tersebut. Kang Jalal ibarat kran air yang memuaskan dahaga para pencari ilmu.

Kang Jalal pandai memilih bahasa dan rangkaian katanya rapi serta menarik. Pembahasan filsafat dan kajian agama yang dianggap berat pun kalau diuraikan oleh Kang Jalal bisa langsung dipahami. Kang Jalal kadang membuat contoh dengan pengalaman keseharian sehingga terasa menyentuh. Tidak hanya mampu menyampaikan materi di depan orang-orang dewasa. Bahkan, menyampaikan materi agama dan kesehatan otak di depan murid-murid sekolah.[14] Pengakuan kecerdasan Kang Jalal tidak hanya diakui orang Indonesia. Bahkan, ulama dari Iran dalam sebuah seminar di Bandung pernah menyebut Kang Jalal sebagai salah satu tentera terbaik Imam Mahdi as. Juga ulama di Jawa Timur yang memiliki pesantren besar (kini almarhum) menyebut Kang Jalal sebagai seorang doktor yang paham dengan kondisi zaman dan berilmu pengetahuan. Ulama ini menyarankan murid-muridnya agar menimba ilmu kepada Kang Jalal.[15] 

Sebagai cendekiawan Muslim, Kang Jalal terlibat dalam urusan masyarakat dan ke-Indonesia-an. Ia pernah diutus Pemerintah Republik Indonesia untuk menyebarkan persatuan Islam kepada ulama Lebanon dan sering diundang untuk konferensi Islam di Iran. Bahkan pernah diminta pidato dihadapan Presiden Iran: Ahmadinejad, berkaitan dengan buku Islam dan dunia.[16] 

Sejumlah karya buku yang ditulis Kang Jalal yang diterbitkan adalah  Analisis Isi (1983), Metode Penelitian Komunikasi (1984), Psikologi Komunikasi (1985), Islam Alternatif (1986), Islam Aktual (1991), Renungan-Renungan Sufistik (1991), Retorika Moderen (1992), Catatan Kang Jalal (1997), Reformasi Sufistik (1998), Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer (1998), Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik (1999), Tafsir Sufi Al-Fatihah (1999), Tafsir Bil Matsur (1994), Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi? (1999), Rindu Rasul (2001), Dahulukan Akhlak di Atas Fikih (2002), Psikologi Agama (2003), Meraih Kebahagiaan (2004), Belajar Cerdas Berbasiskan Otak (2005), Memaknai Kematian (2006), Islam dan Pluralisme (2006), Tafsir Kebahagiaan (2010), Al-Mushthafa: Manusia Pilihan yang Disucikan (2008), The Road to Allah (2008),  The Road to Muhammad (2009), Madrasah Ruhaniah (2005), Jalan Rahmat (2011), Sunah Nabawiyah: Kajian 14 Hadis (2012), SQ for Kids (Mizan Pustaka), Khotbah-khotbah di Amerika (Rosdakarya), Menyinari Relung-relung Ruhani (2002), O’Muhammadku (Muthahhari Press, 2001), Khalifah Ali bin Abi Thalib (Rosdakarya), Rintihan Suci Ahlulbait (1988), (Sayyidah) Fathimah Azzahra (Rosdakarya), (Sayyidah) Zainab Al-Qubra (Rosdakarya), Keluarga Muslim dalam masyarakat Moderen (Rosdakarya), Komunikasi Antar Budaya (Rosdakarya), Shahifah Sajjadiyyah (terjemahan Ustadz Jalal), Doa Bukan Lampu Aladin (Serambi, 2013), Berbinar Cinta (Muthahhari, 2015), Afkar Penghantar (2016) dan Jangan Kau Bakar Taman Surgamu (2017).[17] 

Buku tersebut adalah yang terdata oleh penulis. Sedangkan di luar itu mungkin bisa lebih banyak, terutama karya bersama dengan penulis lain dalam bunga rampai buku atau pengantar untuk buku-buku terjemahan.[18] 

Sementara karya Kang Jalal berupa artkel dimuat dalam buletin Al-Tanwir dan majalah seperti Ummat, Ulumul Quran, Tempo, dan Prisma. Untuk surat kabar harian antara lain Pikiran Rakyat, Fajar Timur, Detik, Republika, Pikiran Rakyat, Kompas,Galamedia, dan lainnya. Juga dimuat dalam jurnal Al-Hikmah dan Al-Huda.[19] Karya berupa buku Kang Jalal terdiri dari: ada yang ditulis langsung dan ada yang ditulis ulang dari ceramahnya. Antara karya yang ditulis sendiri dengan yang ditulis ulang (transkrips) dari sisi bahasa dan gaya penuturan tidak jauh berbeda. Malah tidak mengurangi kelezatan dan citarasa dari sajian pemikiran Kang Jalal.

Sejumlah buku yang ditulis ulang dari ceramah biasanya dibaca oleh Kang Jalal untuk diperiksa dan diberi pengantar sebelum terbit. Hal ini karena buku merupakan karya intelektual sehingga kalau sudah terbit menjadi tanggungjawab penulis yang tertera. Orang yang membaca akan langsung melihat, menilai, dan memberikan apresiasi terhadap penulis. Bukan pada lembaga yang menerbitkan. Itulah yang kemudian setiap kali akan terbit, Kang Jalal meluangkan waktu untuk memeriksanya.[20] 

Kang Jalal mengawali karier dalam menulis ketika masih SMP dengan meraih Juara I lomba menulis yang berjudul "Jika Saya Menjadi Seorang Penerbang."[21] 

Memang terbukti sekarang ini Kang Jalal sering terbang ke pelosok daerah di seluruh Indonesia dan mancanegara. Tidak hanya terbang, tetapi juga membagikan ilmu dan berkontribusi dalam merajut ukhuwah Islamiyyah.

Selain buku dan media massa, karya Kang Jalal lainnya berupa rekaman berupa cd audio dan video. Dalam acara IJABI biasanya dijual video kajian atau dialog Kang Jalal bersama narasumber lain. Untuk rekaman audio disebutkan sudah ada sekira seribu file audio dan dibagikan secara gratis kepada jamaah IJABI dan masyarakat umum.[22] Kemudian ada juga media online yang khusus memuat artikel Kang Jalal seperti Majulah IJABI (www.majulah-ijabi.org) dan Misykat (www.misykat.net).[23] 

Melihat karya yang tersebar dalam beragam media maka layak diakui bahwa Kang Jalal termasuk cendekiawan yang produktif dalam dakwah dan telah memberikan pencerahan pemikiran keislaman.[24]

Pilihan Kang Jalal dalam menyampaikan pengetahuan Islam melalui karya tulis merupakan hal yang baik. Banyak ulama yang berilmu, tetapi karena tidak menulis sehingga tidak dikenal dan hilang ditelan zaman. Tanpa sebuah karya, pasti tidak akan mengenal Ibnu Sina sebagai pakar filsafat, kedokteran, dan saintis. Juga tokoh Abu Hamid Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, Mulla Shadra, Miskawaih, Jalaluddin Rumi, Imam Syafii, Al-Bukhari, Ibnu Hisyam, Ibnu Ishaq, Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Khaldun, Abdul Qadir Jailani, dan lainnya.

Meski mereka sudah wafat, orang yang hidup sekian ratus abad setelah mereka masih tetap bisa menikmati buah pemikiran ulama dengan membaca karya tulisnya. Kesadaran menuangkan gagasan dalam tulisan ini memang pernah digaungkan Rasulullah saw: ikatlah ilmu dengan menuliskannya.[25] (bersambung)


CATATAN

[1] Awal perkenalan dengan sosok Kang Jalal—sapaan Jalaluddin Rakhmat—ketika akan menulis skripsi tahun 2002-2003 tentang Konsep Sejarah menurut Ali Syariati. Saya membaca buku-buku Kang Jalal yang secara tidak langsung terkait dengan pemikiran Ali Syariati, Murtadha Muthahhari, dan mazhab Ahlulbait. 

[2] Buletin Al-Tanwir, media dakwah Yayasan Muthahhari. Awalnya terbit setiap dua minggu kemudian sekarang ini terbit ketika ada kegiatan IJABI yang berskala nasional seperti Maulid Nabi, Asyura, Ghadir Khum, dan Milad IJABI.

[3] Di Masjid Al-Munawwarah, di Jalan Kampus IV Babakan Sari Kiaracondong Bandung. Di masjid ini Kang Jalal hampir setiap minggu jam 08.00 – 10.30 memberikan ceramah kepada masyarakat IJABI dan murid-muridnya yang berdatangan dari berbagai tempat. Rekaman ceramahnya dipublikasikan pada situs: almunawwarah.com. 

[4] Insider adalah istilah yang dikenalkan oleh Peter Connolly, yang didasarkan pada aspek agama berupa ajaran dan doktrin. Penelitian ini oleh orang yang beragama atau pemeluk agama yang meneliti agamanya sendiri. Bisa juga diartikan bentuk penelitian dari dalam, partisipan aktif atau emik dalam penelitian antropologi. Tentang kajian insider dalam studi agama dapat dibaca pada karya Peter Connolly, Approaches to the Study of Religion. Buku ini sudah diterjemahkan oleh Imam Khoiri kemudian diterbitkan LKIS di Yogyakarta tahun 2002, dengan judul Aneka Pendekatan Studi Agama.

[5] Karena keterbatasan waktu, penulis tidak sempat menelusurinya. Mungkin nanti kalau ada yang memiliki kepentingan berkaitan dengan penelitian Kang Jalal bisa dilanjutkan dalam penelitian yang lebih serius dan komprehensif.

[6] Haji Dedi, adik kandung Kang Jalal, menyebutkan lahir 1948 dalam acara Milad Kang Jalal.

[7] Lihat http://www.majulah-ijabi.org/berita/ustadz-jalal-raih-doktor-bidang-pemikiran-islam

[8]Tanggapannya dimuat dalam Harian Fajar.

[9]Muncul pada situs UIN Alauddin

[10]Terkait dengan ini, Kang Jalal juga memberikan penjelasan yang sama untuk media online Arrahmah yang dimuat dalam situs Misykat. Lengkapnya silakan baca pada situs:http://misykat.net/article/126847/jalaluddin-rakhmat-dari-masalah-syiah-sampai-ijazah.html dan http://misykat.net/article/127932/kang-jalal-menjawab-fitnah-arrahmah-tentang-desertasi-di-uin-makassar.html.

[11] Tentang ini penulis mendengar langsung pernyataan khutbah jumat dari Athian Ali M.Dai di Masjid Darussalam, Jalan Pasirwangi Soekarno Hatta Bandung, pada sekira 2010. Kemudian terulang kembali di Masjid Al-Fajr Jalan Cicagjra dalam pengajian hari Sabtu pagi, Desember 2014. Dalam facebook banyak yang melontarkan pernyataan yang memplesetkan nama Kang Jalal menjadi Dajjaluddin Laknat. Menurut keterangan salah seorang pengurus IJABI, Kang Jalal akan memproses mereka secara hukum.   

[12] Harian Kompas, Jalaluddin Rakhmat, Intelektual yang Membumi.

[13]  Lihat http://misykat.net/article/124980/kh-jalaluddin-rakhmat-ulama-yang-ramah.html

[14] Pengalaman penulis saat mengajar di SMP Bahtera, beberapa Kang Jalal diundang untuk ceramah tentang agama, kesehatan otak, dan berbagi pengalaman belajar dengan anak-anak.

[15] Ulama Jawa Timur tersebut almarhum Ustadz Husein Al-Habsyi dari Pesantren YAPI Bangil, Jawa Timur.

[16] Pada sebuah berita online disebutkan Kang Jalal pernah diminta untuk menyampaikan pidato berkaitan dengan Dunia Islam di depan Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad. Ketika dikonfirmasi, keluarganya membenarkan informasi tersebut.

[17] Alhamdulillah, sekira 14 buku karya Kang Jalal sudah pernah dibaca.

[18] Misalnya pengantar pada buku Tafsir Doa Kumayl karya Sayyid Muhammad Husein Fadhlullah (Bandung: Marja, 2009) atau pengantar untuk penulis Indonesia seperti Islam Mazhab Fadhlullah karya Husein Jafar Al-Hadar (Bandung: Mizania, 2011).

[19] Kalau dilacak mungkin lebih banyak lagi media yang memuat tulisan Kang Jalal.

[20] Informasi ini penulis dapatkan dari putra Kang Jalal, yaitu Ustadz Miftah Fauzi Rakhmat. Pengalaman penulis ketika bekerja di penerbitan bahwa memang sudah prosedur untuk dilakukan persetujuan penulis buku sebelum cetak.

[21] Dedi Jamaluddin Malik dan Idi Subandy Ibrahim, Zaman Baru Islam Indonesia(Bandung: Zaman Wacana Mulia, 1998).

[22] Informasi ini didapatkan dari salah seorang pengurus IJABI Jawa Barat yang berlokasi di Jalan Buah Batu Bandung.

[23] Situs: www.majulah-ijabi.org dan www.misykat.net.

[24] Hal ini juga sesuai dengan pengakuan orang-orang yang pernah belajar kepada Kang Jalal, yang mereka tulis: http://misykat.net/article/141822/saya-dan-kang-jalal-melvin-tanjung.html(Malvin Tanjung, aktivis di perguruan tinggi Islam),http://afikrizain.blogspot.com/2012/08/kang-jalal-bridge.html (Muhammad Zain, Litbang Kementerian Agama RI), dan http://misykat.net/article/138029/saya-bangga-dengan-jalaluddin-rakhmat.html (Abdi MS, dosen di Toronto, Canada).

[25] Hadis ini beredar dalam riwayat dan hadis yang terdapat dalam kitab yang membahas ilmu seperti Ushul Al-Kaafi karya Al-Kulaini pada bab aql.

PENULIS: Ahmad Sahidin adalah alumni Pascasarjana UIN SGD Bandung

Sun, 16 Dec 2018 @13:58

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved