Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Islam Indonesia: Studi Pemikiran Jalaluddin Rakhmat (2) [by AHMAD SAHIDIN]

image

Pemikiran Islam

Kang Jalal termasuk cendekiawan yang kontroversial. Nasibnya sama dengan Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid yang tidak mudah diterima gagasannya di kalangan fundamentalis Islam Indonesia. Terutama karena Kang Jalal dikenal sebagai tokoh Muslim Syiah Indonesia yang terus mendapatkan serangan dari pihak-pihak anti Syiah.[1] 

Tidak hanya disebut sesat, Kang Jalal juga diancam akan dibunuh. Ancaman ini datang ketika Kang Jalal mengerjakan disertasi di Universitas Islam Negeri Makassar. Sejumlah orang datang dan memprotes UIN Makassar meminta agar Kang Jalal dieliminasi dari kandidat doktor. Namun, permintaan mereka ditolak karena UIN Makassar memberikan gelar doktor berdasarkan pertimbangan ilmiah. Karena ditolak, mereka mengeluarkan ancaman dengan menyatakan darah Kang Jalal halal untuk ditumpahkan.[2] 

Kang Jalal memang intelektual yang menarik untuk dikaji pemikirannya. Kalau membaca sejumlah buku yang ditulisnya cukup sulit untuk dikategorikan dalam ranah liberal atau fundamental. Hal ini karena dua dimensi itu ada dalam pemikiran Kang Jalal. Liberal terlihat dari keberanian untuk mengkritik pemikiran intelektual maupun politisi yang tidak memihak kaum dhuafa. Tidak anti dengan gagasan dari Barat, bahkan kerap menggunakan istilah dan mengutip pemikiran dari intelektual Barat. Dekat dengan non-Islam dan membela kalangan Islam liberal ketika dikritik kalangan Islam fundamentalis.

Berdasarkan telaah (sementara) terhadap sejumlah buku dan gagasan yang muncul dalam sejumlah forum ilmiah atau seminar, maka dapat dibagi dua.

Pertama adalah Pribumisasi Syiah.[3] Pemikiran ini berkaitan dengan ajaran Islam yang diyakini oleh Kang Jalal, yaitu mazhab Syiah Imamiyah.[4] Kang Jalal mengenal Syiah ketika menghadiri konferensi Islam internasional di Kolombo, Srilangka. Saat itu bersama Haidar Bagir dan Endang Saefuddin Anshari, Kang Jalal mendapatkan undangan untuk menghadiri konferensi. Sebelum berangkat, ketiganya menemui Mohammad Natsir yang berada di rumah sakit. Natsir berpesan bahwa kalau nanti bertemu dengan ulama Syiah jangan didengarkan dan agar menolak buku-buku yang diberikannya.

Dalam konferensi, Kang Jalal bertemu dengan Ayatullah Ali Taskhiri dari Iran. Terkesan dengan perangai akhlaq, cara berbicara, dan pidato yang membuatnya terkagum-kagum sehingga memberanikan diri berkenalan dengan ulama Syiah. Kang Jalal menerima buku-buku dan melakukan konfirmasi langsung kepada Taskhiri tentang Syiah yang diketahuinya di Indonesia. 

Kemudian dalam pertemuan Islam di Arab Saudi bertemu dengan Syaikh Muhammad Tijani Samawi dari Tunisia. Dari sana kemudian melakukan dialog dan membaca kemudian mengkaji Syiah langsung pada sumbernya. Kemampuan mengakses sumber-sumber teks bahasa Arab, Inggris, Belanda, Jerman, dan Parsi menggerakan Kang Jalal untuk memahami Syiah dengan baik dari sebelumnya.[5] Ditambah interaksi dengan habib-habib yang memiliki kecenderungan pada mazhab Syiah sehingga makin tertarik dengan ajaran Syiah. Apalagi revolusi Islam Iran di bawah pimpinan Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini yang bergelora sampai Asia Tenggara semakin tertarik untuk menggali Syiah dan bersentuhan dengan buku-buku karya intelektual Syiah modern seperti Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, Muhammad Baqir Sadr, dan Muhammad Husein Fadhlullah. 

Di antara tokoh Syiah modern yang berpengaruh adalah Muthahhari, yang menginspirasi Kang Jalal untuk mendirikan Yayasan Muthahhari di Bandung bersama Ahmad Tafsir dan Haidar Bagir. Kegiatan Muthahhari memberikan pengajian untuk mahasiswa, mendirikan lembaga pendidikan SMA Plus Muthahhari, menerbitkan jurnal Al-Hikmah dan buletin Al-Tanwir (kini sudah ada bentuk oline yaitu www.altanwir.net). 

Menurut Kang Jalal bahwa Muthahhari adalah seorang pemikir Muslim Syiah yang sangat non-sektarian dan yang sangat terbuka dengan berbagai pemikiran. Sangat apresiatif terhadap pemikiran Sunni, tidak menyerang Sunni, dan lebih banyak belajar dari Sunni. Muthahhari juga orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Islam tradisional, tetapi menerima khazanah pemikiran Barat dengan sikap kritis dan mampu menjembatani dikotomi antara intelektual dengan ulama.[6] 

Sebagaimana dinyatakan Kang Jalal dalam wawancara: “Kita pilih ia, antara lain karena pertimbangan itu, bukan karena Syiah. Karena misi Yayasan Muthahhari yang kedua adalah menjembatani antara intelektual dan ulama. Di Indonesia ini banyak cendekiawan yang menulis tentang Islam, tetapi tidak punya dasar dan tradisi Islam tradisional, sebagaimana juga banyak ulama Islam tradisional yang tidak mempunyai wawasan kemodernan. Muthahhari mencerminkan keduanya.”[7] 

Dari Muthahhari ini berdiri SMP Plus Muthahhari di Kabupaten Bandung, yang khusus untuk anak-anak dhuafa dengan menggabungkan kurikulum nasional dan pesantren.[8] Pada tahun 2007 lahir Sekolah Cerdas Muthahhari tingkat dasar dan Bahtera Muthahhari tingkat sekolah menengah tahun 2010 di Kota Bandung.[9] 

Setelah berhasil mendirikan sekolah dan membina jamaah di Masjid Al-Munawwarah, pada 1 Juli 2000 Kang Jalal mendirikan organisasi masyarakat agama Islam yang bernama Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) di Gedung Merdeka, Bandung. Ormas IJABI ini resmi terdaftar di Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat nomor 127 Tahun 2000/D.I. tanggal 11 Agustus 2000. IJABI didirikan untuk memenuhi kebutuhan umat yang haus pencerahan dan pemikiran  Islam serta membantu meringankan beban mustadhafin dengan program pemberdayaan masyarakat.[10] Kang Jalal sendiri sejak berdiri hingga sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Syura IJABI. Ormas IJABI ini bersifat nasional, berasas Pancasila, dan memiliki cabang yang tersebar di seluruh Indonesia dengan jumlah sekira 2,5 juta orang.[11] 

Hampir pada setiap kegiatan IJABI yang bersifat nasional dibacakan teks Pancasila secara bersama dengan dipandu salah seorang panitia, menyanyikan lagu Indonesia Raya, membaca ayat suci Al-Quran, dan melantunkan shalawat. Ini tampaknya keharusan sebagai organisasi nasional sehingga identitas Indonesia muncul dalam setiap kegiatan IJABI. Terbantahkan isu yang menyatakan IJABI sebagai organisasi yang berafiliasi pada wilayah faqih Republik Islam Iran. 

Berkenaan dengan pemahaman keagamaan Kang Jalal, secara prinsip tidak berbeda dengan kaum Muslimin Syiah yang tersebar di dunia ini. Meyakini lima dasar agama (rukun iman) yang terdiri dari: tauhid, keadilan Ilahi, nubuwwah, imamah, dan al-maad. Juga mendasarkan amalan ibadah berdasarkan rukun Islam: shalat, zakat, puasa, haji, dan wilayah. Menyelenggarakan Maulid dan Haul Rasulullah saw, Ghadir Khum, Asyura, Nisfu Syaban, dan Lailatul Qadr melalui ormas IJABI sebagai penyelenggaranya. 

Dalam penyelenggaraan acara-acara IJABI yang berskala nasional, Kang Jalal memasukan unsur budaya Sunda dalam kegiatan Asyura, Maulid, dan Ghadir Khum. Misalnya pada narasi yang mengisahkan wafat Imam Husain, cucu Rasulullah saw, Kang Jalal membuat syair dalam bahasa Sunda. 

Imam Husen imam kaum mustadh`afin

Ngocorkeun getihna

Ngajait nasib nu leutik

Ngabela umat tunggara

 

Tara sepi pamingpin anu munafik

Ngabobodo rayat

Majar Islam nu diaping

Padahal mangeran dunya

 

Yazid nyebut maneh Amirul mu`minin

Raja nagri Islam

Bari solat bari haji

Kalakuan euwah-euwah

 

Rayat ceurik balilihan ting jarerit

Hartana dirampas

Jasmanina dinyenyeri

Jaba batin digerihan

 

Imam Husen sumegruk bari lumengis

Di makam eyangna

Bari ngeprikkeun kasedih

Ngemutan umat nu lara

 

Islam nu hak kalandih ku Islam batil

Imam ditebihan

Nu ngagem Islam nu asli

Dicempad majarkeun murtad

 

Imam Ali nu nyangking wasiat Nabi

Pahlawan khaibar

Kakasih Rabbul Izzati

Dila`nat di mimbar-mimbar

 

Di Karbala poek mongkleng sepi jempling

Panon poe sirna

Murubut hujan ti langit

Hujan getih jeung cimata

 

Di Karbala ngababatang raga suci

Putrana Fatimah

Deudeuh teuing putu Nabi

Ditandasa ku umatna

 

Mastaka nu sok diambung Kanjeng Nabi

Kiwari papisah

Ti jasad kakasih Gusti

Ditancebkeun dina tumbak

 

Di Karbala ngagolontor getih suci

Ti para syuhada

Anu tigin kana jangji

Bumela ka Imam Jaman

 

Kumaha rek kenging syafaat Jeng Nabi

Umat nu hianat

Ngiclik nuturkeun si iblis

Bahula ka Rasulullah

 

Kanjeng Rasul, hapunten abdi nu dolim

Nu teu mirosea

Perlaya na putu Gusti

Al-Husen Abu Abdillah [12]

 

Tidak hanya bentuk narasi yang disesuaikan dengan budaya lokal, peralatan pendukung pagelaran pun khas Sunda seperti kacapi, suling, angklung, dan lainnya. Bahkan, sekarang ini Kang Jalal sendiri mengenakan ikat kepala (ikaet) dan baju kampret khas Sunda. Hampir pada setiap acara raksukan (pakaian) Sunda dilekatkan seakan menjadi khas Kang Jalal. 

Berkaitan dengan ajaran Syiah, Kang Jalal memahami perbedaan Sunni dengan Syiah terletak pada hadis. Mazhab Sunni mengambil hadis-hadis dari sahabat Nabi dan Syiah berasal dari keluarga Nabi.[13] Dalam doa merujuk kepada doa-doa yang diajarkan para Imam dari Ahlulbait yang terdapat dalam Sahifah Sajjadiyah dan Mafatihul Jinan. 

Dalam syukuran hari kelahirannya, Kang Jalal sempat membagikan Al-Quran dari Iran yang biasa dibaca penganut Syiah. Menurutnya, Al-Quran yang dimiliki Syiah dicetak lebih baik dengan kertas yang bagus dan desain yang bagus dan cara perlakuan Muslim Syiah terhadap Al-Quran sering dicium serta disentuhkan pada kening.[14] 

Pemahaman Kang Jalal yang mungkin beda dengan Muslimin Syiah lainnya berkenaan dengan nikah mut’ah. Secara akademis nikah mut’ah termasuk halal karena didasarkan  pada Al-Quran surah Annisa ayat 24 dan hadis-hadis shahih dari jalur Ahlusunnah. Namun, dikarenakan kondisi masyarakat Islam Indonesia yang belum memahami perbedaan dan masih ada persepsi buruk dengan istilah mut’ah maka oleh Kang Jalal dinyatakan “haram” untuk masyarakat IJABI. Meski tidak diakui dalam Kantor Urusan Agama (KUA), tetapi praktiknya dilakukan semua orang yang menikah karena setelah akad nikah biasanya langsung membaca sighat taqliq thalaq.[15] Di dalamnya disebutkan pernikahan terputus dikarenakan ditinggal suami dan tidak dinafkahi selama enam bulan.[16] 

Dalam acara musyawarah IJABI Jawa Barat, Kang Jalal menyampaikan Duta Besar Republik Islam Iran dan ulama Iran pernah meminta berbicara khusus berkaitan dengan isu antiwilayah faqih dan tidak mengikuti marja’ taqlid. Tuduhan itu dijawab oleh Kang Jalal dengan menerangkan bahwa penjelasan wilayah faqih berbeda-beda. Misalnya wilayah faqih menurut Imam Khomeini, wilayah faqih menurut Sayid Husein Fadhlullah, wilayah faqih menurut Ayatullah Muntazhiri, wilayah faqih menurut Ayatullah Kazhim Hairi, dan wilayah faqih menurut Baqir Shadr.[17] 

Sekadar diketahui bahwa wilayah faqih merupakan gagasan yang mendasarkan pemerintahan atau masyarakat harus dipimpin oleh seorang faqih atau orang yang memiliki pengetahuan agama yang mendalam (ulama). Gagasan seperti ini kali pertama disampaikan filsuf Plato yang mengatakan masyarakat akan baik kalau dipimpin seorang filsuf. Gagasan ini masuk dalam filsafat Islam melalui gerakan penerjemahan buku-buku dan dikembangkan oleh Al-Farabi yang menulis buku Al-Madinah Al-Fadhilah, Fushul Al-Madani. 

Gagasan ini muncul lagi pada zaman modern oleh Imam Khomeini hingga menjadi sistem pemerintahan Republik Islam Iran. Imam Khomeini pula yang menempati posisi sebagai rahbar dalam wilayah faqih. Karena wilayah faqih menempatkan ulama dalam kedudukan yang tinggi maka Kang Jalal sebagai pucuk pimpinan IJABI menempatkan dewan syura[18]di daerah-daerah tempat bernaungnya organisasi IJABI di mana pun berada.[19] 

Dalam urusan ibadah, Kang Jalal menyatakan bahwa Muslim Syiah dianjurkan untuk shalat wajib dan shalat jumat bersama Ahlussunnah. Banyak ustadz IJABI yang menjadi khatib dan menjadi pengurus masjid sehingga dalam menjalankan ibadah menyesuaikan dengan pemahaman agama yang berlaku di masyarakat.[20] Hal ini menandakan Kang Jalal melakukan pribumisasi Islam Syiah di tengah masyarakat Indonesia yang beragam budaya dan agama. (bersambung)


CATATAN:

[1] Kalangan anti Syiah menyebut Kang Jalal sebagai orang sesat dan berbahaya bagi umat Islam Indonesia.  

[2] Lihat berita “Kang Jalal pun Diancam Mati” dalam situs www.tempo.co (diakses Minggu, 02 September 2012, jam 21:03 Wib). 

[3] Penulis memahami pribumisasi merupakan upaya memasukan nilai-nilai Islam dalam khazanah Indonesia sehingga Islam yang muncul khas Indonesia. Istilah ini merujuk pada KH Abdurrahman Wahid (Gusdur).

[4] Kelompok Islam Syiah yang mayoritas di Iran, Lebanon, Bahrain, Irak, Kuwait, dan Indonesia. Kelompok ini meyakini dua belas imam setelah Rasulullah saw wafat. Imam kedua belas, Al-Mahdi, oleh kalangan Muslim Syiah Imamiyah diyakini masih hidup dan akan muncul sebelum terjadi Kiamat.

[5] Informasi ini dari Ustadz Miftah F. Rakhmat dalam ceramah di Masjid Al-Munawwarah.

[6] Wawancara Kang Jalal dengan majalah Ulumul Quran. Kemudian dimuat dalam buku Jalaluddin Rakhmat, Catatan Kang Jalal: Visi Media, Politik, dan Pendidikan(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998) halaman 433-460.

[7] Wawancara Kang Jalal dengan majalah Ulumul Quran. Kemudian dimuat dalam Jalaluddin Rakhmat, Catatan Kang Jalal: Visi Media, Politik, dan Pendidikan(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998) halaman 460.

[8] Sekolah ini dipimpin oleh Haji Dedi Rakhmat, adik Kang Jalal.

[9] Berlokasi di kawasan Arcamanik Bandung.

[10] Ahmad Sahidin, Aliran-Aliran dalam Islam (Bandung: Salamadani Publishing, 2009) halaman 24-25.

[11] Lihat pernyataan Kang Jalal dalam berita yang berjudul “Bandung, Kantong Syiah Terbesar di Indonesia” dimuat pada situs Tempo.co (diakses pada Kamis, 30 Agustus 2012).

[12] Narasi ini dibuat Kang Jalal dan dilantunkan dalam acara Asyura Imam Husain as pada tahun 2010 di Gedung Istana Kana, Kawaluyaan Soekarno Hatta Bandung.

[13] Lihat berita “Mau Tahu Perbedaan Sunni dan Syiah?” dalam situs Tempo.co(diakses pada jumat, tanggal 20 Mei 2012).

[14] Lihat berita “Kang Jalal dan Al-Quran yang Dibaca Kaum Syiah” dalam http://id.berita.yahoo.com/kang-jalal-dan-al-quran-yang-dibaca-kaum-235723156.html.

[15] Lihat berita “Organisasi Syiah Indonesia Bantah Bolehkan Nikah Mutah” dalam situs: news.okezone.com (diakses tanggal 31 Desember 2011).

[16] Penulis pun ketika menikah sempat membacanya dan diharuskan oleh petugas KUA.

[17] Pemahaman wilayah faqih ini menurut Dr Yamani masuk dalam filsafat politik Islam. Lihat Yamani, Antara Al-Farabi dan Khomeini: Filsafat Politik Islam (Bandung: Mizan, 2002).

[18] Dewan syura adalah orang-orang yang telah ditetapkan oleh Kang Jalal sebagai ustadz yang bertugas memberikan pencerahan untuk jamaah IJABI sesuai dengan daerahnya.

[19] Lihat berita “Ust Jalal: Di IJABI Wilayah Faqih Bukan Wacana, Tapi Penerapan” dalam situs Majulah Ijabi: http://www.majulah-ijabi.org/ijabikita/ust-jalal-di-ijabi-wilayah-faqih-bukan-wacana-tapi-penerapan (Diakses tanggal 23 Desember 2014, jam 06.09).

[20] Lihat berita “Organisasi Syiah Indonesia Bantah Bolehkan Nikah Mutah” dalam situs: news.okezone.com (diakses tanggal 31 Desember 2011). 

PENULIS: Ahmad Sahidin adalah alumni Pascasarjana UIN SGD Bandung

Sun, 16 Dec 2018 @14:09

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved