Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Islam Indonesia: Studi Pemikiran Jalaluddin Rakhmat (3) [by AHMAD SAHIDIN]

image

Kedua, Paradigma Akhlak. Pemahaman Kang Jalal tentang agama Islam tidak jumud. Kang Jalal melihat yang relevan sekarang ini berupaya mengurangi benturan pemahaman dengan mendahulukan akhlak. Pemahaman ini diceramahkannya dalam pengajian dan ditulis pula dalam buletin Al-Tanwir. Ada sekira empat edisi, Kang Jalal menulis tentang dahulukan akhlak yang kemudian oleh Ustadz Miftah F. Rakhmat disusun menjadi buku tersendiri yang kali pertama diterbitkan Muthahhari Press pada 2002. Lalu, diterbitkan Mizan pada 2007 setelah mengalami perbaikan dan penambahan materi. Kemudian Muhammad Babul Ulum menerjemahkannya dalam bahasa Arab dengan judul‘Alaykum bi Makarim al-Akhlaq, yang terbit di Irak pada 2011.[1] 

Apabila melihat konteksnya, gagasan dahulukan akhlak ini dilatarbelakangi pengalaman Kang Jalal saat di kampung kelahirannya. Sebagaimana dituturkannya dalam sebuah wawancara di Jakarta, sebagai berikut: 

“Saya harus mengingat kembali pengalaman hidup saya. Saya dilahirkan dalam keluarga nahdliyin. Kakek saya punya pesantren di puncak bukit Cicalengka. Ayah saya pernah ikut serta dalam gerakan keagamaan untuk menegakkan syariat Islam. Begitu bersemangatnya, beliau sampai meninggalkan saya pada waktu kecil dan bergabung dengan para pecinta syariat. Saya lalu berangkat ke kota untuk belajar, dan bergabung mula-mula dengan kelompok Persatuan Islam (Persis) dan masuk kelompok diskusi yang menyebut dirinya Rijalul Ghad atau pemimpin masa depan. Pada saat yang sama, saya juga bergabung dengan Muhammadiyah dan dididik di Darul Arqam Muhammadiyah serta pusat pengkaderan Muhammadiyah. Dari latar belakang itu, saya sempat kembali ke kampung untuk memberantas bidah, khurafat, dan tahayul. Tapi sebetulnya, yang saya berantas adalah perbedaan fikih antara fikih Muhammadiyah dengan fikih NU orang kampung saya. Misi hidup saya waktu itu saya rumuskan singkat: menegakkan misi Muhammadiyah dengan memuhammadiyahkan orang lain.  

“Tapi apa yang kemudian terjadi? Saya bertengkar dengan paman saya yang masih membina pesantren, dan penduduk kampung. Sebab ketika semua orang berdiri untuk shalat qabliyah Jumat, saya duduk secara demonstratif. Saya hampir-hampir dipukuli karena membawa fikih yang baru. Singkat cerita, melalui pengalaman hidup, saya menemukan bahwa fikih hanyalah pendapat para ulama dengan merujuk pada sumber yang sama, yaitu Al-Quran dan sunnah. Hanya saja, kemudian berkembang pendapat yang berbeda-beda. Kekeliruan saya waktu itu: berpikir bahwa fikih itu sama dengan Al-Quran dan sunnah. Artinya, kalau orang menentang Al-Quran dan sunnah, jelas dia kafir. Tapi kalau hanya menentang pendapat orang tentang Al-Quran dan sunnah, kita tidak boleh menyebutnya kafir. Itu perbedaan tafsiran saja.

“Karena itulah kemudian saya berpikir bahwa sebenarnya ada hal yang mungkin mempersatukan kita semua, yaitu akhlak. Dalam bidang akhlak, semua orang bisa bersetuju, apa pun mazhabnya. Lalu saya punya pendirian: kalau berhadapan dengan perbedaan pada level fikih, saya akan dahulukan akhlak. Kalau datang ke jamaah NU yang qunut subuh, demi ukhuwah dan memelihara akhlak di tengah-tengah saudara saya, saya akan ikut qunut, walau saya misalnya orang Muhammadiyah yang tidak qunut. Tapi, ketika bergabung dengan orang-orang Muhammadiyah, saya mungkin tidak qunut demi menghargai jamaah sekitar saya. Itu yang saya maksud mendahulukan akhlak di atas fikih.”

Lebih jauh Kang Jalal juga menjelaskan makna akhlak yang menjadi gagasan utama dari paradigma akhlak yang diusungnya:

“Menurut saya, akhlak sebenarnya tidak ada yang sektarian. Saya percaya, tidak ada relativisme moral, termasuk relativisme akhlak. Ada yang mengatakan bahwa akhlak itu relatif. Menurut saya, orang baik yang menurut orang lain bukan orang baik itu tidak ada. Apakah membantu orang lain, menyebar cinta kasih, menolong mereka yang teraniaya, baik menurut mazhab tertentu, tapi buruk menurut mazhab lain? Saya ingin tahu: adakah akhlak yang sektarianistis? Beri saya satu contoh agar saya tidak kebingungan. Katanya, orang bingung membaca buku saya, karena definisi akhlaknya membingungkan. Menurut saya, akhlak tidak usah didefinisikan. Sebab semua orang tahu mana akhlak baik dan mana yang buruk. Yang ingin saya tahu: kira-kira, apa akhlak yang baik menurut satu mazhab tapi buruk menurut mazhab lain? 

“Menurut saya, boleh saja orang lain memakai standar berbeda-beda. Tapi, standarnya adalah akhlak yang disepakati bersama. Kalau bicara tentang akhlak, saya bicara tentang sesuatu yang kebaikannya disepakati bersama. Itulah yang disebut nilai-nilai universal, universal values. Dalam setiap agama, termasuk Islam, terdapat nilai-nilai universal itu. Kita bisa berbagi, hatta dengan agama lain dalam soal nilai-nilai universal ini. Kalau dianalogikan dengan hukum, jadinya kira-kira begini. Di hukum itu, sebenarnya ada masalah antara kepastian hukum dan keadilan. Kalau kita berpegang pada aksara, kepada hukum secara letterlijk , akan ada suatu situasi di mana hukum menjadi tidak adil. Di situlah kepastian hukum bertabrakan dengan ketidakadilan. Analogi itu bisa mengibaratkan soal akhlak dan fikih. Akhlak menurut saya adalah sesuatu yang pasti. Semua orang sepakat soal keutamaan akhlak. Yang tidak sepakat adalah tentang fikih. Jadi, daripada berpegang pada fikih yang tidak pasti, lebih baik kita berpegang pada akhlak yang sudah pasti.”[2] 

Dari pengalaman hidup dan renungan terhadap pemahaman agama yang berlaku di masyarakat, Kang Jalal mencoba memberikan penyelesaian dengan mengangkat akhlak sebagai paradigma.

Dalam buku Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih, disebutkan paradigma adalah cara memandang atau persepsi manusia terhadap apa-apa yang dipandang. Paradigma menentukan apa yang diyakini kemudian menentukan perilakunya. Untuk menciptakan masyarakat menuju kondisi damai yang penuh persaudaraan (ukhuwah Islamiyyah). Dengan paradigma akhlak ini Kang Jalal berupaya menghadirkan kembali misi Nabi Muhammad saw yang turun untuk menyempurnakan akhlak di tengah masyarakat Indonesia. Banyak ayat Al-Quran dan hadis Rasulullah saw yang berkaitan dengan pentingnya akhlak seperti shalat dapat mencegah perbuatan keji. Dengan menjalankan hidup yang disertai perilaku baik (akhlak) maka tujuan shalat bisa tercapai karena berdampak pada diri. Bila orang Islam ini dalam perilakunya memiliki dampak positif di tengah masyarakat maka tercapai misi agama Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Al-Quran sendiri menyebut pendusta agama kepada mereka yang tidak memperlakukan anak yatim dengan baik dan tidak memberi makan orang yang tidak mampu.[3] Dua hal ini termasuk dalam akhlak yang diajarkan Rasulullah saw. 

Dalam upaya menguatkan gagasannya, Kang Jalal memuat dialog Rasulullah saw dengan orang Yahudi yang bertanya tentang agama. Orang tersebut bertanya berkali-kali dengan berpindah-pindah posisi; dari depan, kiri, kanan, dan belakang. Jawaban Nabi tetap: agama itu akhlak yang baik dengan contoh tidak marah. Orang yang tidak marah dan mampu mengendalikan diri serta menjaga dari perbuatan yang keji masuk dalam kategori akhlak. Terlepas dari motivasi seseorang dalam berbuat, tetapi secara lahiriah menunjukkan akhlak.

Dalam buku Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih, Kang Jalal merujuk pada Al-Quran bahwa keimanan ditunjukkan dengan akhlak yang baik dan kekafiran juga ditandai dengan akhlak yang buruk seperti tidak setia, pengkhianat, pendusta, keras kepala, dan maksiat. Juga disebutkan Kang Jalal dalam hadis Rasulullah saw bahwa ciri orang yang tidak beriman adalah suka mengganggu tetangga, tidak memperhatikan saudara dan membiarkan tetangganya kelaparan, dan tidak memegang amanah. Rasulullah saw tidak menggunakan ukuran fikih untuk menakar keimanan seseorang. Keimanan diukur dengan akhlak dan kemuliaan seseorang juga didasarkan pada akhlak. Sebagai contoh dalam hadis disebutkan: barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya memuliakan tamu, menghormati tetangga, berbicara yang benar atau diam.[4] 

Tidak semua orang setuju dengan gagasan Kang Jalal ini. Melihat dari judul bukunya,Dahulukan Akhlaq di Atas Fiqih, langsung terkesan mengabaikan fiqih. Bahkan seorang ustdaz di Jakarta, pelajar Indonesia di Qom (Iran), dan dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung tidak sepakat dengan paradigma akhlak ini.[5] Kemungkinan mereka ini belum memahaminya secara komprehensif dan tidak melihat perkembangan pemikiran Kang Jalal. Sesuatu yang sah kalau ada yang tidak setuju dengan gagasan seseorang karena pemikiran manusia tidak ada yang sakral meski merujuk pada Al-Quran dan hadis. Namun, dari orang-orang yang tidak setuju atau mengkritik Kang Jala belum ada yang berani menuangkannya dalam bentuk buku atau makalah ilmiah yang terbit dalam jurnal. 

Masih berkaitan dengan paradigma akhlak, dalam sebuah facebook Kang Jalal memberikan komentar terhadap orang yang menyerang, khususnya dari kalangan anti Syiah. Kang Jalal menulis sebagai berikut: 

“Assalamu alaikum: Maaf, sudah lama saya tidak mengomentari posting saudara-saudaraku. Terima kasih kepada semua pihak yang rajin mengunjungi laman ini. Akhirnya, terpulang kepada yang Mahakasih untuk menilai niyat saudara bergabung bersama saya. Tetapi inilah komentar umum untuk beberapa komen yang tampaknya dipergunakan oleh segelintir orang (untungnya segelintir) untuk menyerang kelompok Islam yang lain tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab. 

“Dari komen-komen di tempat ini, saya melihat jelas sekali perbedaan akhlak pembenci Ahlul Bait dengan pecintanya. Akhlak bisa dilihat dari kalimat-kalimat yang ditulis. Kata Imam Ali: Al-Lisaan miizaanul insaan. Lidah itu ukuran kemuliaan manusia. Karena itu, saya biarkan pembenci Syiah menunjukkan akhlaknya di laman ini. Qad tabayyanar rusydu minal ghayy. Sudah jelas sekali kebenaran berbeda dari kesesatan. Para pecinta Ahlulbait, tunjukkan akhlakmu yang mulia! 

“Saya tidak memasukkan mereka ke dalam spam atau remove dengan harapan saudara bisa ‘mendidik’ mereka. Atau mereka mendidik diri mereka sendiri. Kita juga bisa belajar tentang akhlak yang buruk dari para pelakunya. Sebagaimana kita tidak enak membacanya, maka jangan biarkan orang lain tidak enak membaca tulisan kita. Inilah yang sekarang disebut sebagai ethics of reciprocity, yang diajarkan oleh seluruh agama. Karena itu, sekarang orang menyebutnya global ethics. 

“Do not do unto others what you do not want them to do unto you. Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak ingin orang melakukannya kepadamu. Pada kesempatan lain akan saya kutipkan berbagai kitab suci tentang etika global ini dengan redaksi yang bermacam-macam. Kata orang Jawa, jangan cubit orang kalau kamu tidak mau dicubit. Kalau mau pura-pura menjadi filusuf, inilah salah satu kategori imperatif Immanuel Kant.

“Sekali lagi terima kasih atas posting-posting yang saudara kirimkan dan kita berbagi pengetahuan dan pengalaman yang mencerahkan pemikiran dan menaikkan status ruhaniah kita. Laa yadhurrukum man dhalla idzahtadaytum.”[6]

Khulasah

Kang Jalal merupakan tokoh Islam yang populer hingga ke luar Indonesia. Kang Jalal tidak hanya bergerak dalam ranah teoritis, tetapi juga praktis. Ini membuktikan Kang Jalal bukan seorang intelektual menara gading. Gagasan Kang Jalal berkembang terus. Asalnya seorang modernis yang mengusung Islam puritan, berubah menjadi Syiah, kemudian mengusung ukhuwah Islamiyyah dengan paradigma akhlak. Masih ada gagasan sufisme, kritik historis Nabi, dan Agama Madani yang perlu dikaji tersendiri sehingga akan menampilkan peta pemikiran dan gambaran sosok Jalaluddin Rakhmat secara holistik. Semoga ada yang berkenan untuk melakukan kajian lanjutan. Bahkan, sangat memungkinkan untuk dikritik. Siapa yang berani? (tamat)


CATATAN:

[1] Informasi ini juga disebutkan dalam biografi Muhammad Babul Ulum dalam bukunya, Kesesatan Sunni Syiah (Depok: Aksara Pustaka, 2013).  Informasi penerbitkan buku Dahulukan Akhlak dalam Bahasa Arab ini disampiakan juga pada acara Milad Imam Ali Ridha yang diselenggarakan IJABI di Hotel Bandung, 23 Oktober 2011.

[2] Lihat dialog Kang Jalal dengan Ulil Abshar Abdalla yang dimuat dalam situs: www.islib.com; kemudian dimuat ulang pada situs ttp://www.majulah-ijabi.org/12/post/2012/09/jalaluddin-rakhmat-dahulukan-akhlak-di-atas-fiqh.html.

[3] Al-Quran surah Al-Maun.

[4] Penulis menduga itulah pokok gagasan dari Kang Jalal. Hal ini tertuang dalam buku Dahulukan Akhlaq di Atas Fiqih (Bandung: Mizan, 2007) pada halaman 141-143 tentang dahulukan akhlak dan halaman 57-91 tentang karakteristik paradigma akhlak.

[5] Di kalangan Muslim Syiah Indonesia banyak yang tidak memahami gagasan dahulukan akhlak kemudian menyebut Kang Jalal telah kekuar dari wilayah faqih dan tidak merujuk kepada Marja Taqlid. Dalam fikih Syiah Imamiyah, berdasarkan fatwa salah seorang ulama bahwa Muslim Syiah kalau tidak merujuk Marja Taqlid (ulama rujukan dalam agama) dinyatakan amalnya tidak sah dalam ibadah.

[6] Tulisan ini dimuat dalam facebook Kang Jalal. Hanya saja sekarang ini tidak bisa diakses kembali karena Kang Jalal sendiri sudah menyatakan off dari media sosial.

PENULIS: Ahmad Sahidin adalah alumni Pascasarjana UIN SGD Bandung. Tulisan ini merupakan makalah yang pernah dipresentasikan saat kuliah di UIN Bandung.


Sun, 16 Dec 2018 @14:20

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved