BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

RSS Feed

Dari Saqifah Muncul Firqah Islam

image

Singkatnya, saat ada kabar Rasulullah saw wafat, sahabat Abu Bakar bin Abu Quhafah dan Umar bin Khaththab melayat jenazah Nabi Muhammad saw. Selanjutnya menuju balai Saqifah karena telah berkumpul para sahabat Muhajirin dan Anshar sedang membahas tentang siapa yang berhak menjadi pemimpin umat Islam. Setelah mendengarkan persoalan yang diributkan, Umar bin Khaththab langsung mengajukan Abu Bakar sebagai khalifah Islam. Mereka yang hadir langsung memberikan baiat kepada Abu Bakar. Peristiwa ini tidak dihadiri oleh perwakilan keluarga Nabi Muhammad saw (Ahlulbait) seperti Fathimah Az-Zahra, Ali bin Abu Thalib, Al-Hasan, Al-Husain, Zainab Al-Kubra, atau para sahabat setia seperti Abu Dzar, Ammar bin Yassir, Miqdad Al-Aswad, dan Salman Al-Farisi.

Kenapa keluarga Nabi Muhammad saw tidak ikut serta dalam musyawarah di Saqifah? Alasannya karena mereka mengurus jenazah Nabi Muhammad saw dan mereka memegang teguh wasiat Nabi di Ghadir Khum[1] bahwa yang menjadi Khalifah Islam setelah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib. Umat Islam yang memegang teguh pada ketetapan Nabi ini dikenal sebagai golongan keluarga Nabi Muhammad saw (Ahlulbait). Sedangkan umat Islam (Anshar dan Muhajirin) yang menerima keputusan musyawarah di Saqifah disebut golongan sahabat (Ahlus Shahabah) yang membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Abu Bakar menjadi penguasa di Madinah meneruskan pemimpin sebelumnya, yaitu Nabi Muhammad saw. Selama memerintah, tidak semua umat Islam menurutinya. Ada yang menolak menyerahkan zakat dan menyingkirkan diri dari Madinah. Semua yang menentangnya dihadapi dengan kekuatan militer. Namun, usia yang tua menyebabkan Abu Bakar sakit-sakitan. Dalam keadaan sakit, Abu Bakar menunjuk Umar bin Khaththab sebagai khalifah (kedua) yang menjadi penggantinya. Dalam menjalankan pemerintahannya Umar banyak melakukan ijtihad, khususnya dalam menentukan penanggalan kalender hijriah dan menyerahkan urusan administrasi negara kepada orang-orang Romawi yang belum Muslim.[2]

Sejak menjabat khalifah, Umar banyak melakukan peperangan sampai menderita luka-luka berat akibat enam kali tikaman seorang Persia bernama Fairus alias Abu Luluah. Karena kondisinya yang tidak membaik, Umar oleh sejumlah tokoh umat Islam diminta untuk segera menunjuk penggantinya.  Kalau tidak segera menunjuk dikhawatirkan akan terjadi perpecahan dikalangan umat Islam. Umar memberi rekomendasi agar memilih salah satu di antara Utsman dan Abdurahman bin Auf yang menjadi khalifah setelahnya. Sidang pemilihan khalifah ketiga yang dihadiri oleh enam orang yang telah ditunjuknya itu memilih Utsman bin Affan dari keluarga Umayyah.[3]

Utsman dalam melaksanakan roda pemerintahannya merekrut saudara-saudaranya seperti Marwan bin Hakam dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Utsman dalam urusan keagamaan berhasil membuat tradisi baru: menambahkan ash-shalatu khairum minannaum dalam azan subuh, mengumandangkan azan dua kali dalam shalat Jumat, mengesahkan shalat tarawih berjamaah, dan lainnya. Kebijakan Utsman yang mengutamakan keluarga dan bangsawan mengundang kemarahan kaum Muslim yang berasal dari kalangan mustadh`afin seperti Abu Dzar dan Ammar bin Yassir serta kaum Yahudi yang diacuhkan keberadaannya. Terjadilah pemberontakan yang mengakibatkan kematian Utsman bin Affan. Kematian khalifah ketiga mengantarkan Ali bin Abu Thalib terpilih sebagai khalifah yang keempat tahun 35 H.

Selama masa kepemimpinannya, Ali mengikuti cara Nabi saw dan mulai menyusun sistem yang Islami dengan membentuk gerakan spiritual dan pembaruan Islam.[4] Ali juga menghadapi banyak tantangan dan makar dari mereka yang tidak menghendaki tegaknya pemerintahan Islam. Akhirnya, terjadilah perang Jamal dekat Bashrah antara Ali melawan Thalhah dan Zubair serta Aisyah binti Abu Bakar yang didukung keluarga Muawiyah. Pasukan Ali berhasil memenangkan peperangan itu dan Aisyah dipulangkan ke Madinah secara terhormat.

Selesai perang Jamal, Ali harus menghadapi aksi makar dari Muawiyah bin Abu Sufyan yang menuntut segera menindak pembunuh Utsman bin Affan dan meminta Ali lengser dari jabatan khalifah. Aksi makar itu muncul karena sebelumnya Ali memecat Muawiyah dari jabatan Gubernur Syria. Karena terus-menerus melakukan teror, Ali beserta pasukan memeranginya di daerah Siffin, Irak. Sebelum terjadi perang, Ali mengutus Jarir Abdillah Al-Bajuli untuk berunding dengan Muawiyah.

Dalam perundingan itu Muawiyah meminta agar Ali lengser dan segera dibentuk sebuah majelis syura untuk memilih khalifah baru. Tuntutan tersebut tidak dipenuhi oleh Ali. Sekali lagi Ali mengirim utusan yang terdiri dari Syabats Aibi Al-Yarbu’i At-Tamimi, Ali Hatim At-Tha’i, Yazid Qais Al-Arhabi, dan Ziyad Khasafah At-Taimi At-Tamimi, untuk berunding dengan Muawiyah. Hasilnya sama bahwa Muawiyah menginginkan tuntutan dalam perundingan pertama dipenuhi. Kaena tetap bersikeras dan tidak bisa ditempuh dengan jalan damai sehingga perang menjadi pilihan untuk menyelesaikannya. Terjadilah perang antara pasukan Ali bin Abu Thalib melawan pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan. Dalam perang itu, pasukan Muawiyah mulai melemah dan mendekati kekalahan. Melihat tanda-tanda kekalahan yang akan menimpanya, penasihat Muawiyah yang bernama Amr bin Ash menyarankan untuk melakukan perundingan dengan terlebih dahulu mengangkat lembaran mushaf Al-Quran. Taktik musuh dengan mengangkat mushaf ini membuat sebagian pengikut Ali terpengaruh sehingga memintanya agar menerima tawaran tahkim.[5] Ali mengetahui mengangkat mushaf sebagai tipu muslihat sehingga tidak meresponnya malah terus menyemangati pasukannya.

“Hamba Allah, teruslah berada dalam kebenaran dan keyakinan kalian. Teruslah memerangi musuh, karena Muawiyah, Amr, Abi Mu’ith, Habib, Abi Sarah, dan Dhahhak bukanlah Asshâb ad-dîn dan bukan pula Ashhâb Al-Quran. Saya lebih mengenal mereka dibandingkan kalian. Saya mengetahui mereka dari sejak kecil sampai dewasa, mereka adalah anak-anak dan laki-laki dewasa yang jelek. Mereka minta kita untuk ber-tahkimkapada kitab Allah, padahal, demi Allah, mereka mengangkat mushaf itu hanyalah untuk tipu muslihat saja,” ujar Ali. 

“Mereka mengajak kita kembali kepada Kitabullah, kenapa kita tidak menerimanya?” cetus salah seorang pasukan Ali. Kemudian dijawab Ali, “Saya memerangi mereka supaya mereka tunduk kepada hukum kitab Allah karena mereka telah menentang perintah Allah dan melupakan janji mereka dengan Allah, serta mengabaikan kitab suci itu.” Namun, tetap saja orang-orang seperti Mis’ar Fadki At-Tamimi, Zaid Husain Ath-Thai, dan para ahli qura[6] dalam pasukan Ali, terus mendesak dan mengancam akan memperlakukan Ali bin Abu Thalib seperti yang terjadi kepada Utsman bin Affan. Dengan sangat terpaksa Ali mengikuti permintaan mereka. Diutuslah Al-Asy’asts Qais, salah satu tentara Ali, untuk menanyakan bentuk perdamaian yang diinginkan. Muawiyah mengatakan, “Utuslah seseorang yang kalian sukai dan kami pun akan mengutus seseorang. Biarkan mereka berdua berunding berdasarkan kitab Allah, kemudian kita ikuti yang telah mereka sepakati.”

Muawiyah mengutus Amr bin Ash sebagai juru runding dan Abu Musa Al-Asy’ari mewakili pihak Ali bin Abu Thalib.[7] Keduanya melakukan perundingan di Daumah Al-Jandal, Azruh, dengan lama waktu enam bulan (Shafar-Ramadhan 37 H.). Persoalan yang dibahas adalah tuntutan atas kematian Utsman bin Affan dan tuduhan Amr bin Ash bahwa Ali terlibat dalam pembunuhan Utsman.[8] Kemudian membahas upaya-upaya menyatukan umat Islam dengan terlebih dahulu menurunkan kedua pemimpin Islam yang bertikai dan mengangkat seseorang yang akan menjadi khalifah Islam dengan jalan musyawarah. Setelah ada kesepakatan di antara kedua juru runding itu, diumumkanlah hasil kesepakatan itu dihadapan umat Islam.

Atas dasar senioritas, Abu Musa menjadi orang pertama yang naik ke mimbar dan menurunkan Ali dari tampuk khalifah Islam. Kemudian Amr dengan tanpa diduga langsung mengukuhkan Muawiyah sebagai khalifah Islam tanpa menurunkannya dahulu. Kejadian itu sangat merugikan pihak Ali dan menguntungkan Muawiyah. Para pengikut Ali pun mengutuknya. Mereka meminta Ali untuk membatalkan hasil tahkimtersebut dengan memeranginya kembali. 

Tiga firqah

Sesuai dengan perjanjian diawal maka Ali tidak melanggarnya meskipun didesak. Akhirnya pasukan Ali yang mendesak itu menyatakan diri keluar dari barisan Ali dan membuat kelompok sendiri yang dikenal dengan sebutan Khawarij. Dengan adanya kaum Khawarij ini maka secara historis umat Islam pada Abad 7 Masehi terbagi dalam tiga: (1) kelompok Ali yang populer disebut Syiah ‘Ali, (2) kelompok Khawarij, dan (3) kelompok Muawiyah (yang kemudian mendirikan pemerintahan yang disebut Dinasti Umayyah).

Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh kaum Khawarij dinyatakan keluar dari Islam sehingga dibunuhnya oleh seorang Khawarij bernama Ibnu Muljam pada saat shalat subuh tanggal 19 Ramadhan di Masjid Kufah (Irak). Muawiyah pun oleh kaum Khawarij dinyatakan keluar dari Islam dan direncanakan untuk dibunuh. Namun, gerakan pembunuhan oleh Khawarij kepada Muawiyah ini tidak terwujud karena tertangkap dahulu sang pelakunya.

Pemikiran kaum Khawarij secara umum bahwa orang-orang Islam yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dinyatakan kafir dan darahnya halal untuk ditumpahkan. Tidak hanya istilah kafir, tetapi murtad, zindiq, dan iman pun diberi pemaknaan yang tersendiri oleh kaum Khawarij. Orang-orang Islam berbeda dalam pendapat dengan kaum Khawarij maka dinyatakan kafir atau murtad sehingga diharuskan bertaubat. Jika menolak maka dilanjutkan dengan eksekusi sehingga pada saat itu banyak orang Islam yang menjadi korban dari kekejaman kaum Khawarij.

Kemudian persoalan kafir atau tidaknya seseorang yang beragama Islam ini berkembang menjadi perdebatan yang memunculkan kelompok Murji`ah. Kaum Murji`ah menyatakan bahwa kafir, murtad, atau tidaknya seseorang yang beragama Islam ditentukan oleh Allah nanti di akhirat. Pendapat ini disanggah oleh kelompok umat Islam lainnya, sampai memunculkan aliran-aliran teologi Islam (ilmu kalam). Sehingga pada Abad 8 Masehi umat Islam terbagi dalam kelompok (firqah) seperti Syiah, Khawarij, Murjiah, Jabariyah, Qadariyah, Asy`ariyah, Mu`tazilah, Maturidiyah, Ahlussunnah, dan lainnya.

Menariknya bahwa dari setiap kelompok tersebut terpecah lagi dalam aliran-aliran. Misalnya dalam Syiah muncul Imamiyah (Itsna Asyariyah), Zaidiyah, Ismailiyah, dan lainnya. Begitu pun dalam kelompok Khawarij muncul aliran Muhakkimah, Azariqah, Najdah Adziriyyah, Shufriyyah, Ibadhiyyah, Baihasiyah, Shaltiyah, Maimuniyah, Hamziyah, Khalafiyah, Atharafiyah, Syu`aibiyah, Hazimiyah, Tsa`libah, Akhnasiyah, Ma`badiyah, Rusyaidiyah, Mukramiyah, Ma`lumiyah, Majhuliyah, Bid`iyah, Hafshiyah, Haritshiyah, Yazidiyah, dan Ziyadah Shufriyah.

Dalam khazanah intelektual Islam, terutama dalam ilmu-ilmu Islam, kelompok-kelompok umat Islam, yang biasanya disebut firqah kemudian populer dengan istilah mazhab karena padanya terdapat konsep akidah, fikih, gerakan (komunitas), tradisi-tradisi, dan pandangan politik tersendiri. Secara umum, mazhab yang banyak dianut oleh umat Islam saat ini adalah Syiah Imamiyah dan Ahlus Sunnah. Mazhab lainnya ada, tetapi umat yang menganutnya tidak begitu besar. [ahmad sahidin, alumni uin sgd bandung]

Catatan

[1] Riwayat ghadir khum dapat dibaca pada buku Antologi Islam (Jakarta: Al-Huda) Bab 6 Polemik Otentisitas Ghadir Khum. 

[2] Muhammad Quraish Shihab, Fatwa-fatwa Seputar Wawasan Agama (Bandung: Mizan, 1999) hal.110-111. Tindakan Umar tersebut oleh sebagian ulama dianggap bertentangan dengan ayat, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu  mereka tidak henti-hentinya  kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat, jika kamu memahaminya.” (QS Ali-Imran [3]: 118).

 [3] Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara (Jakarta: UI Press, 1993) hal.25.

 [4] Tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Khulafa Ar-Rasyidun dan prosesi pemilihan Khalifah Islam, lengkapnya baca buku O.Hashem, Saqifah: Awal Perselisihan Umat (Yogyakarta: Rausyanfikr, 2010) dan Ira M.Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000) hal. 81-87.

 [5] Tahkim merupakan bentuk perdamaian untuk mereka yang berselisih dengan membentuk sebuah dewan atau majelis sidang yang diwakili masing-masing pihak yang bertikai. 

 [6] Mereka adalah kelompok Muslim yang memiliki hafalan Al-Quran cukup banyak, yang sebagiannya merupakan orang-orang badawi (kampung) yang baru masuk Islam.

 [7] Dalam literatur yang ditulis kalangan Syi`ah dikatakan bahwa Ali bin Abu Thalib menginginkan Abdullah bin Abbas atau Malik Al-Asytar sebagai juru rundingnya. Namun karena desakan dan pilihan mereka (atau orang-orang yang terpengaruh siasat musuh), Ali terpaksa mengalah. Perlu diketahui, Abu Musa adalah tokoh yang sudah terlibat dalam fase-fase pertama penaklukkan Irak, baik sebagai jenderal perang maupun gubernur Kufah dan Bashrah. Dia juga pernah menentang kebijakan Utsman dan dipilih sebagai Gubernur Kufah ketika mengusir gubernur tunjukan Utsman, Said bin Ash. Menurut Shaban, Abu Musa punya hubungan politik yang lama tidak tergoyahkan dengan saudara-saudara Muawiyah. Sebaliknya Ali meragukan loyalitas Abu Musa karena Ali pernah memecat Abu Musa dari jabatannya karena kurang aktif. Saat dalam peperangan Siffin, Abu Musa tidak ada dalam pasukan. Dikabarkan ia sedang uzlah (memencilkan diri) ke Hijaz berupaya menghindar dari peperangan. Waktu utusan memberi tahu bahwa dia telah dipilih, Abu Musa berujar, “Innâ lillahi wa innâ illaihi râji’un.”

[8] Tuduhan keterlibatan Ali dalam pembunuhan Utsman bin Affan tidak terbukti. Sebab ketika huru-hara terjadi, Ali mengutus kedua putranya, Hasan dan Husain, untuk melindungi Utsman dari tindakan anarkis orang-orang yang kecewa kepada Utsman. Karena banyaknya yang menyerang dan tidak terbendung maka khalifah ketiga itu terbunuh dalam huru-hara tersebut. 

 

Fri, 21 Dec 2018 @17:13

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved