Rubrik
Terbaru
BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Inilah Pemikiran Abdul Karim Soroush (1) [by Ahmad Sahidin]

image

Abdul Karim Soroush lahir di Teheran, Iran, pada 1945. Pendidikan menengah diselesaikan di Sekolah Menengah Murtazawi dan Sekolah Menengah Alawi. Soroush melanjutkan kuliah di Jurusan Farmakologi Universitas Teheran, Iran, dan mengambil program doktor bidang sejarah dan filsafat sains di Chelsea College, London, Inggris.

Saat belajar di Sekolah Dasar, Soroush menyenangi puisi-puisi karya Sa`di dan sering membuat puisi. Ia sempat menjadi anggota Anjoman-e Hojatiyyeh (organisasi yang khusus mengkaji tradisi Syiah dan ajaran-ajaran Bahai`) dan terlibat dalam organisasi non-sekterian Muslim Qurani.[1]

Abdul Karim Soroush mengaku bahwa ia sangat mengagumi pemikiran keagamaan dan filsafat Ayatullah Murtadha Muthahhari, terutama karya-karya Muthahhari yang berbau filsafat; salah satunya buku komentar dan penjelasan (syarh) atas karya Allamah Muhammad Husain Thabathabai` yang berjudul ‘Ushul Falsafe wa Rawish-e Rialism’.[2] Minatnya yang condong ke filsafat membuat Soroush berbicara meminta Muthahhari agar bersedia mengjarinya. Namun, Soroush hanya mendapatkan bimbingan dari ulama yang direkomendasikan Muthahhari. Kekaguman Soroush pada Muthahhari tidak menutupnya untuk melayangkan kritik. Menurutnya bahwaMuthahhari merupakan sosok ulama-intelektual yang pemikiran-pemikirannya tampak menyakralkan filsafat Islam. Padahal, kata Soroush, filsafat Islam tidak lain hanyalah variasi dari filsafat Yunani dan produk pemikiran manusia yang masih terbuka untuk dikritik dan direvisi ulang.    

Selain karya Muthahhari, ia juga membaca ‘Tafsir Al-Mizan’ karya Allamah Muhammad Husain Thabathabai`, ‘Al-Hikmah Al-Muta`aliyah Fi Al-Asfar Al-Aqliyyat Al-Arba`ah’karya Mulla Shadra, ‘Al-Mahajjah Al-Baidha’ karya Faiz al-Kasyani, ‘Ihya Ulumuddin’ karya Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, karya Jalaluddin Rumi, dan karya Hafiz.

Karier yang sempat dijalaninya adalah Direktur Laboratorium (produk makanan) Toiletteries, dosen Universitas Teheran, profesor tamu untuk studi Islam di universitas-universitas Amerika Serikat (Harvard, Yale, dan Princeton), anggota Dewan Revolusi Kebudayaan yang didirikan Imam Khomeini untuk membahas sistem pendidikan dan mereview silabus pelajaran Iran. Saat belajar di Inggris, Soroush aktif dalam kegiatan ilmiah dan keagamaan di Islamic Center Imam Barah, London. 

Kegemaran Soroush dalam membaca dan menulis membuahkan buku-buku seperti‘Sifat Dinamis Alam Semesta’ (membahas tentang tauhid, al-ma`ad, dan teori harakah al-jauhariyah Mulla Shadra), ‘Ilmu Pengetahuan dan Nilai’ (buku ini ditulis dan diselesaikannya di Inggris saat menempuh pendidikan doktor), ‘Hikmah wa Ma`isyah’, ‘Aushaf-e Parsawan’, ‘The Hermeneutical Expansion and Contraction of Theory of Syari`a’, dan menulis artikel-artikel di Jurnal Kiyan.

Pada masa berlangsungnya gerakan Revolusi Islam Iran, Soroush mengaku bahwa ia sering menghadiri ceramah dan diskusi ilmiah cendekiawan Ali Syari`ati yang diselenggarakan di Husainiyyah Irsyad dan mengikuti pengajian-pengajian Ayatullah Murtadha Muthahhari serta ulama lainnya.

Dikarenakan pemikirannya berbeda dengan pendapat’ mainstream’ dan juga kritis terhadap pemikiran-pemikiran ulama Syi`ah, pada 1995-1996 Abdul Karim Soroush dilarang memberikan kuliah oleh organisasi Anshar-e Hizbullah. Mengapa dilarang? Karena ia—sebagaimana dikatakan Goenawan Mohamad—merupakan sosok intelektual kritis yang menggugat kebekuan tradisi dan tidak menghendaki adanya otoritas tunggal. Ide-ide liberal dan kritis itulah yang membuat Soroush tak disenangi para ulama Syi`ah dan mendapat kritik dari ulama ternama seperti Muhammad Said Bahman Pour dan Ayatullah Ja'far Subhani.

Meski kritik bertubi-tubi terlempar padanya, tapi Soroush tetap dikagumi kaum muda Muslim dan ide-idenya banyak dibicarakan oleh kalangan akademisi, termasuk di Indonesia.  Robin Wright, jurnalis Los Angeles Times di Amerika, menokohkan Soroush sebagai ‘Muslim Luther Iran’ dan majalah Time edisi April 2005 menobatkan Soroush sebagai satu dari 100 orang berpengaruh di dunia.[3]

Kalau melihat karya dan gagasan yang dikemukakan Soroush, setidaknya bisa dipetakan dalam tiga: kritik terhadap tradisi dan otoritas ulama, agama dan identitas agama, dan teologi modern (al-kalam al-jadid).

Mengenai yang pertama, sangat tampak dari beberapa ceramah yang dilakukannya di Iran maupun di negara lain. Misalnya saat menyampaikan ceramah ilmiah di Universitas Sorbon, Perancis, pada 25 Juli 2005. Dalam ceramahnya, sambil mengutip pemikiran Muhammad Iqbal, Soroush mengatakan bahwa Islam tidak bisa disatukan dengan demokrasi karena semangat Islam berbeda dengan semangat Yunani.

Menurut Soroush, Iqbal sangat menyesalkan mengapa kaum Muslimin tidak menjadikan Yunani sebagai kiblatnya, yang pada akhirnya logika induksi tidak lagi dipergunakan dan Iqbal berkeyakinan bahwa logika induksi mampu menghentikan laju logika wahyu. Dengan itu sejarah pemikiran manusia dan ajaran para Nabi menjadi mandul. Agar pemikiran manusia dapat berkembang lagi harus ada pemberitahuan tentang penutupan kenabian.

Dengan mengumumkan bahwa kenabian telah selesai maka manusia tidak lagi perlu menanti seorang wali dari langit yang akan memberitahukan lagi adanya sebuah sumber pengetahuan lain. Wali yang memiliki otoritas dan akan diwariskan dari satu (orang) ke yang lainnya. Penantian dan pemikiran yang seperti ini adalah salah dan tidak benar.

Pengumuman bahwa kenabian telah berakhir merupakan sebuah era berlakunya kebebasan akal manusia. Akhir kenabian adalah dimulainya manusia berperilaku dan bersikap dengan pikirannya sendiri. Agama hanyalah salah satu sumber yang mengilhami lahirnya pemikiran atau karya-karya manusia. Itu sebabnya, manusia harus berterimakasih akan nikmat akhir kenabian. Akhir kenabian membuat manusia dapat melahap hidangan duniawi dan di saat yang bersamaan sebagai pembebas manusia dari penantian terbukanya pintu-pintu langit. Kaum Muslimin dengan terputusnya kenabian tidak akan lagi mendengarkan seruan langit. Selain ucapan Nabi tidak ada ucapan dari seorangpun yang memiliki posisi yang sama dengannya, apalagi mengandaikan ucapan tersebut turun dari langit.

Soroush juga melakukan refleksi terhadap sejarah Islam dan persinggungannya dengan kebudayaan Barat; terutama saat Islam mengenal pemikiran dari Yunani dan mengilhami kaum Muslim untuk mengembangkan khazanah intelektual Islam.

Menurutnya bahwa sikap elegan Islam dalam menghadapi arus pemikiran Yunani dan berusaha memproses ke nalar mereka sehingga lahirlah kejayaan Islam. Namun disayangkan, kaum Muslim waktu itu tidak kritis dan selektif dalam menerimanya; seharusnya mereka membuang racun-racunnya dan menyimpan kearifan-kearifannya. Karena itu, wajar bila karya-karya ulama dan cendekiawan Muslim pada abad pertengahan sangat kentara pemikiran dan corak asingnya, terutama dalam filsafat dan teologi tradisional Islam. Memang harus diakui bahwa pada masa itu merupakan periode kejayaan khazanah intelektual Islam yang banyak melahirkan karya-karya monumental kaum Muslim dan kontribusinya dalam peradaban manusia sangat dirasakan, terutama di Barat.

Pada abad modern ini keadaannya telah berubah. Dinamika kebudayaan dan khazanah Islam tidak lagi terlihat. Di Iran sendiri, menurut Soroush, pergesekan dengan Barat memunculkan dua reaksi. Pertama, peradaban Barat yang merepresentasikan dirinya melalui adat istiadat, perilaku sosial, dan kemajuan teknologi, yang lambat laun menyebabkan hilangnya kebudayaan lokal (Islam) karena dilindas tradisi baru (Barat). Soroush menyarankan bahwa bangsa timur mesti berpegang teguh pada tradisi lokal yang asli dan yakin bahwa keikutsertaan mereka kepada kebudayaan Barat hanya akan membuat mereka tidak memiliki kepribadian (identitas).  Kedua, ada yang mengakui bahwa kebudayaan Islam (budaya lokal) sudah melemah dan nyaris hilang. Karena itu, kita harus menerima takdir bahwa sejarah kita hari ini adalah sejarah peradaban Barat dan mengamini datangnya sebuah zaman baru. Bukankah Islam datang di tanah Arab sebuah zaman baru dan menggantikan zaman yang lama. (bersambung)

[ahmad sahidin, alumni UIN SGD Bandung dan pegiat keagamaan]

Fri, 21 Dec 2018 @17:24

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved