Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Inilah Pemikiran Abdul Karim Soroush (2) [by Ahmad Sahidin]

image

Menurut Soroush bahwa sikap fatalistik tersebut muncul karena masyarakat Iran ketika itu sudah teracuni pemikiran filsafat sejarah G.W.F.Hegel yang deterministik. Namun bila dilihat dari catatan sejarah bangsa Iran, bisa jadi sikap demikian muncul karena masyarakat sudah terninabobokan oleh rezim sebelum Republik Islam Iran, yaitu Qajar dan Pahlevi, yang menerima secara terbuka hadirnya bangsa asing sehingga kebudayaan dan sikap politik pun tidak muncul.

Menurut Soroush bahwa jika ingin mengembalikan kejayaan dan mampu bersaing dengan bangsa Barat harus kembali pada identitasnya sendiri. Apabila umat Islam ingin tetap bertahan dan mampu menjawab tantangan zaman, mesti berupaya untuk tetap berada dalam identitasnya dan menciptakan perubahan-perubahan yang berlandaskan agama (syar`i). Dari upaya itulah akan muncul sebuah identitas agama yang kehadirannya sangat penting dalam menyikapi pluralitas agama dan budaya. Soroush menerangkan bahwa konsep identitas agama didasarkan pada rasionalitas dan bukan sesuatu yang terpaksa atau dipaksakan karena rasionalitas agama bertumpu pada tanggung jawab manusia atas apa yang diperbuat dan diputuskannya dalam hidupnya. Di sinilah posisi humanitas agama berada. Berbeda dengan identitas nasional. Identitas yang didasarkan pada wilayah goeografis tidak memberikan ruang bagi rasionalitas; karena manusia yang lahir di wilayah negara tertentu bukan atas pilihan dan kemauannya. Begitu juga dengan identitas ras dan etnis, biasanya cenderung diskriminatif.[4]

Adanya identitas agama yang rasional merupakan sebuah jembatan penghubung antar sesama umat Islam dan umat lainnya; yang bisa terbangun melalui aspek-aspek universal agama. Meskipun dalam Islam terdapat sekte (firqah) atau mazhab yang saling berbeda (baik itu fikih, tasawuf maupun teologi), tapi bila diilhat secara jeli terdapat kesamaannya. Semua umat Islam di manapun berada menggunakan bahasa Arab dalam salat, menghadap kiblat (Mekkah), memiliki kewajiban menegakkan shalat, diperintah membayar zakat, dan lainnya. Kesamaan ini bila disadari oleh umat Islam bisa menjadi perangkat untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah yang selama ini hancur akibat konflik mazhab dan politik. Karena itu, sudah saatnya kaum Muslim Sunni belajar dan memahami tradisi Syi`ah dan kaum Muslim Syi`ah pun berupaya memahami tradisi Sunni. Hanya dengan melakukan kegiatan itulah perbedaan dalam Islam bisa dipahami dan perpecahan (konflik) bisa reda. Cara ini bukan hanya berlaku untuk kaum Muslim saja, tapi juga bisa dilakukan terhadap agama-agama lain, salah satunya dengan melakukan dialog antaragama.

Mengapa itu diperlukan? Menurut Soroush, identitas agama adalah sebuah konstruksi yang  terbentuk dan dibentuk oleh satu pemahaman dan konteks tertentu. Lalu, mengapa muncul fenomena kekerasan yang mengatasnamakan agama yang pada dasarnya merupakan bagian dari ekspresi identitas agama? Soroush mengakui adanya fakta kekerasan agama yang dianggapnya sebagai irasionalitas dalam beragama. Agar tidak terjadi kekerasan yang mengatasnamakan agama terhadap agama lainnya, Soroush menganjurkan pada kaum Muslim untuk mencari landasan bersama yang dalam al-Quran diistilahkan‘kalimâtussawâ’ atau mencari titik kesepakatan secara bersama.[5] Soroush juga menegaskan bahwa hubungan antaragama mesti bertumpu pada humanitas dengan tanpa memandang perbedaan geografis, negara, ras, etnis, dan agama.[6] 

Dalam masalah agama, Abdul Karim Soroush membedakan antara pengetahuan agama yang merupakan hasil pemahaman dari teks tersebut (syarh) dengan agama sebagai teks suci (syari`); atau Islam sebagai identitas dan Islam sebagai kebenaran. Islam model pertama adalah alat ideologis untuk identitas sekaligus respon terhadap apa yang saat ini kita kenal dengan ‘krisis identitas’. Yang termasuk pada model ini adalah Islam yang berwajah sekte atau mazhab dan Islam yang bercampurbaur dengan budaya lokal. Sementara Islam model kedua merupakan Islam sebagai sumber kebenaran yang menunjukkan jalan kedamaian. Model Islam kedua ini, menurut Soroush adalah Islam yang dijalankan dan didakwahkan oleh Nabi Muhammad saw yang misinya menyeru manusia kepada kebenaran dengan jalan damai.[7]

Pemikiran Soroush ini merupakan bentuk kritik terhadap kalangan Muslim ortodoks yang membuat pengetahuan agama menjadi suatu doktrin yang sakral, bahkan hampir disamakan dengan wahyu. Contohnya disiplin fikih, tasawuf, teologi (kalam), tafsir, dan filsafat—yang merupakan hasil interpretasi para ulama atas nash-nash Islam—hingga kini masih tertutup untuk dikritisi. Apabila ada yang berupaya mengkritisinya akan dianggap menentang agama. Fakta ini banyak ditemukan dalam bentuk fatwa-fatwa fikih. Kaum Muslim tidak berani untuk keluar dari fatwa-fatwa ulama, bahkan mengikat dirinya dengan produk intrepretasi yang dilegalkan melalui institusi agama atau otoritas ulama ternama. Terjadinya sakralisasi itulah yang membuat Soroush mewacanakan kembali tentang agama sebagai produk Ilahi  (syari`) dan pemahaman agama yang merupakan produk pemikiran atau penafsiran manusia terhadap agama itu sendiri (syarih).

Menurut Soroush bahwa disiplin agama Islam seperti fikih, teologi (kalam), tasawuf, dan sistem pemerintahan yang digunakan di negara-negara Islam, pada dasarnya terlahir dari sebuah upaya memahami wahyu. Karena itu, kedudukannya tidak sakral dan bisa mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan konteks zaman. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Mereka mengubah pemahaman agama menjadi ideologi atau ideologisasi agama. Mereka lebih senang menggunakan Islam demi kepentingan identitasnya (baca: politik, ekonomi, budaya, dan mazhab) ketimbang sebagai jalan kedamaian dan kebenaran. Fakta adanya kepentingan identitas inilah yang bisa dianggap bentuk ideologisasi agama; dan ini tidak  hanya terjadi di dunia Islam, tetapi juga pada agama-agama lainnya. Mereka dengan dalih menjaga kesucian agama, menolak berhubungan dengan komunitas agama di luarnya. Akibatnya,  agama menjadi tertutup dan kaku karena ideologisasi agama selalu menginginkan yang ideal, bersifat fanatis, dan berpikiran sempit. Inilah bentuk kecacatan dalam agama yang diakibatkan oleh pemahaman para penganutnya.

Dari ideologisasi agama ini, kata Soroush, yang paling berbahaya adalah sikap ketaatan buta kepada ulama dan mencampuradukkan antara ‘agama’(syari`) dengan ‘pemahaman agama’ (syarih). Sikap tersebut akan  menjebak umat beragama dalam ajaran yang tidak benar dan melupakan fitrah manusia di tengah kehidupan masyarakat. Sikap ketaatan buta ini bila tetap masih melekat akan membuat orang yang beragama itu menghambakan dirinya pada ajaran agama (pemahaman agama) dan melupakan Tuhan.

Mereka yang terjebak dalam sikap ini hidupnya cenderung asosial, eksklusif, fanatik, dan selalu sentimen kepada pemeluk agama lain. Inilah bahayanya bila pemahaman agama disakralkan dan menjadi ideologi. Agar kaum Muslim tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru, harus berupaya memahami makna kebenaran agama itu sendiri. Menurutnya, nilai kebenaran sebuah agama dapat dilihat dari kebenaran teologis dan kebenaran historis. Kebenaran teologis yang mengetahui hanya pencipta agama itu sendiri, yaitu Tuhan. Tidak ada satu pihak pun yang berhak merasa (mengaku) paling tahu tentang kebenaran agama. Sementara untuk melacak kebenaran historis sebuah agama dapat dilihat dari sejauhmana agama tersebut bermanfaat dan dapat membebaskan umat manusia dari belenggu-belenggu kejahatan maupun masalah-masalah sosial dan kemanusiaan.

Mengenai kebenaran agama, Soroush menuturkan, “Saya percaya bahwa kebenaran di mana pun sama; tidak mungkin kebenaran berselisih dengan kebenaran. Semua kebenaran adalah pemukim ditempat yang sama dan bintang-bintang dari yang rasi sama. Satu kebenaran yang berada disudut dunia pasti bersesuaian dengan semua kebenaran ditempat lain. Jika tidak,  itu bukan kebenaran. Oleh karena itu, saya tidak pernah lelah mencari kebenaran di arena intelek dan opini yang beragam. Kebenaran sungguh suatu rahmat sebab kebenaran mendorong pencarian secara terus-menerus dan melahirkan pluralisme yang sehat.”[8]

Soroush menegaskan bahwa dalam pemahaman keagamaan sangat diperlukan adanya dinamika pemikiran yang bersifat kritis dan progresif. Karenanya, keberadaan ilmu agama atau pemahaman agama harus diposisikan sama dengan ilmu pengetahuan lainnya yang bersifat manusiawi dan relatif; karena masalah-masalah zaman dan kebutuhan manusia tidaklah baku, tapi berubah dari waktu ke waktu atau generasi ke generasi. Apabila agama tersebut ingin tetap ada, maka agama sebagai doktrin atau ajaran berupa nash-nash itu harus mampu menjawab tantangan dan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia serta menjadi solusi pada setiap zaman. Pada konteks ini penafsiran terhadap nash-nash agama dan ijtihad harus selalu dilakukan para pemuka agama; sehingga keberadaan agama itu sendiri akan selalu aktual dan mampu menjadi solusi bagi kehidupan manusia. Seperti halnya ilmu biologi, fisika, kimia, astronomi, dan politik, senantiasa mengalami perbaikan dan penyempurnaan. Mengapa demikian? Soroush menjawab: ilmu atau pemahaman keagamaan tidaklah bersifat sempurna ataupun  berlaku sepanjang waktu, sebab ia terikat dengan budaya yang senantiasa berubah. Sehingga pemahaman keagamaan mutlak untuk dikembangkan dan disempurnakan; karena dengan aktivitas itu merupakan salah satu bentuk usaha yang dapat membangkitkan kemajuan umat beragama atau peradaban Islam.

Dikarenakan pemikirannya kritis dan bernada sekuler ini, Abdul Karim Soroush disebut sebagai Muslim liberal.[9] Ia dijuluki demikian karena telah menempatkan agama terpisah dari politik dan menentang otoritas kelembagaan agama, khususnya di Iran. Itu sebabnya di Barat Soroush disebut ‘Luther Islam’. Seperti yang dilakukan teolog Martin Luther di Jerman yang mendobrak otoritas tunggal para Bapa Gereja, Soroush juga menggugat sistem ‘wilayah faqih’ yang memberikan wewenang tunggal kepada ulama.

Menurut Soroush, konsep wilayah faqih yang digagas Imam Khomeini ini hampir mirip atau sebuah peniruan dari ajaran Kristen yang memberikan hak penuh kepada para Bapa Gereja. Karena itu, Soroush berpendapat bahwa menjadi sekuler asal tidak taqlid adalah sikap yang baik. “Menjadi sekuler tidak selamanya berpretensi negatif. Saya menjadi bagian dari sekularisasi justru karena ingin menyelamatkan agama dari sekularisasi itu sendiri,” ujarnya.[10]

Jadi, menurut Soroush, sekularisasi merupakan perangkat yang bisa menyelamatkan ajaran agama untuk kesejahteraan umat manusia. Jika tidak ada sekularisasi, eksistensi agama akan menjadi hambatan yang besar terhadap kemerdekaan berpikir, keterbukaan wacana, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Dari sinilah muncul pemikiran tentang perlunya melakukan 'pemisahan' antara wilayah agama (keyakinan) dengan politik (negara), antara dimensi transenden (sakral) dengan yang imanen (profan). (bersambung)

[ahmad sahidin, alumni UIN SGD Bandung dan pegiat keagamaan]

Fri, 21 Dec 2018 @17:29

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved