INFORMASI MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima kiriman artikel/opini atau resensi buku. Silakan kirim melalui e-mail: abumisykat@gmail.com

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Inilah Pemikiran Abdul Karim Soroush (3) [by Ahmad Sahidin]

image

Hal penting lainnya dari pemikiran Abdul Karim Soroush adalah gagasannya tentang al-kalam al-jadid; yang disebutnya sebagai teologi modern atau filsafat agama atau religiologi. Gagasan ini dikembangkannya sendiri saat mengajar di Fakultas Keagamaan Universitas Teheran, Iran.

Dalam mengajarkan teologi modern (Islam) ini, Abdul Karim Soroush memasukan filsafat Winch, Habermas, Hayek, Muthahhari, Ibnu Khaldun, Mulla Shadra, Jalaluddin Rumi, Sa`di, Hegel, Herder, dan Marx. Tidak heran jika pemikiran dan wacana yang dilontarkannya kaya dengan istilah-istilah filsafat modern, kritis, dan reflektif.

Dalam sebuah wawancara, Soroush menyampaikan, “Subjek penting lain yang saya selidiki adalah teologi modern (al-kalam al-jadid). Saya mengkaji hubungan antara manusia, sains, dan agama. Saya memulai seri perkuliahan ini di Fakultas Keagamaan Universitas Teheran. Kebutuhan akan pemahaman baru terhadap agama berhasil menarik banyak mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan ini. Teologi modern ini mendorong saya memperluas cakrawala pandang saya.”[11]

Soroush mengakui ketertarikannya pada teologi modern ini dikarenakan menyenangi bidang tafsir Al-Quran dan khazanah Islam; yang kemudian mendorongnya untuk mengkaji ulang hasil penafsiran para ulama yang berbeda-beda terhadap teks suci (agama). Alasan lainnya, karena ia mengagumi karya-karya sufi dan keterlibatannya dalam urusan politik.[12] Dalam upaya menyatukan bidang-bidang itu, ia terlebih dahulu mencetuskan teori penyusutan dan pengembangan agama—sebagai metodologi—dan menggulirkan konsep pemerintahan demokrasi agama (democratic religious government).

Konsep pemerintahan demokrasi agama tesebut berupaya menyelaraskan kepuasan rakyat dengan restu Tuhan, menyeimbangkan urusan agama dan non-agama, dan berbuat yang benar terhadap rakyat maupun Tuhan dengan mengakui integritas manusia dengan agama.[13] Untuk mewujudkan pemerintahan demokrasi agama memerlukan suatu kombinasi antara nalar (aql) dan wahyu (syari`), penghormatan yang tinggi terhadap hak-hak asasi manusia, dan memberikan kebebasan (bagi masyarakat) dalam menjalankan agama.  

Dalam teori penyusutan dan pengembangan agama, Soroush mengajukan tiga prinsip. Pertama, prinsip koherensi (keterpaduan) dan korespondensi. Pemahaman agama merupakan hasil interpretasi atas nash yang merupakan produk pemikiran manusia dan dipengaruhi aspek-aspek internal dan eksternal dalam menafsirkannya itu. Kedua, prinsip penyempitan atau perluasan dalam sistem pengetahuan manusia melahirkan pemahaman agama. Ketiga, prinsip evolusi. Sistem pengetahuan manusia itu mengalami perluasan dan penyimpitan (dinamika pemikiran).[14]

Soroush pun menggunakan pendekatan disiplin ilmu-ilmu modern (filsafat, sosiologi, politik, ekonomi, etika, dan lainnya) dengan disertai ijtihad pribadi dalam mempraktikan teorinya itu. Dengan ilmu-ilmu modern ini, kata Soroush, teologi modern (Islam) akan mampu menjawab tantangan dan persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. Dengan melakukan interpretasi terhadap nash-nash agama menjadi jelas bahwa agama merupakan doktrin yang memberikan pemahaman atau penjelasan tentang Tuhan dan perintah-perintahnya. Pemahaman orang terhadap agama inilah yang disebut ilmu agama. Kedudukan ilmu agama ini tidak sakral karena merupakan produk pemikiran manusia; yang berbeda dengan agama itu sendiri. Agama merupakan produk Tuhan, bersifat abadi dan sakral. Sedangkan ilmu agama atau pemahaman agama senantiasa berubah, terbuka peluang kritik, menyusut atau menyimpit dan mengembang, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan manusia dan konteks zaman.

Dalam kajiannya, teologi modern ini membahas tema-tema seperti hak asasi manusia dan hubungannya dengan agama, nilai-nilai etika masyarakat, pilihan bebas dan kebebasan, eksistensi Tuhan, kenabian, keadilan, masalah-masalah eskatologi, dan kritik-kritik Islam terhadap ideologi maupun filsafat yang bersifat anti-agama atau ateisme. Aspek lahir dan batin agama, memahami bahasa agama dan cara memandang realitas, dan pengujian klaim kebenaran agama, pun tak luput jadi pokok bahasan dalam teologi modern (Islam) ini.   

Menurut Soroush bahwa teologi modern (Islam) ini bukan hanya sekadar membicarakan tentang apa yang bisa dipahami dan tidak bisa dipahami manusia dari sebuah agama, tapi juga mengkaji pada apa yang mereka dapat dan yang tidak dapat diungkapkan oleh para ulama terdahulu maupun setelahnya. Dalam teologi tradisional Islam para ulama berupaya membuktikan ‘klaim’ atau pendapatnya dan membuktikan kesalahan lawannya sehingga bersifat dialektis (jadaliyah); sedangkan dalam teologi modern (Islam) berupaya membuktikan bahwa menjadi saleh, beriman kepada Allah (tauhid), mengimani kebenaran wahyu dan kenabian (nubuwwah), iman kepada hari akhir (al-ma`ad), alam gaib, dan tentang malaikat-malaikat, adalah sesuatu yang masuk akal dan bukan sebuah irasionalitas. Tentunya, hal demikian bisa terbukti apabila kaum Muslim sendiri berupaya melakukan sebuah upaya (dengan nalar dan ijtihad agama) ‘rasionalisasi’ keimanan agama.[15] Dengan ‘rasionalisasi’ keimanan agama ini nantinya akan sampai pada kebenaran dan mengetahui langkah apa saja yang seharusnya dan tidak harus dilakukan kaum Muslim sehingga terwujud Islam yang berwajah perdamaian. (tamat)  

[ahmad sahidin, alumni UIN SGD Bandung dan pegiat keagamaan]

 

CATATAN

[1] Biografi ini sebagian diambil dari pengantar Dr.Haidar Bagir dalam buku  Abdul Karim Soroush, Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama (Bandung: Mizan, 2002 ) dan situs  www.drsoroush.com.

[2] Lihat Abdul Karim Soroush, Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama (Bandung: Mizan, 2002), h.5-6.

[3] Penentuan 100 tokoh intelektual yang berpengaruh di dunia ini dilakukan oleh lembaga Foreign Policy. Mereka yang termasuk di dalamnya adalah Aitzaz Ahsan (Pakistan), Shirin Ebadi (Iran), Samuel Huntington (AS), Anies Baswedan (Indonesia), Hu Shuli (China), Ashis Nandy (India), Amartya Sen (India), Kwame Anthony Appiah (Ghana, AS), Umberto Eco (Italia), Sunita Narain (India), Lilia Shevtsona (Rusia), Anne Applebaum (AS), Fan Gang (China), Michael Ignatieff (Kanada), Martha Nussbaum (AS), Peter Singer (Asutralia), Jacques Attali (Prancis), Drew Gilpin Faust (AS), Tony Judt (Inggris), Sari Nusseibeh (Palestina), Lee Smolin (AS), George Ayittey (Ghana), Nial Fergusen (Inggris), Robert Kagan (AS), Amoz Os (Israel), Abdul Karim Sourosh (Iran), Daniel Barenboim (Israel), Alain Finkielkraut (Prancis), Daniel Kahneman (Israel, AS), Orham Pamuk (Turki), Wole Soyinka (Nigeria), Thomas Friedman (AS), Garry Kasparov (Rusia), David Petraeus (AS), Michael Spence (AS), Paus Benedikt (Jerman, Vatikan), Francis Fukuyama (AS), Amr Khaled (Mesir), Steven Pinker (Kanada, AS), Lawrence Summers (AS), Ian Buruma (Inggris, Belanda), Yegor Gaidar (Rusia), Rem Koolhaas (Belanda), Richard Posner (AS), Chalres Taylor (Kanada), Fernando Henrique Cardoso (Brasil), Howard Gardner (AS), Ivan Krastev (Bulgaria), Samantha Power (AS), Masio Vargas Llosa (Peru), Noam Chomsky (AS), Neil Gershenfeld (AS), Enrique Krauze (Meksiko), Robert Putnam (AS), Harold Varmus (AS), J.M. Coetze (Afrika Selatan), Malcolm Galdwell (Kanada, AS), Paul Krugman (AS), Yusuf Qardhawi (Mesir, Qatar), J. Craig Venter (AS), Paul Collier (Inggris), Al Gore (AS), Lee Kuan Yew (Singapura), V.S. Ramachandran (India), Michael Walzer (AS), Richard Dawkins (inggris), Ramachandra Guha (India), Lawrence Lessig (AS), Tariq Ramadhan (Swiss), Wang Hui (China), Alexander De Waal (Inggris), Alma Guillermoprieto (Meksiko), Steven Levits (AS), Gianni Riotta (Italia), E.O. Wilson (AS), Therese Delpech (Prancis), Fetullah Gullen (Turki), Bernard Lewis (Inggris, AS), Nouriel Roubini (Italia, AS), Martin Wolf (Inggris), Daniel Dennet (AS), Jurgen Habermas (Jerman), Bjorn Lomborg (Denmark), Olivier Roy (Prancis), Shalman Rushdie (Inggris), Yan Xuetong (China), Jared Diamond (AS), Vaclav Havel (Rep. Ceko), James Lovelock (Inggris), Muhammad Yunus (Bangladesh), Esther Dufflo (AS), Fareed Zakaria (AS), Ayaan Hirsi Ali (Somalia, Belanda), Mahmood Mamdani (Uganda), Jeffrey Sachs (AS), William Easterly (AS), Christopher Hitchens (Inggris, AS), Minxin Pei (China), Fernando Savater (China), dan Salvoj Zizek (Slovenia).

[4] Lihat tulisan Sunarwoto, “Perlu Identitas Agama Yang Terbuka”,  yang merupakan liputan dari ceramah Dr. Abdul Karim Soroush pada acara silaturahmi The Indonesian Young Leaders (TIYL) di kantor ISIM (The International Institute for the Study of Islam in the Modern World), Leiden, Belanda,  24 Juli 2007.

[5] Ayat tentang ini terdapat dalam surat Ali Imran [3] ayat  64, “Katakanlah: ‘Hai Ahli Kitab, marilah  kepada suatu kalimat  yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak  sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri’.

[6] Al-Quran Surat Al-Isra [17] ayat 70, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam;  Kami angkut mereka di daratan dan di lautan , Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

[7] Gagasan ini dilontarkan juga oleh Murtadha Muthahhari yang menyebutkan bahwa Islam waqi’i  merupakan Islam  sejati  yang memikul ruhiyah samawiyah; yang berlawanan dengan Islam  geografis atau mengaku-ngaku saja (al-jughrafi). Lihat Jalaluddin Rakhmat dalam Islam dan Pluralisme: Akhlak Al-Quran dalam Menyikapi Perbedaan (Bandung: Mizan, 2006). Pemikiran ini dikemukakan pula oleh Marshall G.S.Hodgson dalam buku The Venture of Islam: Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia (terjamahan Dr.Mulyadhi Kartanegara dari judul asli: The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization, Volume one: The Classical Age of Islam, Book one: The Islamic Infusion: Genesis a New Social Order) yang diterbitkan Penerbit Paramadina, Jakarta,  tahun 1999. Hodgson membedakannya jadi tiga: Islamic (Islam sebagai nilai dan  doktrin), Islamicate (Islam yang mewujud dalam diri seorang Muslim yang  keberadaannya itu dipengaruhi budaya lokal dan pemikirannya/Islam yang bercorak budaya), dan Islamdom (Islam dalam konteks negara atau wilayah/komunitas Muslim dari aspek statistik-kuantitas).

[8] Lihat Abdul Karim Soroush, Menggugat Otoritas dan Tradisi Agama (Bandung: Mizan, 2002), h.27.

[9] Julukan ini dikemukakan oleh Dr.Haidar Bagir. Ibid, h.xv.

[10] Lihat Abdul Karim Soroush. Ibid, h.79-86.

[11] Lihat Abdul Karim Soroush. Ibid, h.15.

[12] Lihat Abdul Karim Soroush. Ibid, h.17.

[13] Lihat Abdul Karim Soroush. Ibid, h.178.

[14] Lihat Abdul Karim Soroush. Ibid, h..xxiii.

[15] Lihat Abdul Karim Soroush. Ibid, h.100.

 

 

Fri, 21 Dec 2018 @17:32

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved