Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Berbagi tentang Buku Genealogi Hadis Politis Al-Muawiyat

image

 

Semalam sulit tidur. Dan saya manfaatkan untuk selesaikan membaca buku "Genealogi Hadis Politis Al-Muawiyat" karya Dr Muhammad Babul Ulum. Tebal bukunya 314 halaman. Diterbitkan Marja, Bandung, November 2018. Sebuah karya ilmiah dari desertasi yang dipertahankan di Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Saya mendapatkan informasi tentang karya ini saat sebelum terbit. Bahkan di tempat kawan saya ada dummy bukunya sebelum terbit secara resmi. Saya lihat-lihat saja dan tidak dibaca. Maklum ranah hadis dan wacana ulumul hadis, menurut  saya hanya orang tertentu yang bisa masuk pada bidang tersebut.

Meski pernah ikut kuliah hadis saat di UIN atau kajian hadis di sebuah lembaga, tetap saja saya tidak paham. Terlalu banyak istilah teknis dan perlu bongkar kitab demi kitab kalau sudah bicara sanad, rawi, matan, dan asbabul wurud. Meski ada hubungannya dengan studi sejarah, saya tetap sampai hari ini tidak paham dengan studi hadis. Jadi, saat membaca buku "Al-Muawiyat" ini pun sekadar menambah wawasan saja.

Saya baca dari pengantar sampai simpulan buku. Indeks dan referensi serta lampiran kutipan dan glosarium untuk istilah pun dibaca. Hanya sekadar baca saja dan melihat rujukan yang digunakan.

Maklum desertasi adalah karya tingkat tinggi dan biaya yang dikeluarkan sangat besar, serta waktu yang dihabiskan pun sangat panjang dan serius.

Sang penulis pada pengantar buku sempat cerita tentang dinamika kampus dan suasana akademik serta nasib karya ilmiahnya, yang kini menjadi buku. Patut diapresiasi dan ucapan selamat untuk Ustadz Muhammad Babul Ulum atas karyanya yang dahsyat dan berani.

Saya kira memang berani dan terbuka, sang penulis dalam menyajikan narasi dan wacana dari karyanya. Pada bagian mukadimah saja sudah tampak keberaniannya untuk menuangkan riwayat tentang kebiasaan jahiliyah yang dilakukan seorang sahabat ternama. Apalagi kalau membaca lembar demi lembar pada bab 2 dan 3, bab 5 dan 6, tampak keberanian penulisnya untuk masuk pada ranah yang akan bisa menimbulkan sikap antipati dari umat yang mengaku pembela (kesucian) para sahabat.

Lantas, apa yang saya dapatkan dari buku "Al-Muawiyat" yang selesai dibaca sekira satu pekan ini?

Satu bahwa sebuah agama dalam perkembangan pemahaman keagamaan dan pemikiran atas ajaran agama, bahkan amal ibadah mengalami proses dinamika dan berkelanjutan. Sehingga klaim kebenaran diperebutkan oleh kaum agamawan dan cendekiawan, serta umatnya. Meski sama merujuk pada teks agama yang sama, tetapi  pemahamannya akan beda. Tentu ada faktor, terutama ideologi dan kepentingan lainnya.

Dua bahwa khazanah intelektual Islam, terutama untuk kajian sumber berupa hadis tidak pernah ada kata final. Selalu mengalami perubahan dan berkembang dari satu riset pada riset lainnya. Kesakralan pemahaman agama atas teks suci dan dogma (doktrin) tidaklah berhenti dalam kajian ilmiah (akademik).

Tiga bahwa sang penulis buku Al-Muawiyat ini bisa dikatakan banyak baca sehingga banyak teori dalam memaparkan narasi dari risetnya. Meski pada bagian mukadimah disebutkan metode penelitian berpijak pada takhrij hadis dan historical critical method, tetapi hampir setiap bab dalam menguraikan narasi dengan perspektif dan teori yang di antara bab tidak sama. Sesekali menggunakan analisa hermeneutika Gracia, teori sejarah Louis Gottschalk, teori Karl Marx, dan lainnya. Juga saya lihat bertaburan menyebut orientalis yang konsern studi hadis dan ahli hadis modern (dari kalangan Muslim).

Tentang yang terakhir ini saya bertanya-tanya dalam benak. Sebab "doktrin" akademik yang saya terima saat ngobrol dengan profesor di UIN Bandung ketika akan susun tesis menyatakan karya ilmiah yang kali pertama dilihat oleh akademisi adalah konsistensi dalam metodologi dan teori, sehingga terlihat dari bab demi bab menyatu satu kesatuan membentuk bangunan "narasi-narasi" akademik yang kokoh dan punya akar kuat dari rujukan yang otoritatif dan sudah lolos dari kritik di bidangnya.

Tampaknya untuk desertasi "doktrin akademik" yang saya terima tidak menjadi standar baku. Dan dari buku Al-Muawiyat ini saya mengetahuinya bahwa standar baku itu hilang.

Alhamdulillah, hanya itu yang bisa saya bagikan. Mohon maaf tidak mendalam ulasannya. Maklum saya bukan ahli hadis, saya hanya tukang baca buku-buku yang kualitasnya rendah. Sehingga agak susah mencernanya. Walaupun demikian, buku Al-Muawiyat ini sangat menambah wawasan tentang abad 7 dan 8 Masehi di Dunia Islam, tentang konsep 'adalatus shahabah, kontinuitas nubuwwah dan imamah, intrik politik dinasti dan ashabiyah dalam tubuh umat Islam, dan konflik dua bani (Hasyim dan Umayyah) yang berkelanjutan. Sehingga membentuk sejarah dengan narasi yang menyeramkan. Ah, tampaknya ini hanya soal rekonstruksi historis  yang horor dengan bumbu dogmatisme.

Dan ini catatan terakhir dari saya untuk Dr Muhammad Babul Ulum dan peminat studi hadis, akan sangat baik dan menarik riset Al-Muawiyat ini dilanjutkan pada kitab-kitab induk hadis (kutubussitah). Siapa tahu nanti bisa diketahui prosentasi hadis Al-Muawiyat dan hadis Al-Israiliyat dari kitab-kitab Bukhari, Muslim, Annasai, Turmudzi, Thabrani, dan lainnya. Ditunggu lanjutan risetnya! *** (ahmad sahidin, alumni uin sgd bandung)

 

 

Sat, 22 Dec 2018 @17:18

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved