INFORMASI MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima kiriman artikel/opini atau resensi buku. Silakan kirim melalui e-mail: abumisykat@gmail.com

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Farid Esack Menerapkan Al-Quran Sesuaikan dengan Konteks

image

 

Saat berusia tiga minggu Farid Esack sudah ditinggal bapaknya tanpa berita. Pada usia enam tahun, dia dan ibunya diusir pemilik rumah yang mereka diami. Untuk makan sehari-hari keduanya bergantung pada kebaikan tetangganya yang beragama Kristen.
Ketika remaja (14 tahun) Esack aktif melawan sistem apartheid. Ia ditangkap dan disiksa dalam penjara. Mereka yang mendukung sekaligus pelaksana sistem pemerintahan yang menindas itu bukanlah non-Muslim, malah orang-orang Muslim.

Pengalaman masa kecil yang banyak dibantu orang Kristen dan penindasan yang dilakukan orang-orang yang beragama Islam, muncullah pemikiran bahwa Tuhan tidak memandang label agama ketika hendak menolong. 

Berpijak dari fakta itu, Farid Esack menegaskan bahwa tantangan yang menghadang di depan bagi umat manusia bukanlah soal label agama, bukan persoalan Muslim dan non-Muslim melainkan keadilan dan ketidakadilan.

Menurut Esack bahwa seorang Muslim memiliki kewajiban untuk menerapkan Al-Quran dalam konteks yang nyata terjadi di lingkungannya, sehingga darinya memperoleh tafsir yang bisa mencerahkan umat. Sebelum menanamkan ajaran tauhid dan amalan ibadah (syari`ah), Nabi Muhammad saw terlebih dahulu memerangi penindasan ekonomi dan perbudakan di Mekkah serta mengangkat kaum dhuafa dan budak belian sederajat dengan kaum Muslim lainnya.

Begitu juga dengan para nabi lainnya. Nabi Ibrahim as membebaskan umatnya dari penindasan Namrud. Nabi Musa as melawan Fir'aun yang membunuh setiap bayi laki-laki untuk melemahkan cikal bakal munculnya pemberontak; karena bila rakyatnya lebih banyak kaum wanita maka tak akan ada kekuatan yang merongrongnya sehingga kekuasaannya mapan. Namun, Allah berkehendak lain. Musa—bayi laki-laki yang dibuang dan kemudian dipelihara istri Fir`aun—tampil menentang Fir`aun dan membebaskan umat dari penindasan dan pemujaan terhadap manusia. Fakta sejarah inilah kemudian yang mengilhami Esack melakukan sebuah gerakan nyata untuk membebaskan derita kaum tertindas masyarakat Afrika Selatan dari penindasan tuan tanah dan penjajah asing.[1] 

Doktor yang memiliki keahlian dalam ilmu tafsir Al-Quran ini menjelaskan bahwa kualitas kemanusiaan seseorang tidak hanya dinilai dari buah pikirannya, melainkan pada kepeduliannya  membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Tindakan nyata inilah, kata Esack, menjadi ciri khas dari gerakan dakwah Nabi Muhammad saw pada masa awal Islam. 

​Dengan penafsiran ayat-ayat Al-Quran, Esack membangkitkan semangat perlawanan orang-orang dhuafa dan para petani miskin terhadap penindasan yang dilakukan para tengkulak dan tuan tanah. Esack tidak sekadar mengajarkan ajaran Islam, tetapi juga berupaya mewujudkan tujuan dan nilai-nilai Islam yang lebih konkret dan dirasakan masyarakat. Untuk mewujudkannya, Esack bekerjasama dengan non-Muslim sehingga bisa cepat mengubah kondisi masyarakat Afrika Selatan. *** (ahmadsahidin)

catatan
[1] Lengkapnya baca buku Farid Esack, Samsurizal Panggabean, et.al, Membebaskan yang Tertindas: Al-Quran, Liberasi dan Pluralisme (Bandung: Mizan, 2000).

 

 

Mon, 31 Dec 2018 @15:31

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved