INFORMASI MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima kiriman artikel/opini atau resensi buku. Silakan kirim melalui e-mail: abumisykat@gmail.com

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Membangkitkan Ekonomi kaum Miskin di Bangladesh versi Muhammad Yunus

image

Muhammad Yunus dikenal sebagai perintis pemberdayaan ekonomi mikro kaum miskin di Bangladesh. Muhammad Yunus adalah dosen ekonomi lulusan Amerika Serikat. Ia lahir dan besar di Bangladesh, Chittagong. Ia dengan gigih berupaya memberantas kemiskinan di negaranya selama lebih dari 30 tahun melalui program kredit mikro.

​Perjuangan Yunus diawali dari kegelisahannya sebagai seorang akademisi yang mengajarkan teori-teori ekonomi di Universitas Chittagong. Teori-teori yang diajarkannya tidak berdaya menghadapi bencana kemiskinan dan kelaparan yang melanda negaranya pada 1974. Apalagi ketika Yunus melihat masyarakat miskin yang ada di sekitar tempatnya mengajar, Desa Jobra. Ia juga tersentak kaget ketika mengetahui ada seorang perempuan Desa Jobra menjadi ’budak belian’ seorang rentenir hanya karena tak bisa membayar utang sebesar US$1 (+Rp. 9.000). Kenyataan pahit itu mendorong Yunus untuk menemukan cara-cara baru untuk mengentaskan kemiskinan di Bangladesh. Bersama para mahasiswanya, Yunus berkunjung ke desa-desa miskin dan menyaksikan ribuan warga miskin tewas karena kelaparan.[1]

​“Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi. Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan kemiskinan. Kami professor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya putuskan kaum papa harus menjadi guru saya,” katanya.[2]

Karena merasa bersalah, laki-laki kelahiran Chittagong, Bangladesh, 28 Juni 1940 ini mulai mengembangkan konsep pemberdayaan orang-orang miskin. “Saya ingin membantu kaum miskin agar bisa mengangkat derajat mereka sendiri. Saya tidak ingin memberi ikan, melainkan memberi pancing kepada kaum papa untuk mencari ikan sendiri,” tegasnya.[3]

Saat melakukan kunjungan, Yunus bertemu Sufia Begum, seorang ibu perajin bamboo yang berutang kepada tengkulak (rentenir) untuk modal membuat bangku dari bambu. Sufia meminjam uang sebesar 5 taka (sekitar Rp850.) untuk setiap bangku. Pinjaman itu harus dikembalikan berikut bunganya sebesar Rp184.

“Melihat itu hati saya bergumam, hanya karena lima taka ibu miskin itu menjadi budak. Saya tidak mengerti mengapa mereka miskin, padahal mereka bisa membuat barang kerajinan yang bagus,” keluhnya.[4]

Yunus merogoh koceknya sendiri sebesar 27 dollar AS untuk modal usaha Sufia dan teman-temannya.  Ia percaya bahwa kaum miskin bila diberi modal akan bisa mengurus kehidupannya sendiri. Apa yang diharapkan Yunus ternyata terwujud, program kredit mikro yang digulirkannya terus berkembang.

Dari sana Muhammad Yunus beserta teman-temannya membuat program kredit mikro tanpa agunan untuk warga miskin. Tahun 1976, Yunus mengubah lembaga kredit mikro yang dirintisnya itu menjadi sebuah bank formal yang bernama Bank Grameen (Bank Desa) khusus untuk warga miskin. Grameen Bank ini memberikan pinjaman modal bagi warga miskin tanpa bunga. Warga miskin, terutama kaum wanita, sangat antusias dengan program yang digagas Muhammad Yunus itu. Agar pengembaliannya tidak macet, Bank Grameen menggunakan sistem grup solidaritas. Orang miskin yang meminjam modal harus bergabung dengan orang miskin lainnya dalam satu kelompok.

Setelah terbentuk sebuah kelompok organisasi kecil, mereka diperkenankan untuk mengajukan pinjaman. Setiap kelompok yang mengajukan hanya mendapat satu pinjaman kepada anggota kelompok yang sangat membutuhkan. Anggota lainnya belum mendapatkan pinjaman apabila si peminjam pertama belum melunasinya. Anggota satu dengan anggota lainnya saling mendorong agar cepat dan berhasil mengembalikan pinjaman; karena modal itu akan digunakan oleh anggota lainnya. Begitulah terus berputar dana pinjaman itu. Pihak Grameen Bank hanya memantau berjalannya usaha-usaha mereka.[5]

Tidak hanya memberikan kredit mikro, Yunus melalui Bank Grameen memperluas aksinya dengan memberikan kredit pinjaman rumah (KPR), proyek irigasi, dan usaha lainnya. Bank khusus kaum miskin ini memiliki 2.226 cabang di 71.371 desa dan mampu menyalurkan kredit puluhan juta dollar AS per bulan kepada 6,6 juta warga miskin.

Grameen Bank  pada akhir 2003 memberikan pinjaman untuk para pengemis di Bangladesh rata-rata sebesar 500 taka (9 dollar AS). Mereka yang meminjam tidak dibatasi waktu, hanya diharuskan mengembalikan pinjaman itu dari hasil usaha, bukan dari mengemis.[6]

Grameen Bank juga membantu kaum miskin memasarkan produk-produk usahanya, termasuk menjamin utang pembelian barang-barang atau bahan baku usaha para nasabahnya. Selain diharuskan membayar pinjaman, para nasabah juga didorong untuk bisa menabung di Grameen Bank. Mereka juga dilindungi asuransi jika terjadi kematian.

Pada 2005, Grameen Bank menyalurkan 31 juta taka pinjaman kepada 47 ribu pengemis, dan sekitar 15,4 juta di antara pinjaman itu telah dikembalikan para nasabah. Atas jasanya dalam membantu mengentaskan kemiskinan dan keberhasilannya dalam mengembangkan program pemberdayaan ekonomi mikro, pada akhir 2006 Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapatkan Nobel Perdamaian dengan hadiah sebesar 1,36 juta dollar AS (Rp12,5 miliar). Saat menerima hadiah, Muhammad Yunus menyampaikan, “Uang ini akan saya dipakai untuk proyek makanan bergizi yang murah, program perawatan mata, pengadaan air minum dan layanan kesehatan warga miskin,” kata Yunus.

Muhammad Yunus dengan aksi Grameen Bank berhasil memberdayakan kaum dhuafa dan orang-orang miskin, terutama wanita. Ia melalui Grameen Bank membimbing masyarakat miskin Bangladesh dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi mikro hingga mereka terlepas dari jeratan tengkulak (rentenir). Warga miskin yang berada dalam asuhannya berhasil menjadi masyarakat mandiri dan memiliki penghasilan yang cukup.

Basis gerakan Yunus memang tidak menampakkan unsur-unsur agama Islam dalam aktivitasnya. Namun, bila ditelusuri lebih jauh dalam aktivitasnya itu, jelas berasal dari semangat untuk membebaskan umat dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan. Yang hal itu merupakan nilai-nilai Islami yang terdapat dalam Al-Quran surat Al-Balad yang memerintahkan untuk membebaskan perbudakan dan dalam surat Al-Ma`un diperintahkan untuk menyantuni anak yatim dan miskin; yang dalam diterapkan oleh Muhammad Yunus dengan membebaskan orang dari jeratan atau perbudakan yang dilakukan rentenir yang menghisap ‘darah’ masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah dengan pinjaman yang berbunga. Bila membayar, maka kian besarlah jumlah dana yang harus dibayar ke rentenir. Tidak jarang karena tidak mampu membayar, si rentenir mengambil rumah dan barang-barang berharga lainnya dengan paksa.

Karena itu, Muhammad Yunus dengan mendirikan Grameen Bank telah menjadi solusi untuk mencegah orang-orang miskin agar tidak mengutang pada rentenir (lintah darat). Yunus pun terjun ke masyarakat untuk mengarahkan, membimbing, dan menggerakkan masyarakat miskin untuk berwirausaha dan bekerja secara mandiri dengan menciptakan produk-produk khas daerah dan industri rumah tangga.

Dengan gerakan pemberdayaan ekonomi mikro ala Muhammad Yunus itu, masyarakat miskin di Bangladesh menjadi mandiri dan memiliki penghasilan yang cukup. Aktivitas Yunus tersebut bisa disebut gerakan praktis teologi Islam yang mengubah kondisi sosial masyarakat. *** (Ahmad Sahidin)

catatan:
[1] Lengkapnya diihat artikel “The autobiography of Muhammad Yunus, founder of the Grameen Bank” dalam situshttp://www.grameen-info.org, http://www.muhammadyunus.org.
[2] Lihat Muhammad Yunus, Bank Kaum Miskin  (Jakarta: Marjin Kiri, 2007). Bagian awal buku.
[3] Lihat Muhammad Yunus. Ibid.
[4] Lihat Muhammad Yunus. Ibid.
[5] Lihat situs http://www.grameen.com.
[6] Lihat situs http://www.grameen.com.

 

Tue, 1 Jan 2019 @13:11

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved