BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

RSS Feed

Saya Putra Islam

image

Dahulu saat kuliah di UIN Bandung saya pernah berbincang dengan salah seorang dosen yang juga guru besar. Beliau juga adalah guru saya. Yang dibincangkan soal ajaran Islam mazhab Syiah. Dalam obrolan teologi yang kemudian bahas tentang fikih. Saya juga sempat tanya komentarnya tentang gagasan buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat.

Guru saya sempat berkomentar, ia tidak mengerti dengan istilah dahulukan akhlak di atas fikih. Ia bilang belum membacanya, meski sudah memiliki bukunya. Menurut guru saya itu, justru dari pelaksanaan dan pemahaman syariat atau fikih yang benar yang dijalankan seorang Muslim atau Muslimah maka akhlak akan terbukti.

Saya sampaikan bahwa fikih senantiasa berujung berantem atau konflik pemahaman dan tentang akhlak semua orang sepakat, yaitu perilaku terpuji dan mulia yang setiap orang pasti tidak menolaknya. Beliau menyatakan yang konflik itu belum paham dan tidak mengerti kalau dalam urusan fikih itu bersifat individu dan setiap orang berhak untuk menentukan fikih mana atau mazhab apa yang dianutnya untuk menjalankan syariat Islam, khususnya dalam ibadah.

Dari obrolan santai di ruang kerjanya, guru saya mewanti wanti agar jangan sampai masuk pada mazhab Syiah. Kalau perlu tidak bermazhab saja karena agama Islam tidak melihat mazhab seseorang, tetapi pada kerja atau amal saleh dan kontribusi di masyarakat yang dinilai Allah dan Rasul-Nya.

Saya tersenyum. Saya setuju dengan pesannya. Saya menjadi teringat kepada seorang cendekiawan muda (dalam seminar Idul Ghadir di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indah Indonesia, Jakarta, 3 November 2012) bahwa Salman Al-Farisi saat ditanya asal usul dan nasab, ia menjawab: Saya Putra Islam.

Saya juga teringat pada ucapan Ustadz Miftah Rakhmat yang menyampaikan dalam sebuah ceramahnya bahwa almarhum Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah mengatakan kalau kamu ditanya mazhab, katakan: Ana Muslim.

Sekadar info dari Tempo online bahwa di Sampang, Madura, ada 26 pengikut mazhab Syiah dipaksa agar masuk kembali pada mazhab Ahlussunah, khususnya pada ajaran Islam versi Nahdlatul Ulama (NU). Dan ini membuat saya termenung. Sebab setahu saya bahwa NU itu memiliki tradisi yang mirip dengan mazhab Syiah. Bahkan Gusdur pernah bilang bahwa NU itu Syiah minus Imamah.

Bagi saya bahwa urusan mazhab tidak usah diutak atik lagi. Biarlah itu pilihan setiap pengikutnya. Soal nenek moyangnya Ahlussunah dan keturunannya menjadi Syiah bukan masalah yang besar. Mereka dalam shalat tetap berkiblat pada Ka’bah, Kitab Sucinya Al-Quran, Nabinya Muhammad saw, dan Tuhannya tetap Allah.

Bagi saya, Sunni dan Syiah hanyalah bagian dari sejarah dan hanya penting kalau dikaji dalam konteks ilmiah. Untuk kebangsaan dan kemanusian, yang dikedepankan ukhuwah.*** (Ahmad Sahidin)

Sat, 5 Jan 2019 @19:45

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved