BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

RSS Feed

Tentang Islam Mazhab Syiah, Sebuah Obrolan dengan Warga NU

image

Kaum takfiri Wahabi sampai sekarang ini menyebar fitnah terhadap Muslimin Syiah bahwa Syiah melaknat sahabat Nabi, tidak hormat kepada istri Nabi, dan Kitab Sucinya berbeda. Sudah banyak ulama yang membuktikan yang dituduhkan tersebut adalah bohong. Namun, bukannya sadar dan berhenti malah terus mengumbar isu bahwa Syiah bahaya bagi negara.

Lagi-lagi isu murahan itu disebarkan kepada orang-orang yang tidak tahu tentang Syiah. Ada yang langsung percaya, juga ada yang tak peduli. Maklum yang menyebarkan itu adalah yang biasanya larang tahlilan, larang ziarah kubur, dan orang yang tidak melakukan maulid Nabi. Ketika bicara depan warga Nahdliyin tidak didengar. Malah dibiarkan saja. Kasihan tidak dianggap.

​Di kampung saya, seorang bapak datang kepada saya. Dia konfirmasi: benarkah Syiah yang coba hancurkan makam Nabi, makam sahabat, melarang ziarah, dan tidak merayakan kelahiran Rasulullah saw. Juga tidak mengikuti ulama terdahulu dalam urusan agama. Itu yang disampaikannya.

Saya ajak merenung sedikit. Saya tanya balik: kalau yang suka melakukan yang disebutkan itu di masyarakat kita siapa? Coba ingat. Siapa yang larang tahlil, marhabaan, maulid, dan shalawat?Siapa yang tidak suka maulid nabi dan sering bicara bidah atau tidak ada contoh dari Nabi. Siapa yang bilang tak boleh ikut ulama?

Setelah diingatkan begitu: si Bapak tertawa dan mengatakan bahwa yang begitu biasanya orang-orang yang jenggotan dan celananya ngatung alias cingkrang. Kaum wanitanya suka pakai cadar.

Lalu, si Bapak tanya tentang Syiah. Saya jawab dengan perkataan Gus Dur bahwa Syiah memiliki kesamaan dengan NU (Nahdlatul Ulama). Semua yang dilakukan NU dalam praktik beragama ada dalam Islam mazhab Syiah, khususnya Syiah Imamiyyah.

Gus Dur pernah bilang: NU secara kultural Syiah dan NU itu Syiah yang minus imamah. Dan saya sampaikan bahwa yang membedakan antara Syiah dengan Ahlussunnah yang paling mendasar adalah khalifah setelah Nabi. Kaum Muslimin Syiah percaya bahwa Imam Ali yang berhak menjadi khalifah. Kaum Muslimin Syiah menyebutnya Imam setelah Rasulullah saw dari keturunan Nabi Muhammad saw yang telah ditentukan secara nash. Sedangkan kaum Ahlussunnah tidak meyakininya. Kemudian orang Islam yang bermazhabkan Syiah percaya bahwa ketentuan khalifah setelah Rasulullah saw harus berdasarkan dalil atau nash dari Nabi karena Rasulullah saw sendiri ditentukan Allah. Jadi, khalifah Islam atau Imam harus dipilih berdasarkan hadis Rasulullah saw.  

Kaum Muslimin Syiah memiliki dalil yang kuat tentang Ahlulbait yang harus menjadi khalifah setelah wafat Rasulullah saw. Bahkan, ada dalam kitab hadis Ahlussunnah. Kemudian saya sarankan untuk membaca Buku Putih Mazhab Syiah yang diterbitkan organisasi Ahlul Bait Indonesia (ABI).

Di akhir obrolan, si Bapak tanya saya tentang laknat melaknat. Benarkah Syiah itu melaknat sahabat dan istri Nabi? Saya sampaikan bahwa itu hanya isu. Dalam sejarah memang ada, tapi sekarang sudah sedikit sekali yang melakukan demikian. Meski ada orangnya yang lakukan itu di London, Inggris, tidak menjadi alasan untuk menghakimi seluruh Muslimin Syiah. Itu hanya oknum.

Sama halnya dengan kasus buku Panduan MUI: Mengenal dan Mewaspadai Syiah di Indonesia yang ditulis oknum MUI, yang isinya menyesatkan Syiah. Jelas itu tidak mewakili MUI seluruhnya. Hanya oknum saja.

Bahkan dalam sejarah yang sering melakukan laknat itu dari sahabat kepada sahabat. Seorang ahli hadis, Jalaluddin As-Suyuthi berkata, "Pada zaman Bani Umayyah terdapat lebih dari tujuh puluh ribu mimbar untuk melaknat Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang telah ditetapkan Muawiyah." [Ibn Abil Hadid al-Mu'tazili, "Syarh Nahjul Balaghah", jil. 1, hal. 356].

Kemudian dari Ibn Abdu Rabbih berkata, "Ketika Muawiyah melaknat Ali dalam khutbahnya di Masjid Madinah, Ummu Salamah segera menyurati Muawiyah, ‘Sungguh engkau telah melaknat Ali bin Abi Thalib. Padahal, aku bersaksi, Allah dan Rasul-Nya mencintainya.' Namun, Muawiyah tidak peduli dengan kata-kata Ummu Salamah itu." [Ibn Abdu Rabbih, "Al-‘Iqdu al-Farid", jil. 2, hal. 301 dan jil. 3, hal. 127].

Juga ada riwayat dari Yaqut al-Hamawi berkata, "Atas perintah Muawiyah, Ali dilaknat selama masa kekuasaan Bani Umayyah dari Timur hingga Barat, di mimbar-mimbar masjid." [Yaqut al-Hamawi, "Mu'jam al-Buldan", jil. 1, hal. 191].

Dalam buku Merajut Ukhuwah Memahami Syiah karya Muhammad Babul Ulum disebutkan bahwa Aisyah binti Abu Bakar, istri Nabi, menyebut Khalifah Utsman bin Affan dengan perkataan: bunuhlah si tua. Waktu itu terjadi huru hara akibat kebijakan Utsman yang tidak adil. Hampir seluruh sahabat ikut dalam proses penyerangan yang berakibat terbunuhnya Utsman. Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah memerintahkan kedua putranya: Al-Hasan dan Al-Husein untuk melindungi Utsman. Sayangnya, dua cucu Rasulullah saw itu tidak bisa melawan massa yang mengamuk.

Kemudian saat Perang Jamal, Aisyah yang memerangi Imam Ali kemudian kalah dalam perang. Istri Nabi itu diperlakukan dengan baik dan terhormat. Ia dikawal untuk meninggalkan medan perang hingga selamat. Dalam perang, kalau ada yang kalah biasanya menjadi thulaqa. Ia bisa dijadikan budak. Namun itu tidak dilakukan oleh Imam Ali karena Aisyah dan sahabat yang memeranginya masih diakui beragama Islam.  

Saya sampaikan pula bahwa kaum takfiri Wahabi sekarang ini menyebar isu yang jelek tentang Syiah. Dahulu tidak terdengar kecaman mereka kepada Syiah. Baru sekarang ini muncul. Bahkan ada korban akibat tindakan anarkis dari Wahabi itu di Sampang Madura, sampai ada yang meninggal dunia akibat serangan kelompok anarkis Wahabi yang mengaku Ahlussunnah.

Kaum Wahabi bersembunyi dibalik kedok Ahussunah dan menuding Muslim Syiah sebagai kelompok sesat. Bahkan mereka menuding Al-Quran yang dipegang Muslim Syiah berbeda dan mengalami perubahan.

Pengalaman saya berinteraksi dengan kawan-kawan yang mengikuti mazhab Syiah tidak terbukti yang dituduhkan mereka. Yang saya ketahui bahwa Al-Quran yang dibaca tetap sama. Bedanya jilid dan desain Quran yang dicetak Iran lebih bagus dari kertas dan tintanya indah. Beda dengan Quran yang ada di masjid, sudah tipis dan tintanya tidak jelas.

Di akhir obrolan, saya sampaikan bahwa kaum Syiah itu masih Islam. Hal ini didasarkan atas ijtima para ulama dalam konferensi Islam internasional di Amman, Jordan, yang melahirkan fatwa berupa Risalah Amman.

Dalam fatwa Risalah Amman disebutkan: "Siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu dari empat mazhab Ahlus Sunnah (Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali), dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), mazhab Ibadi dan mazhab Zhahiri adalah Muslim. Tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas. Darah, kehormatan dan harta benda salah seorang dari pengikut/penganut mazhab-mazhab yang disebut di atas tidak boleh dihalalkan. Tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti akidah Asy’ari atau siapa saja yang mengamalkan tasawuf (sufisme). Demikian pula, tidak diperbolehkan mengkafirkan siapa saja yang mengikuti pemikiran Salafi yang sejati. Sejalan dengan itu, tidak diperbolehkan mengkafirkan kelompok Muslim manapun yang percaya pada Allah, mengagungkan dan mensucikan-Nya, meyakini Rasulullah (saw) dan rukun-rukun iman, mengakui lima rukun Islam, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam."

Tah kitu baraya. Mugi aya manfaatna. Keun bae nu teras-terasan ngewa mah engke jigana bakal aya nu mika ngewa. Nu penting mah payunkeun akhlak. Rek Sunni atanapi Syiah oge teu nanaon asal alus sikep ka papada manusa. *** (ahmad sahidin)

Sat, 5 Jan 2019 @20:06

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved