INFORMASI MISYKAT

Redaksi www.misykat.net menerima kiriman artikel/opini atau resensi buku. Silakan kirim melalui e-mail: abumisykat@gmail.com

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Tasawuf dan Dunia Modern [by Miftah Rakhmat]

image

Belakangan ini tasawuf ramai diminati. Kajian tentangnya digelar bukan hanya di masjid, tapi juga di hotel-hotel mewah. Tasawuf tidak lagi milik sekelompok kecil yang belajar di surau kampung.

Tasawuf kini berputar di ruangan orang-orang kaya. Apa pasal? Kehidupan modern telah membawa manusia pada apa yang disebut Ashley Montagu, seorang peneliti sosial, dehumanization of man, dehumanisasi manusia. Bukannya makin beradab, manusia makin kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya. 

Saya mengartikan dehumanisasi manusia itu bahwa sudah tidak terlihat lagi sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk selainnya. Ambil hadis Nabi tentang membalas keburukan dengan kebaikan, dan bandingkan dengan kehidupan kita sekarang ini. 

Saya tidak ingat persis redaksi hadisnya, tapi-kalau tidak salah- Nabi diriwayatkan berkata bahwa tabiat untuk membalas kebaikan dengan kebaikan, itu dimiliki oleh seluruh makhluk. Binatang buas sekalipun akan takluk karena kebaikan kita, al-insan abdul ihsan, manusia itu hambanya kebaikan. Anjing yang menggonggong dengan kasar terhenti manakala sepotong tulang diberikan kepadanya. 

Adapun bila kebaikan dibalas dengan keburukan, maka binatang yang liar sekalipun takkan melakukannya. Manusia yang membalas kebaikan dengan keburukan sudah lebih buruk bahkan dari binatang, bal hum adhal, bahkan mereka lebih sesat lagi. 

Karakteristik yang membedakan manusia dengan binatang, yang kemudian menjadikannya manusia, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaannya, adalah ketika ia membalas keburukan dengan kebaikan. Inilah yang tak mampu dilakukan hewan-hewan. Inilah yang mengangkat derajat kita menjadi makhluk yang lebih mulia.

Tentu masih ingat cerita ketika Nabi Saw sering dilempari sampah oleh seorang kafir, setiap kali beliau berangkat ke Baitullah. Hingga satu ketika, lemparan sampah itu terhenti. Nabi mendongak ke atas, orang kafir itu tak tampak. Bertanyalah Nabi kepada para sahabatnya. Disampaikanlah bahwa orang kafir itu sedang dirundung sakit. Apa yang Nabi lakukan? Beliau menjumpainya, mengunjunginya, dan mendoakan kesembuhannya. Orang kafir itu pun menyatakan keislamannya. 

Proses dehumanisasi manusia terjadi, ketika manusia melupakan tujuan kehidupannya. ketika manusia melupakan tujuan kehidupannya. Ketika ia terbawa oleh kisah-kisah penjahit yang melenakannya. Untuk itulah tasawuf ramai dikaji, seolah-olah hadir sebagai pengingat. Mirip orang kota dalam cerita Rumi. Ia barang lama. Sudah datang pengingat dan pendakwah, tapi kini ia dikemas dalam bentuk baru. Diberilah label “ilmu tasawuf”. 

Padahal, tasawuf adalah keislaman itu sendiri. Akarnya ada pada ajaran-ajaran Islam. Mengaji tasawuf berarti menilai ulang keislaman kita sendiri. Yang juga tak kalah pentingnya, dehumanisasi manusia terjadi karena manusia kehilangan cinta. Tasawuf adalah ilmu yang sepenuhnya didasarkan pada cinta, pada rahman dan rahim Allah Swt.***

Miftah Rakhmat adalah penulis buku Tasawuf for Beginners

Wed, 16 Jan 2019 @09:04

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved