BERBAGI BUKU

TULIS nama, alamat & HP/WhatsApp pada KONTAK

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

Twitter Kata Hikmah 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Alaihissalam untuk Imam Ali as (bagian 1) [by Muhammad Bhagas]

image

Kemarin di grup fiqih, ada member berinisial K (selanjutnya: Pak K) bertanya tentang landasan kita mengucapkan 'alaihissalam untuk Imam 'Ali bin Abi Thalib. Berbagai respon positif bermunculan, satu di antaranya menjawab dengan keterangan 'alaihissalam di Shahih al-Bukhari untuk Imam 'Ali bin Abi Thalib.

Bagi saya, jawaban tersebut sangat menopang. Namun, inilah permasalahannya, Pak K meminta jawaban dari al-Qur'an. Maka pada kesempatan ini saya akan berusaha menjawabnya. Bukan dengan pernyataan 'alaihissalam dari para ulama Sunni, tetapi menjawabnya dengan sensasi lain yaitu disiplin dan literatur keilmuan yang erat kaitannya dengan al-Qur'an.

Dalam al-Qur'an, tidak ada yang secara tersurat (atau secara tekstual) menyebut 'alaihissalam untuk Imam 'Ali bin Abi Thalib. Namun, sebutan 'alaihissalam untuk Imam 'Ali bin Abi Thalib didukung melalui pendalaman atas 'ulumul qur'an (ilmu-ilmu al-Qur'an), kitab-kitab tafsir, qira'at dan kitab-kitab hadits. Terserah saudara sepakat atau tidak, minimal ada dua argumen yang dapat diajukan:

Argumen Pertama: Tinjauan 'Ulumul Qur'an

Dalam literatur 'ulumul qur'an, kita menemukan cabang ilmu yang dinamai mahfum. Menurut al-Suyuthi di al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an, mafhum adalah makna yang ditunjukkan oleh suatu lafazh yang tidak didasarkan pada ucapannya (atau tidak didasarkan secara tersurat ayat). Dengan kata lain, mafhum adalah makna tersirat dibalik zhahir teks-teks al-Qur'an. Mahfum dibagi dua: 

a. Mafhum muwafaqah (مفهوم موافقة) 

b. Mahfum mukhalafah (مفهوم مخالفة) 

Yang dibahas kali ini mafhum jenis pertama: muwafaqah. Mahfum muwafaqah adalah makna tersirat yang dipahami sejalan dengan makna tersuratnya (sejalan dengan zhahir teks-teks ayat). Mafhum muwafaqah terbagi dua: 

a. Fahwa al-khithab (فحوى الخطاب) 

b. Lahn al-khithab (لحن الخطاب) 

Jawaban atas pertanyaan Pak K sangat terkait dengan jenis pertama: fahwa al-khithab. Fahwa al-khithab adalah makna tersirat yang dipahami hukumnya atau kadarnya lebih utama daripada makna tersuratnya (atau lebih utama daripada makna zhahir teks ayat).  

Apa contoh penerapannya? Berikut fahwa al-khithab memainkan perannya. Bagian akhir surah al-Isra' ayat 23: 

فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

Maka janganlah kamu ucapkan kepada keduanya “ah” dan jangan pula membentak keduanya, ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia. 

Secara tersurat (atau berdasarkan zhahir teksnya), ayat itu melarang kita mengucapkan “ah” kepada kedua orang tua. Yang menjadi pertanyaan: bagaimana kalau mencaci maki atau memukul keduanya? Bukankah tidak disebutkan dalam ayat itu? Jawabannya: mengucapkan “ah” saja tidak boleh, terlebih lagi mencaci maki atau memukul keduanya. Inilah jawaban berdasarkan kaidah fahwa al-khithab (makna tersirat yang dipahami hukumnya atau kadarnya lebih utama daripada makna tersuratnya). 

Sekarang kita terapkan fahwa al-khithab untuk menjawab pertanyaan Pak K. Awal surah Hud ayat 48: 

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلامٍ مِّنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِّمَّن مَّعَكَ 

Difirmankan: Wahai Nuh, turunlah dengan salam dan penuh keberkahan dari kami untukmu dan untuk umat-umat (yang beriman) dari kalangan orang-orang yang bersamamu. 

Secara tersurat (atau berdasarkan zhahir teksnya), ayat itu menunjukkan Allah SWT memberi kabar gembira berupa ucapan salam untuk Nabi Nuh as dan untuk umat-umat yang beriman yang mengikuti petunjuk Nabi Nuh as. Dengan kaidah fahwa al-khithab, kita memperoleh jawabannya: mengucapkan salam untuk umat Nabi Nuh as saja sangat dibolehkan, terlebih lagi mengucapkan salam untuk teladan yang derajatnya jauh lebih tinggi daripada umat Nabi Nuh as yakni Imam 'Ali bin Abi Thalib as. Menariknya, menemukan titik temunya pada sabda Nabi SAW: 

مثل أهل بيتي فيكم كمثل سفينة نوح في قوم نوح، من ركبها نجا ومن تخلف عنها هلك

 “Perumpamaan Ahlul Baitku bagi kalian laksana bahtera Nuh bagi kaumnya, barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan barangsiapa yang berpaling darinya akan celaka” (HR. Al-Thabrani di Mu'jam al-Ausath juz 4, halaman 10, no. 3478 dari Abu Dzar ra).

Al-Sakhawi menilai hasan (baik) hadits tersebut di al-Buldaniyyat halaman 187. Selain hadits jalur Abu Dzar, al-Sakhawi juga menilai hasan jalur-jalur lain sebab saling menguatkan (halaman 189). Bukankah tanpa bahtera banyak umat yang celaka saat itu? Peran Imam 'Ali as sebagai limpahan keselamatan cukup untuk meyakinkan amat tinggi derajatnya dibanding umat Nabi Nuh as. Dengan demikian, mengucapkan salam ('alaihissalam) untuk Imam as jauh lebih utama. 

Fahwa al-khithab juga berlaku atas surah al-An'am ayat 54, berikut: 

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ  

Dan apabila orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami datang kepadamu, maka ucapkanlah “salaam 'alaikum”. 

Secara tersurat (atau berdasarkan zhahir teksnya), diperintahkan mengucapkan salam kepada orang-orang yang beriman. Dengan kaidah fahwa al-khithab, kita memperoleh jawabannya: kepada orang-orang yang beriman pun kita diperintahkan mengucapkan salam, terlebih lagi mengucapkan salam untuk amirul mu'minin (pemimpin orang-orang yang beriman) yaitu Imam 'Ali bin Abi Thalib as. Apalagi Imam as tidak hanya sebagai orang yang beriman, ia juga berperan sebagai neraca keimanan itu sendiri. Dengan demikian, mengucapkan salam ('alaihissalam) untuk Imam as jauh lebih utama. (bersambung) 


PENULIS: Muhammad Bhagas adalah peminat kajian Sunni dan Syiah

Fri, 18 Jan 2019 @15:05

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved